Desember 2015 Desember yang Asu

 

tulisan lama, kutulis bulan ini setahun yang lalu

Ini bukan obituari, ini hanya tumpahan penyesalan dan kesedihan yang terpendam. Bahwa kehilanganmu menjadikan Desember ini Desember yang asu. Kehilangan, tidak pernah sesakit ini. Tulisan menye-menye ini untukmu, Gus. (Meski aku tahu melankolia bukan sesuatu yang kamu suka).

Jika orang-orang mengajaknya berbicara saja segan, saya heran. Karena pengalaman yang saya punya tidak seperti itu. Bagus Jalang, dengan reputasinya sebagai vokalis band powerviolence Mortal Combat dan co-founder netlabel Yesnowave, justru yang pertama kali menegur saya di warung kopi Ningratri di jalan Kaliurang. Sebabnya sepele betul. Saya memakai kaos the Smiths dan dia, sambil tersenyum berseloroh, “kaosmu apik e.”

Pertemanan kami lalu berlanjut jauh karena dua hal tadi, kopi dan musik. Bagus bagi saya adalah seorang intelek. Meski dia bukan sarjana ilmu sosial atau seni murni, topik perbincangannya luas. Pemilihan kata saat ia berbicara mengesankan kecerdasan, bukan snobbery. Dan (ini yang terpenting), Bagus punya bakat mendengarkan omongan orang dengan baik. Ia tekun menyimak, tahu kapan waktunya memotong dan mendebat omongan kita. Ia perhatian pada teman. Referensi musiknya banyak dan mendalam. Tak heran jika ia fasih membicarakan rock & roll purba, HC/punk, metal, post-punk, psych/garage rock, sampai indies 90-an. Ia punya sensibilitas dalam memandang realita kehidupan yg lain selain musik, mulai seni rupa, fashion, estetika/etika hidup, hingga kuliner.

Petualangan saya di Jogja, bisa dibilang selalu didukungnya. Bagus-lah yang begitu bersemangat saat saya dan Ical menulis fanzine indiepop Lightningsheets. Bagus-lah yang pertama kali mengajak saya ngeband dengan mengambil inspirasi dari The Jesus & Mary Chain (meski hal ini tak pernah terwujud). Bagus-lah yg memperkenalkan saya pada asyiknya mengoleksi rilisan fisik (ia memiliki fetish unik terhadap koleksi rekaman fisiknya).

Bagus juga orang yang mendukung saya saat saya siaran pertama kali di Outerbeat Eltira FM dengan turut hadir di stasiun radio. Padahal saya tidak mengundangnya. Ia datang, menurut saya, murni karena itu cara dia dalam mendukung kawan. Tidak bombastis, tidak dengan sorak sorai. Bagus adalah pengkritik dan salah satu pendukung utama Kapsul. Band seumur jagung itu. Band kandas yang berlagak pengen jadi cult, kata dia. Bagus datang di panggung pertama Kapsul (cuma sekali Bagus tidak hadir di gig Kapsul). Sementara sebab keegoisan saya, saya tidak pernah menyaksikannya manggung bersama Mortal Combat. (Kecuali di petualangan terakhir bermusiknya bersama Divisi Utama, itupun cuma sekali).

Bagus-lah orang yang menyadarkan saya bahwa musik bisa seserius itu, dan dogma agama atau sengkarut politik bisa sebercanda itu. Banyak sekali kenangan tentangnya yang tidak akan cukup dituangkan hanya dalam tulisan. Ia “membentuk” saya.

Berkat cara bergaulnya yang sederhana namun tulus itu, kenangan tentang Bagus hidup di benak masing-masing orang yang mengenalnya. Oh iya, jangan lupakan keseriusannya dalam berdandan. Necis, rapi dan elegan. Menjadi pemberontak harus tetap memerhatikan penampilan.

Tak menyangka, di RRRec Fest #5 kemarin (6/12), Bagus Jalang ada di tengah kerumunan penonton. Khidmat menikmati penampilan Indische Party. Saat saya dan kawan-kawan lain (tim rembol Kongsi Jahat hampir komplit malam itu) masih menikmati suasana malam di Menteng, Bagus pamit pulang duluan, sambil menghardik saya untuk secepatnya “pulang” lagi ke Jogja. Agar chat tentang musik bisa dituntaskan dalam obrolan warung kopi seperti dahulu kala. Hangat penuh canda.

Ternyata itu pamitanmu yang terakhir, Gus.

Betapa Desember 2015 adalah Desember yang asu. Dadaku sesak, hidungku tersekat. Menangisi kepergianmu untuk selama-lamanya dari hidupku, hidup kawan-kawan, hidup kita. Pesan terakhirmu agar aku terus menulis akan aku rawat hingga akhir hayat. Yang aku tahu, takkan ada lagi orang yang menegur, ‘sekarang lagi dengerin musik apa, hvy?’ dengan intensitas dan kualitas sebaik yang kamu lakukan.

Sampe ketemu, hvy! I’m (still) waiting for my man.

https://youtu.be/hugY9CwhfzE

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x