Fajar Martha menulis fiksi dan nonfiksi. Mulai nekat menyebarkan tulisannya ke publik pada 2009, melalui fanzine indiepop Lightning Sheets yang ia bidani dengan seorang kawan. Fanzine fotokopian itu lahir dengan selamat walau tak cukup sehat: Ia mampus di edisi ketiga.

Tahun demi tahun terbuang dan manusia kelahiran Jakarta–yang sempat tumbuh di Ponorogo dan Jogja–ini masih saja menulis. Dan ia menulis tentang apa saja: sepak bola, politik, budaya populer, hingga sastra. Cerpen-cerpennya tayang di beberapa media massa seperti Kompas, Pikiran Rakyat, Jakarta Beat, Detik, dll.

Meraih sejumlah penghargaan di ranah kepenulisan, apresiasi terakhir yang ia peroleh adalah saat terpilih sebagai satu dari 10 karya terbaik Sayembara Menulis Kritik Film oleh Dewan Kesenian Jakarta pada Juli 2023.

Terkini, tulisan-tulisannya dapat dijumpai di Mojok dan kumparanPLUS.