Kroasia Juara Tiga, Saya Juara Lima

Beberapa jam sebelum Luka Modric dan kawan-kawan merengkuh medali perunggu Piala Dunia 2022, saya lebih dulu dagdigdug. Bukan di stadion, tapi di Main Hall Kota Kasablanka, Jakarta. Bukan adu sepak bola, tapi kompetisi menulis.

Naskah feature saya dinobatkan dewan juri sebagai juara kelima dari enam finalis. Penggawe acaranya Harian Kompas dan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Temanya: Inspirasi Perempuan Indonesia.

Tulisan saya, “Ikhtiar Imas Darsih dalam Hela Napas Miss Tjitjih”, menceritakan kiprah Imas Darsih, perempuan 60 tahun sutradara teater Sunda Miss Tjitjih. Kelompok teater itu anomali, karena menyuguhkan sandiwara dengan bahasa yang tidak sepenuhnya dituturkan penduduk kota domisili mereka, Jakarta.

Saat saya wawancara, Imas sangat sering menuturkan betapa berhasratnya ia menemani Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih di ulang tahunnya yang ke-100, yang akan tiba enam tahun mendatang. Saya mengulik apa saja kendala yang ia hadapi selama bergiat di kesenian yang makin ditinggalkan gerak roda zaman ini.

Naskah saya berada di posisi hampir buncit tapi itu bukan masalah. Yang membesarkan hati saya: ia berhasil lolos penyaringan berkali-kali. Menurut ketua dewan juri ada sekitar 500 naskah kategori umum yang lolos seleksi administrasi. Sebelumnya ada 1000-an naskah yang masuk ke kantong panitia.

Maka naskah saya lolos setelah diperas berkali-kali, menjadi crème de la crème.

Saya suka menulis dan, sebagaimana semua penulis yang tangguh, saya suka–dan harus suka–berkompetisi. Medio 2017 – 2019, saya rutin “meneror” berbagai redaksi koran dengan cerpen-cerpen. Saya, yang saat itu dibuat takjub cerpen-cerpen Eka Kurniawan dan Puthut EA, amat berambisi mengukir nama menjadi cerpenis. Karya saya harus dimuat media. Kalau bukan Kompas, ya Tempo.

Saya bertungkus lumus di ranah kepenulisan sastra lumayan telat. Sebelumnya lebih terbiasa menciptakan karya tulis nonfiksi. Pertama menulis musik, lalu sepak bola, lalu sempat juga menyentuh analisis politik.

Nasib puluhan cerpen saya tertatih-tatih. Namun saya bersikeras bahwa “anak-anak rohani” saya itu harus terbit melalui proses kurasi. Tentunya oleh tangan-tangan kurator kredibel (baca: redaktur).

Cerpen pertama lolos diterbitkan Majalah Kartini. Lalu berturut-turut Pikiran Rakyat, Radar Surabaya, Detik, dan Lampung Post. Perjalanan berikutnya tentu tak mudah: kebanggaan semu harus disingkirkan sebab tujuan utama belum tercapai. Kompas akhirnya menerbitkan cerpen saya pada 19 Maret 2022, saat Covid-19 baru mengetuk pintu. Tiga tahun setelah cerpen pertama saya dimuat media massa.

Saya berharap penghargaan ini bisa jadi pengingat: menulis adalah cara saya menjaga kewarasan. Sarana saya untuk menepi dari ingar-bingar dan riuh-rendah kehidupan.

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x