Mencuri Raden Saleh: Semua Salah Bapak dan Film sebagai Etalase Iklan

Diklaim sebagai film heist Indonesia pertama, Mencuri Raden Saleh menunaikan tugasnya sebagai film popcorn. Film karya sutradara Angga Dwimas Sasongko ini menebus dahaga penonton akan tontonan bermutu pasca pandemi. Bahkan saat esai ini ditulis (Mei 2023), Mencuri Raden Saleh masih menjadi salah satu film populer di Netflix Indonesia.

Genre heist adalah tema klasik yang tak lekang oleh zaman. Genre ini mencerminkan hasrat manusia untuk bebas dari kekangan hidup, terutama masalah keuangan, dengan cara menerabas hambatan keamanan dan hukum. Kombinasi aksi nekat dan nasib mujur membuat penonton mengelu-elukan para begundal. Saat menonton film heist, penonton berekspektasi menyaksikan kesuksesan para pencuri.

Kita menginginkan para pelaku sukses karena tahu persis hal itu sulit terjadi di dunia nyata. Mencuri Raden Saleh berhasil memenuhi ekspektasi dan hasrat manusiawi itu. Disusul dengan kesuksesan The Big 4 (Timo Tjahjanto), katalog film action comedy Indonesia tampaknya semakin semarak saja. Walakin, dengan kegemilangan di faktor jumlah penonton dan popularitas, bukan berarti film ini tanpa masalah.

Dua resep klasik genre heist

Piko (Iqbaal Ramadhan) seorang mahasiswa seni rupa tingkat akhir. Bersama Ucup (Angga Yunanda) yang punya kemampuan meretas, ia terlibat di dunia pemalsuan lukisan. Di ranah gelap ini mereka berkomplot dengan Dini (Atiqah Hasiholan), seorang kurator-cum-makelar lukisan.

Sehari-hari Piko hidup sebatang kara sebab ayahnya, Budiman (Dwi Sasono), mendekam di penjara dan sang ibu telah meninggal sejak ia kecil. Di sisi lain ada Sarah (Aghniny Haque), kekasihnya, mahasiswa yang juga atlet beladiri. Sarah tinggal berdua dengan neneknya di rumah dinas yang masa pakainya tersisa setahun. Lulus seleksi PON adalah kunci bagi Sarah untuk menafkahi hidup.

Dalam Mencuri Raden Saleh, komplotan pencuri beraksi untuk memenuhi permintaan bekas presiden Permadi (Tio Pakusadewo). Piko dan Ucup awalnya ditugasi untuk memalsukan Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857) karya Raden Saleh, dengan upah sebesar 2 miliar rupiah. Kebetulan, nominal tersebut adalah angka yang dibutuhkan untuk membawa kasus Budiman ke tingkat kasasi.

Saat bertransaksi, Permadi malah memberi tantangan kepada Piko dan Ucup untuk menukar lukisan asli dengan yang palsu. Ia menjanjikan imbalan berkali lipat dari tarif replikasi lukisan, menjadi 17 miliar rupiah.

Piko dan Ucup jelas menolak. Tugas tersebut terlampau mustahil. Namun, mantan presiden tetaplah mantan presiden. Kekuasaannya masih menancap walau tak lagi menjabat. Permadi menjadikan ayah Piko sebagai sandra, membuat Piko dan Ucup bak berada di pinggir tebing.

Mencuri Raden Saleh mengikuti jejak pembuat film heist kawakan seperti Steven Soderbergh dan Guy Ritchie pada dua segi. Pertama, protagonis utama didampingi tokoh-tokoh dengan kemampuan yang saling melengkapi. Ada Gofar (Umay Shahab) dan Tuktuk (Ari Irham), dua bersaudara beda ibu yang bekerja sebagai montir. Gofar adalah sosok MacGyver dalam tim. Tuktuk, adiknya, adalah supir andal yang hobi kebut-kebutan di trek balap liar. Keping terakhir adalah Fella (Rachel Amanda), si cerdik dengan latar belakang keluarga kaya.

Kedua, struktur cerita bersandar pada kilas balik dan fast cut eksesif. Wajar, mengingat sutradara memiliki beban untuk menyederhanakan plot dan mempersingkat durasi. Strateginya adalah meleburkan perencanaan dan tindakan pencurian secara tumpang tindih. Tetapi, mengingat luar biasa populernya trilogi Ocean’s, saya berkhayal apakah ada cara lain untuk menarasikan cerita. Apalagi ilustrasi musiknya pun seperti carbon copy racikan David Holmes di trilogi tersebut.

Semua salah bapak

Aksi pencurian berbelok menjadi pembalasan dendam kepada Permadi. Dilema moral dibuat pelik. Segala cara dimungkinkan untuk menyasar tujuan. Contohnya Piko yang harus merelakan Sarah menjadi umpan. Permadi memiliki putra bernama Rama yang terkenal playboy. Berada di dekat Rama memudahkan Sarah menyusup ke lingkaran dalam Permadi.

Dilema yang lain adalah saat Piko mengetahui perjuangannya sia-sia setelah peran Budiman tersingkap: sang ayah berada di pihak Permadi.

Pengkhianatan adalah bumbu yang lazim ditabur di film heist. Ia menyedapkan sajian sehingga sesuatu yang mustahil tampak mungkin. Contohnya Ant-Man (Peyton Reed), film Marvel dengan plot heist. Tokoh Darren Cross mengkhianati tujuan luhur alat canggih buatan Dr. Hank Pym. Hope, puteri Dr. Hank, awalnya berada di pihak Darren. Mengetahui bahaya rencana Darren, ia pun berbalik mengkhianatinya lalu bahu-membahu bersama sang ayah dan Scott Lang/Ant-Man untuk mengalahkan Darren.

Sayangnya, aksi Budiman membantu Permadi terkesan dipaksakan. Ketika ia kabur dari penjara, Budiman ditelepon pengacara yang memperingati bahwa ia cuma punya waktu dua hari untuk menghapus jejak. Namun, ia justru mengamankan kediaman Permadi, seolah-olah sang mantan presiden tahu akan ada yang mencuri lukisan Raden Saleh.

Ketika perannya diungkap Piko dan Ucup, Budiman berkilah bahwa tindakan itu menjadi satu-satunya cara. Bahwa Permadi juga menjebak Piko dan dirinya. Jika memang ada tugas tambahan dari Permadi, adegan telepon Budiman dan pengacara seharusnya tidak ada. Alangkah mubazirnya.

Patut diakui, adegan kejar-kejaran mobil dan baku hantam di bawah derasnya hujan tersaji dengan menegangkan dan memikat. Keterampilan filmmakers dalam menyajikan adegan ini sedikit menghapus kejanggalan motif Budiman tersebut.

Mungkin pengkhianatan Budiman dan sosok misterius pembantu Sarah di pesta dirasa menjadi bahan yang cukup untuk mengembangkan Mencuri Raden Saleh menjadi waralaba lainnya (seperti Filosofi Kopi atau Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini/NKCTHI). Tetapi, Angga tampak kehabisan ide untuk membakar motif tokoh-tokohnya.

Kekhasan naratif film-film Angga adalah pemberontakan anak terhadap orang tua, terutama bapak. Pemberontakan mereka adalah pemberontakan yang tanggung, yang biasanya dilakukan remaja. Sayangnya, sebagian besar tokoh di filmnya berusia menjelang dewasa atau dewasa. Pemberontakan mereka terkesan remeh, dengan konsekuensi yang mentah. Sikap mereka itu lebih pantas disebut ketidakpuasan.

Contoh paling segar dari ketidakpuasan ini dicerminkan tokoh-tokoh utama NKCTHI: Angkasa, Aurora dan Awan. Dibesarkan di lingkungan kelas menengah Jakarta yang diberkahi fasilitas serbalengkap, kakak-beradik itu menyimpan ketidakpuasan akan “kekangan” sang bapak—yang lantas menjadi bahan bakar cerita dan plot film.

Ben dalam Filosofi Kopi (2015) pun serupa. Ben kecil, yang amat menggilai kopi, merasa sedih mengapa sang bapak memarahinya habis-habisan saat ia meracik kopi. Penyebabnya: perbuatan jahat perusahaan sawit yang memaksa petani kopi seperti bapaknya untuk menjual lahan. Konflik dengan perusahaan sawit pun disiratkan sebagai penyebab tewasnya ibu Ben di kebun. Penonton digiring untuk berpikir bahwa konflik dengan bapaknya inilah yang membuat Ben hijrah dari Lampung ke Jakarta.

Malang sekaligus fatal, konflik dengan perusahaan itu mengacak-acak realitas: kelapa sawit tumbuh di dataran rendah (200-500 m dari permukaan laut) sementara kopi dan penggambaran lokasi kampung Ben berada di pegunungan. Motif dan cerita latar tokoh-tokoh Angga dibangun di atas fondasi logika yang keropos.

Pencurian lukisan dalam Mencuri Raden Saleh tidak akan pernah terjadi seandainya Budiman tidak dipenjara. Piko mungkin tak perlu mencari sampingan sebagai pemalsu lukisan. Walaupun sang ayah dipenjara, Piko masih memiliki jaring pengaman karena masih memiliki lahan produktif (yang disewa ayah Gofar dan Tuktuk untuk usaha bengkel).

Jika Angkasa dan Ben sekadar dirintangi masalah komunikasi dengan ayah-ayah mereka, di Mencuri Raden Saleh tokoh Budiman ditampilkan sebagai ayah yang plin-plan. Tidak ada gambaran meyakinkan perihal motif yang mendasari tindakan Budiman mengamankan lukisan. Kesalahan Budiman yang membuatnya dipenjara bukanlah perkara politik. Ia tak berutang sepeser pun pada Permadi.

Konflik bapak-anak dalam film bukanlah sesuatu yang haram untuk dipertontonkan. Tengok Banyu Biru (Teddy Soeriaatmadja) atau Cek Toko Sebelah (Ernest Prakasa). Dengan naskah dan akting yang kuat, konflik bapak-anak bisa menjadi modal bagi film genre apa pun untuk meyakinkan audiensnya.

Konflik bapak-anak di film-film Angga terasa ditaruh sekenanya, seperti cara dia menempelkan komentar sosial-politik. Alih-alih mengesankan kompleksitas motif dan tindakan para tokoh, persoalan sosial-politik dipaksa untuk tampil, berebut menjejali benak penonton.

Fella (Rachel Amanda), Tuktuk (Ari Irham), Ucup (Angga Yunanda), Sarah (Aghniny Haque), Piko (Iqbaal Ramadhan), dan Gofar (Umay Shahab).

Penyempalan produk yang kebablasan

Selain ketidakpuasan terhadap bapak, tema khas kekaryaan Angga yang lain juga hadir di film ini, seperti camaraderie (atau bromance?) antartokoh laki-laki dan dialog-dialog filosofis setengah menggurui. Tetapi, yang paling mencolok adalah peran sekunder Angga sebagai penjaja produk.

Ekspresi dan representasi filmis karya-karya Angga adalah akumulasi kapital: bagaimana film menjadi wahana bagi sang sutradara untuk mendulang laba. Angga terbiasa melebur-benamkan aneka ragam produk ke dalam film-filmnya, yang, sayangnya, tampak memaksa dan brutal. Filmnya bak etalase.

Pola ini telah ia mulai sejak Filosofi Kopi sehingga menjadi hal yang selalu saya antisipasi kala menonton karya-karyanya. Dalam Filosofi Kopi, tokoh Jody seperti tak lepas dari tablet Lenovo. Di sekuelnya, tokoh Tara menyinggung kemudahan pembayaran layanan Gojek dengan menggunakan Gopay. Dalam Bukaan 8, jelas terlihat dari berbagai aspek bagaimana film digunakan untuk menciptakan kesan positif untuk Rumah Sakit Siloam.

Mari kita hitung produk apa saja yang Angga tampilkan di film ini: Pintu, Free Fire, Fullo dan Blibli. Penyempakan produk bahkan telah tampil ketika film belum berjalan sepuluh menit, ketika Ucup bercengkerama dengan tokoh sembarang yang tak jelas peran dan kepentingannya. Ucup menyuruh lawan bicara untuk melakukan transfer uang kripto via aplikasi Pintu, mengesankannya sebagai suatu hal yang mudah dilakukan.

Adegan tersebut menjadi pemborosan karena Ucup bisa saja membincangkan hal yang lebih signifikan seperti perihal dunia retas-meretas. Sial bagi penonton: kehadiran adegan tersebut tidak berpengaruh apa-apa terhadap karakter atau plot. Tak cukup menempatkan produk dalam frame (screen placement), Angga membebani aktor-aktornya dengan dialog (script placement) dan ekspresi wajah yang memberi kesan positif terhadap produk-produk itu.

Free Fire menempati posisi cukup intens dalam film. Selain sering dimainkan Ucup dan tampil di videotron pinggir jalan, komplotan pencuri lukisan juga menyelinap ke perusahaan logistik dengan strategi yang terinspirasi skema permainan gim itu. Konyolnya, jika tidak ada faktor Sarah yang jago kelahi dan sistem keamanan perusahaan yang rapuh, rencana mereka akan buyar begitu saja.

Jangan-jangan, nama Fella sengaja dibuat untuk menjadi identik dengan Fullo? Dalam film, Fella-lah yang pertama kali terlihat mengunyah camilan tersebut. Selanjutnya dinikmati Gofar saat dia mengerjakan mesin “canggih” yang, serupa skema Free Fire, gagal bekerja sesuai harapan.

Penempatan produk dalam film sudah setua sejarah film itu sendiri. Para pelopor, Lumière bersaudara, melakukannya dalam Washing Day in Switzerland pada 1896. Namun, apabila penyempalan produk semengganggu contoh-contoh di atas, apalagi jika dianggap norma filmmaking Indonesia era ini, jelas kita patut waspada.

Elemen-elemen profilmic ada untuk menciptakan efek dramatis tertentu kepada penonton. Apa yang hadir di benak penonton saat mereka terpapar produk-produk titipan sponsor? Apa pengaruhnya bagi alur cerita atau perkembangan karakter?

Sebagai tinjauan alternatif, cara berbeda dilakukan Benni Setiawan yang menampilkan riwayat hidup tokoh nyata dalam Love & Faith. Film ini menceritakan jatuh-bangun seorang konglomerat bank. Nama bank pimpinannya baru muncul di epilog. Persepsi dan mood penonton tentu akan berbeda jika Bank NISP tampil dalam penceritaan.

Di sisi lain, simak cara Angga “mempromosikan” rumah sakit swasta dalam Bukaan 8. Selain kerap disebut tokoh-tokohnya, logo Siloam dipandang lekat-lekat—diiringi musik luar biasa dramatis dan shot lambat—oleh tokoh Alam saat melakukan satu tindakan kunci dalam film.

Sekali lagi saya tekankan, penempatan produk bukanlah hal tabu. Apalagi, film sekolosal Mencuri Raden Saleh tentu membutuhkan ongkos selangit. Di titik inilah ambisi sutradara (juga produser dan rumah produksi) dinegosiasi. Kita toh tahu belaka mengenai film-film “pesanan” yang menggadaikan aspirasi artistik seorang sineas.

Joko Anwar, sutradara yang berhasil menyeimbangkan derajat artistik (termasuk ambisi personal) dan kesuksesan komersial pun masih mencari receh di film-film pesanan. Tengok saja film-film pendek yang ia buat seperti Durable Love dan Fresh to Move On. Yang pertama disponsori Acer, yang kedua oleh CloseUp. Pula naskah-naskah film komedi ringan yang ia tulis untuk sutradara lain.

Posisi film dalam bazar budaya visual

Kala menonton Mencuri Raden Saleh, penonton akan dijejali banyak camilan. Camilan masa kini, anda tahu, masuk dalam kategori ultra processed food yang dipenuhi gula dan bahan kimia berbahaya. Apa yang ingin Angga utarakan melalui filmnya jika jumlah camilan justru melebihi menu utama?

Pun motif penggerak tindakan dan pikiran para tokoh yang mengulang rumus usang (konflik bapak-anak). Walau mengasyikkan di beberapa adegan laga, motif komplotan pencuri lukisan tidak benar-benar kuat. Sosok yang mereka lawan adalah mantan presiden dengan kuku kekuasaan yang masih menancap dalam.

Penampakan produk/merek dalam film bisa dieksekusi dengan motif lain. Tengok saja cara Edward Yang menampilkan baliho raksasa Fujifilm dan beberapa perusahaan Jepang lain dalam Taipei Story (1985). Baliho tersebut tak menjadi latar“bisu” saat tokoh-tokohnya membincangkan kegelisahan. Baliho dengan lampu neon berkilau tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan Taiwan di era 1980an menghadirkan ambivalensi tersendiri. Negara mereka tak bisa lepas dari pengaruh politik dan ekonomi Jepang.

Atau bandingkan juga dengan Quentin Tarantino yang gemar menciptakan produk-produk fiktif seperti Big Kahuna Burger dan rokok Red Apple. Melalui produk-produk itu, Tarantino menjalankan perannya sebagai pendongeng yang kreatif nan mengesankan. Penonton merasa asyik dalam semesta sinemanya.

Memang, kita agaknya sulit untuk menghindari bazar budaya visual. Ini adalah kehidupan di mana di dalamnya terdapat stan-stan produk visual seperti baliho, video, infografis, hingga meme. Mereka secara simultan dan intens menjadi realitas sehari-hari. Politik elektoral dan perasaan remaja bau kencur bisa berbaur dalam sajian budaya pop di alam digital.

Yang berlaku dalam bazar adalah logika untung-rugi. Seniman atau content creator yang baru tampil sekian menit, tetapi mencuri perhatian publik, niscaya segera disergap tawaran promosi produk. Di bazar inilah film-film Angga menonjol, sebuah semesta di mana kedalaman rasa-rasanya tak terlalu dibutuhkan.

Mencuri Raden Saleh | 2022 | Durasi: 154 menit | Sutradara: Angga Dwimas Sasongko | Penulis: Angga Dwimas Sasongko, Husein M. Atmodjo | Sinematografer: Bagoes Tresna Adji Produksi: Visinema Pictures, Jagartha, Blibli, Astro Shaw | Pemeran: Iqbaal Ramadhan, Angga Yunanda, Rachel Amanda, Umay Shahab, Aghniny Haque, Ari Irham | Medium Menonton: Netflix

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x