Edward Said dan Perikemanusiaan Limited

sumber gambar

I

Meski tidak mengikuti hip-hop secara giat, aku — dan mungkin juga engkau yang mengalami masa puber di pertengahan 2000-an — pernah juga menyukai Eminem. Aku pernah membeli majalah Hai edisi khusus rapper Amerika tersebut sekira tahun 2003 atau 2004 di kios koran depan SD-ku. Aku agak lupa kapan persisnya, majalahnya pun hilang tak berbekas. Tapi ingatan tentangnya masih membekas.

Aku menyukai betul lagu “Stan” yang ia nyanyikan bersama penyanyi Inggris Dido (Dido, asal kau tahu, adalah perempuan bersuara lembut yang kebetulan seorang pendukung Arsenal). Lagu tersebut bagus di segala sisi. Dentuman basnya melodius, repetitif tapi tak membuatku mengantuk. Meski jatah Dido hanya di bagian reff — itu pun dari potongan lagu “Thank You” miliknya, bagian itu seperti mengontraskan kemarahan Eminem yang di lagu ini mewujud ke ‘suara’ seorang penggemar kelewat obsesif, Stan.

Sampai sekarang aku masih menganggap itu sebagai sesuatu yang benar-benar keren. Di bagian akhir barulah kita mendengar perwujudan suara Eminem, “the real Slim Shady” yang menjawab surat dari Stan dengan intonasi nada yang lembut menenangkan. Itu semua mengejawantah di klip video yang semakin menegaskan kemarahan Stan. Kau bisa lihat ia benar-benar muntab.

Stan menobatkan diri sebagai penggemar Eminem nomor wahid. Ia memangkas pendek dan memirang rambutnya. Stan juga mengenakan busana kedodoran dengan atasan putih sebagaimana yang sering dikenakan sang idola.

Sepanjang lagu, kecuali di bagian akhir, adalah muntahan isi surat dan rekaman kaset Stan kepada sang idola. Saking menjuranya kepada Eminem, ia tak memedulikan istrinya yang sedang hamil (yang dalam video diperankan oleh Dido). Elemen lain yang mempercantik adalah bunyi “tsk, tsk, tsk” yang menyiratkan suara gesekkan pensil di atas kertas.

Singkatnya, Stan cuma menjadikan rasa cintanya kepada Eminem sebagai bentuk eskapisme dari rutinitas hidup sesehari yang menghimpit. Kaset yang ia rekam dan sampai ke tangan Eminem ternyata merupakan pesan bunuh diri. Stan, bersama sang istri yang diikat di kap truk menerjunkan diri ke sungai setelah menenggak lima sloki vodka.

Kekaguman yang berubah menjadi obsesi akhirnya membutakan nurani Stan.

II

Rasa kagum di atas kiranya sama sebagaimana rasa yang dipunya Edward Said terhadap komplotan intelektual Perancis Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir dan Michel Foucault. Dua orang pertama adalah penggawa filsafat aliran eksistensialisme yang sungguh kesohor di periode ’60-an. Saking kesohornya, di dunia barat figur mereka tak ubahnya seperti selebriti sampai-sampai seorang John Lennon pun pernah menyebut istilah ‘eksistensialisme’ di suatu wawancara. Terkhusus Sartre, gaya hidup ugal-ugalannya tak kalah dengan para artis. Sementara Foucault memiliki reputasi yang tak kalah mentereng di arena filsafat lewat uraiannya tentang kekuasaan, pengetahuan, seksualitas, dan gender.

Lebih dari itu, tiga orang ini juga menjadi bagian dari sebuah pergolakan di Perancis, Revolusi 1968. Orang-orang seperti ini kita kenal dengan sebutan intelektual publik: bahwa akademisi haruslah partisan, berpihak kepada mereka yang mengalami ketidakadilan. Akademisi juga mesti turun ke jalan, atau paling tidak ‘bersuara’ bilamana rezim yang berkuasa dirasa tidak beres. Orang-orang Perancis ini kemudian turut menentukan sikap di kancah politik seperti di perkara penjajahan Perancis atas Aljazair (Bourdieu dan Derrida juga bersuara soal ini), atau bersimpati kepada Revolusi Kuba (Sartre dan de Beauvoir), dan Revolusi Iran (Foucault).

Umur Said terpaut jauh di bawah mereka. Umurnya dengan Sartre — yang tertua di antara tiga — terpaut tiga puluh tahun.  Said adalah warga AS keturunan Palestina. Tiba-tiba ia mendapat undangan konferensi dari ketiga orang ini yang tentu saja membuatnya terperanjat. Umurnya baru saja 44 dan buku yang membuat reputasinya masyhur, Orientalism (1978), baru setahun terbit.

Jika kau mengidolai Young Lex dan kemudian mendapati email darinya yang mengatakan bahwa kau diundang untuk menghabiskan waktu seharian bersamanya, reaksi apa yang kau buat selain memukul kepala berharap itu bukan mimpi? Seperti itulah rasa kaget yang dipunya Said.

Ia menulis, “pertamanya kupikir telegram itu lelucon. Itu sama seperti mendapat undangan dari Cosima dan Richard Wagner untuk datang ke Bayreuth, atau dari T.S. Eliot dan Virginia Woolf yang mengajakku untuk menghabiskan senja di kantor Dial.”

sumber gambar
sumber gambar

Faktanya itu bukan lelucon. Said tak perlu memukul kepala atau mencubit pipinya karena beberapa minggu kemudian ia benar-benar terbang ke Perancis untuk menemui ketiga orang itu. Namun pertemuan impian itu berubah menjadi pertemuan menyesakkan bagi Said. Stan mungkin hanya kecewa karena Eminem di suatu kesempatan pasca konser menyentuh tangannya pun tak mau, tetapi rasa yang tersisa dalam diri Said setelah pertemuan itu adalah murka. Apa yang membuat Said murka?

Palestina. Atau sikap mereka terhadap Palestina, lebih tepatnya.

Said, yang menjadi warga AS karena sang ayah mengabdi sebagai tentara kepada militer AS diundang untuk menghadiri konferensi yang membahas ihwal perdamaian di Timur Tengah. Pertemuan ini diadakan setelah berakhirnya perang antara Mesir dan Israel beberapa waktu sebelumnya.

Konferensi yang sejatinya diadakan di suatu gedung harus pindah karena alasan keamanan ke apartemen Foucault. Kagetlah Said saat mendapati de Beauvoir sedang berbicara menghujat cadar yang biasa dipakai perempuan muslim. Foucault pun, meski menjadi tuan rumah, langsung menyibukkan diri ke meja riset dan memang dikenal sebagai intelektual yang anti-Palestina. Makin muaklah ia saat melihat Sartre, yang datang terlambat, seperti tak ingin menyanggah kekasihnya itu — dan terkesan menghindar untuk berbicara dengan Said mengenai persoalan ini.

Said tak menyangka karena Sartre adalah pengkritik keras penjajahan Perancis atas Aljazair — negeri koloni yang juga mayoritas penduduknya muslim. Sikap Sartre terhadap Aljazair tidak terulang di penderitaan rakyat Palestina. Said yang gusar kemudian menulis,

“Aku cukup terguncang manakala kurasakan bahwa pahlawan intelektual ini telah merosot di tahun-tahun terakhirnya sehingga menjadi mentor yang reaksioner, dan kenyataan bahwa mengenai ihwal Palestina mantan petarung ini mewakili mereka yang terampas namun tidak menawarkan apa-apa kecuali yang paling biasa, pujian jurnalistik untuk pemimpin Mesir Anwar Sadat. Sisa hari Sartre habiskan dalam diam, dan konferensi berlangsung begitu saja. Aku ingat suatu kisah desas-desus yang mana dua puluh tahun silam Sartre pergi ke Roma untuk menemui Fanon (yang waktu itu sekarat karena leukemia) dan menceritakannya drama-drama Aljazair selama (konon) 16 jam non-stop, sampai Simone menyuruhnya berhenti. Hilang sudah Sartre yang itu.” 

Setahun setelah pertemuan tak mengenakkan itu, Sartre meninggal.

Tulisan Said yang kukutip di atas ia tulis di London Review of Books dua puluh tahun setelah kematian filsuf besar itu. Filsuf yang Said nilai telah melukai seluruh hati orang Arab, kecuali mungkin Arab Aljazair.

III

Aku menulis ini karena sedang membaca kembali Hoakiau di Indonesia  (1998) yang dikarang Pram, serta hal-hal yang menggangguku di hari-hari belakangan. Mengapa perikemanusiaan kita adalah perikemanusiaan yang limited, yang selektif dalam berpihak? Bukankah setiap tragedi adalah belang terhadap kemanusiaan itu sendiri? Dan pertanyaan-pertanyaan itu juga berlaku untuk Sartre, de Beauvoir serta Foucault.

Aku melihat orang-orang bersemangat meneriakkan kebebasan bagi Palestina, tetapi menutup mata terhadap kekejaman negara terhadap orang-orang Papua. Ketahuilah, ketidakadilan seringkali terjadi di depan mata. Kita tak ubahnya seperti semut yang hanya mampu melihat hal-hal kecil tanpa mampu melihat persoalan-persoalan yang lebih substansial.

Tak jauh, di Mampang sana (tepatnya di kompleks Zeni), militer dengan keji memorakporandakan perkampungan warga sehingga membuat kehidupan mereka yang tergusur lungkrah dan boyak. Aku rasai itu ketika aku berkunjung ke kamar kos kawan mengopiku di Jogja, si Khomsi yang kini bekerja di Jakarta. Kamar kosnya hanya berjarak selemparan batu dengan kompleks perumahan tersebut. Tempat itu tak ubahnya sedang mengalami darurat militer. Banyak pria berseragam berjaga-jaga dengan tatapan menyiksa. Di salah satu berita yang kubaca, aparat gabungan bahkan mengerahkan hingga dua ribu personel saat mengusir para pemukim.

Persoalan tanah, persoalan yang kini begitu sering menghantui kita. Warga mengaku telah menempati kawasan tersebut sejak lima puluh tahun silam. Mereka merasa memiliki legitimasi untuk tetap tinggal di rumah mereka, sebagaimana yang diyakini warga Bukit Duri, Pasar Ikan, Luar Batang, dan Kampung Pulo (jika dilengkapi untuk di Jakarta saja, terlalu banyak tempat-tempat yang harus kusebut!).

Geruh tak berbunyi, malang tak berbau. Keputusan dari penguasa adalah fait accompli sehingga rakyat tergusur seperti mendapat vonis kanker dari dokter dan kini hidup tinggal bagaimana mengganjal lapar dan menunggu ajal. Tidak bisa kau ganggu gugat.

Lalu mengapa ini semua aku bawa terlalu jauh, kau tanya begitu? Atau bila Said begitu gigih membela Palestina, mengapa aku seperti mengerdilkannya?

Sederhana saja. Engkau bukan Said. Engkau bukanlah intelektual publik seperti Said, Sartre, de Beauvoir, atau Foucault. Selantang apapun kau berteriak menentang opresi Israel di Gaza, paling-paling hanya membuat suaramu serak dan kerongkonganmu tersekat.

Selain itu Said adalah akademisi yang menempati posisi terhormat di salah satu kampus besar di Amerika, negara yang boleh dibilang punya kuasa atas persoalan di Palestina. Ditambah reputasinya sebagai salah satu teoretikus penting studi poskolonialisme, yang Said perbuat memang sudah sepantasnya. Ia pernah secara simbolis menentang opresi Israel dengan melempar batu ke arah perbatasan Israel dari posisinya kala itu, Lebanon.

Ia, juga orang-orang seperti Spivak dan Fanon telah berhasil membongkar perspektif deterministik barat terhadap negara-negara bekas jajahan. Bahwa timur tak melulu eksotis dan terbelakang. Sayangnya, kaum intelektual negara kita kita lebih banyak dibikin sibuk ‘proyek’ penelitian atau menunggang kepentingan politik praktis, bukan membela kepentingan publik.

Aku kembali teringat akan peristiwa yang menggoncang hari-hari terakhir 2016, yakni aksi bela Islam yang kupikir bersudutpandang sempit dan sesuatu yang sia-sia belaka. Aku bilang begini bukan berarti aku membenarkan komentar Ahok yang membikin kisruh itu, atau menyukai kepemimpinannya atas Jakarta. Maksudku, mengapa yang diserang bukan hal yang lebih penting, seperti kebijakan penggusuran Ahok yang kian merajalela?

Pernah aku berdebat dengan seorang kawan. Posisiku waktu itu adalah sebagai orang yang berpendapat bahwa kolom agama di KTP tidaklah penting. Setelah sekira 1.5 jam kami berdebat, aku dengan gampang bertanya padanya, “Kalau kau melamar pekerjaan, apa fungsi kolom agama di KTP? Kalau kau mengalami kecelakaan parah di jalan, dan orang-orang tak mengenali identitasmu, apa yang pertama kali mereka lihat di KTP-mu?”

Kegusaran ini datang dariku yang kebetulan beragama Islam karena bapakku Islam. Aku tidak pernah disodorkan pilihan oleh orangtua tentang agama apa yang mau aku anut. Ini semata gusar karena kita kerap bias terhadap penindasan yang ada. Pun juga, bukankah Said seorang sekular? Bukankah Pram di buku tersebut membela dengan gigih orang Cina Indonesia tanpa perlu mengalir darah Cina dalam nadinya?

Dalam buku yang begitu dibenci milter tersebut, ada satu kalimat yang ditulis Pram yang kupikir merupakan suatu cita-cita yang semakin hari semakin sulit terwujud (melihat rentetan peristiwa degil yang kita temui sehari-hari):

“Bahwa Pancasila mengandung sila perikemanusiaan, aku kira memang bukan suatu hasil pencak-silat, tetapi memang suatu akibat daripada pemikiran yang lama dan mendalam. Dan aku yakin, perikemanusiaan sebagai salah satu sila di atas mana Negara RI berdiri, tidak akan dikhianati, tidak akan dikerutkan format dan isinya sampai bertaraf limited, atau semacam sosialisme yang nasionalistis sakit seperti halnya dengan Nazi di Jerman.” (1998: 51).

Kita terlalu sibuk menghayati sila pertama, sehingga kita lupa bahwa kata “adil” disebut dua kali, yakni di sila kedua dan kelima. Susah memang, bersikap adil. Setidaknya dalam pikiran, cobalah pikirkan dengan masak, timbang-timbang dengan nuranimu bila suatu persoalan menyangkut orang banyak. Terutama yang menyangkut agama, ingatlah bahwa sebagian besar dari kita beragama anu karena mengikuti orangtua, bukan atas kehendak kita sendiri. Atau, alih-alih menghayati sila pertama, orang-orang justru terobsesi dengan agama sebagaimana obsesi Stan pada Eminem yang kemudian membutakan nuraninya?

Selamat tahun baru 2017!

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x