Panjang Umur, Semangat Baik!

Editor saya di Football Tribe Indonesia, Isidorus Rio, pernah bilang bahwa budaya literasi di kota Jakarta berada di titik yang kelewat buruk. Ucapannya itu saya amini karena saya sendiri merasakan gajala tersebut. Anda sebenarnya juga, tetapi mungkin abai. Lihat situs-situs populer yang ada, kalau tidak dari Jogja, ya Bandung. Sebagai pengunjung Cak Tarno saya cukup tahu bagaimana oase literasinya begitu sepi dari kunjungan mahasiswa-mahasiswa strata satu.

Saya ingin menceritakan kisah tentang Revin Mangaloksa, kawan saya, yang perlahan menempa diri untuk menulis. Padahal anak ini dulu begitu jauh dengan dunia literasi. Ia lulusan STM dan menempuh kuliah di jurusan teknik. Trajektori hidupnya berputar haluan sehingga pindah ke jurusan sosiologi.

Revin, seperti saya dan Anda, berangkat dari ruang kosong dan ia berketetapan mengisi ruang kosong itu dengan menulis. Saya percaya bahwa semangat baik harus ditularkan. Jika saya tidak mengenal Dimas A.T. Permadi, mungkin saya takkan pernah menulis cerpen. Dimas meyakinkan saya bahwa fiksi juga bisa mengubah keadaan. Revin hadir dan ia konsisten mengisi ruang kosong itu dengan terus membaca, bertanya, menulis. Di tengah-tengah banalnya pergaulan Jakarta, tulis-menulis adalah kegiatan nomor buncit yang ingin ditekuni anak mudanya. Menyedihkan, tapi ini kenyataan.

Dahulu, ruang kosong yang saya punya saya isi dengan tulisan-tulisan soal musik, saya pelihara (meski dengan produktifitas yang payah), lalu merayap ke ranah-ranah lain seperti politik dan sepak bola. Cerita bisa dikembangkan ke arah mana pun dan kepada siapa pun. Saya beruntung dulu ibu saya mewajibkan saya membaca sebuah novel terbitan Balai Pustaka (Salah Asuhan karya Abdul Muis), jika ingin dibelikan komik.

Didikan ibu ini, saya sadari membentuk selera membaca saya di kemudian hari. Di pesantren, saya lumayan suka kunjungan wajib ke perpustakaan (sebulan sekali), di mana berkat kegiatan ini, saya terpekur menikmati Para Priyayi (Umar Kayam), Animal Farm (George Orwell), dan lain-lain. Selain olahraga, membaca adalah hiburan saya paling berharga karena di pesantren itu kami dilarang menggunakan perangkat elektronik.

Belasan tahun telah berlalu, saya bertemu dengan Revin, yang akhirnya turut ‘memelihara’ semangat tersebut. Mengapa ini harus dipelihara? Karena saya tahu banyak kawan-kawan yang berhenti menulis, padahal tulisan mereka bagus, karena terbentur oleh hal-hal klise seperti tanggung jawab atau rasa bosan.

Tidak semua orang yang saya ‘tulari’ semangat ini menjadi tergerak untuk menulis. Perbandingannya begitu jomplang antara yang mau mencoba dengan yang tidak. Mereka yang mulai mencoba banyak yang ambruk di tengah jalan. Menulis adalah pekerjaan yang sunyi di tengah-tengah riuhnya budaya internet 3.0 yang menghamba kuantitas like, followers, komentar, dsb.

Revin memiliki kegelisahan yang liar, dan ia mengaku pada saya bahwa untuk saat ini belum berani menulis esai (baik ilmiah mau pun populer). Gerak kepenulisan fiksinya, ia akui, harus menyentuh persoalan-persoalan sosial, tidak sekadar roman manusia yang individualistis.

Tak butuh waktu lama, cerpen Revin mulai menemukan pola. Diksi dan plotnya berkembang dan untuk orang yang ‘baru’ memulai, tulisan Revin mengutuh menjadi karya fiksi yang tidak lari dari kenyataan hidup. Di tengah-tengah meruyaknya karya fiksi picisan dari Bernard Batubara atau Tere Liye, gaya yang Revin pilih menyenangkan saya.

Saya pernah berada di satu mobil dengan Mas Danto (Sisir Tanah) dan Gufi. Sisir Tanah adalah solois folk bekas aktivis yang mengutarakan pesan-pesan perlawanan dengan nada-nada lembut. Kepada mereka saya bilang bahwa saya baru saja mengucapkan ‘panjang umur, perlawanan!’ kepada Mike vokalis Marjinal.

Selepas cerita itu saya utarakan, Gufi mencerocos, “Lho kalo begitu kamu [jargonmu]  apa, mas?”. “Hoo, kalo aku: panjang umur, semangat baik!” kata Mas Danto, dan kami pun tertawa di perjalanan pulang dari Pamulang menuju Jakarta.

Marjinal, Mas Danto, dan segenap penulis-penulis favorit saya telah menularkan semangat baik. Tetapi saya juga bersyukur diperkenankan tuhan untuk bertemu orang-orang seperti Revin, Dimas dan Rio. Saya teramat gampang kehilangan fokus dan orang-orang seperti mereka lah yang akan kembali menuntun, atau bila perlu ‘menempeleng’ saya.

Di bawah ini saya cantumkan cerpen terbaru dari Revin, yang saya sunting dengan hati tersenyum dan penuh rasa bangga.

“Gua dan Pelarian” — Revin Mangaloksa

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x