Musik dan Perjalanan

Dalam satu bulan terakhir, aku kembali menemui kawan-kawan lamaku. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya banyak menghiasi masa tumbuh kembang. Mereka berada di fase penting, yang aku pikir jarang dialami orang-orang kebanyakan. Mereka adalah kawan-kawan selama nyantri di Gontor.

Awalnya, hubungan itu kembali terjalin setelah Ade menyambangi rumahku, mengabarkan bahwa klub basket kami, Venus Saturnus, akan melangsungkan reuni akbar perdana. Singkat cerita, reuni akbar itu jadi terlaksana. Betapa bahagia aku bisa bertemu kembali dengan kakak-kakak senior yang dulu pernah galak mengajariku dribble, dribble sambil berlari, passing, kombinasi passinglay-up, jump-shoot, 3-point shoot. Tapi tidak hanya itu! Karena lingkup kami adalah pesantren, basket akhirnya menjadi nomor dua, setelah persaudaraan dan upaya saling menguatkan sebagai orang yang sama-sama jauh dari keluarga.

Aku bisa bertemu lagi dengan Radit, Kumis, Engkong, Mulyanto, banyak! Nama terakhir pernah membuat jari manisku patah karena latihan passing-nya begitu berat. Kami pernah diharuskan latihan passing dengan menggunakan bola yang diisi pasir. Jika kau melihat jari manis tangan kananku, terlihat bahwa bentuknya aneh dan bengkok ke kanan.

Dari Ade, mungkin Rome mengetahui bahwa aku ternyata bisa ‘dijangkau’, dan ia pun menghubungiku. Sebenarnya bukan bermaksud memutus tali silaturahim, tetapi aku punya alasan mengapa aku seperti menjauh dari teman-teman Gontor. Dan alasan itu hanya Rome yang tahu. Ia salah satu sahabat terbaikku. Banyak hal-hal yang kupelajari dari dia (umurnya lebih tua dua tahun). Banyak pula peristiwa nakal yang kami lakukan bersama waktu masih menjadi santri. Aku mengaguminya karena main basketnya jago, meski klub kami berbeda. Kami bisa saling kenal karena duduk di kelas yang sama di kelas 5 (setingkat kelas 2 SMA).

Rome telat masuk Gontor. Ia sudah duduk di bangku SMA saat bapaknya ‘menjebaknya’, dan memasukkannya di pesantren ini. Karena hal itulah dia lebih mengetahui hal-hal yang aku belum ketahui. Ia piawai pula main gitar (aku sering minta diajari memainkan lagu-lagu Beatles). Rome juga punya worldview yang kurang lebih sama denganku, bahkan sampai saat ini setelah sekian tahun kami berpisah.

Pada suatu malam, aku diminta untuk datang ke apartemennya d Kalibata, sekadar untuk ngopi-ngopi. Awalnya ia lebih ingin ngopi di rumahku. Suasananya enak, kata dia. Rencana itu harus batal karena aku sedang berkegiatan di Jakarta Selatan sampai malam. Jadi lebih baik memangkas jarak dengan mencari tempat ngopi di apartemennya. Kebetulan, istri dan kedua anaknya sedang berada di Bogor (kediaman orangtua Rome). Mungkin ia memang sedang butuh ngobrol. Aku merasa ini langkah baik untuk kembali menjalin persahabatan dengan sosok yang berpengaruh besar terhadap hidupku ini.

Lalu, setelah secangkir kopi dan seporsi mie aceh goreng tandas, pembicaraan mengarah ke musik. Aku berseloroh, “Me, entah kenapa selera gua tuh selalu berbeda dengan orang-orang kebanyakan. Sering banget kalo berada dalam satu mobil dengan orang-orang itu, gua gak pernah ngerti dengan musik yang mereka putar. Sebaliknya, jika gua mengambilalih playlist, mereka sontak protes dan bilang bahwa mereka gak ngerti dengan musik yang gua putar.”

Rome mengamini hal itu sambil berkata ia pun mengalami hal serupa. Lalu aku membicarakan soal selera dan pandangan Pierre Bourdieu soal selera. Sama seperti dulu, Rome mendengarkan ocehanku tentang Bourdieu dengan tekun, padahal ia kuliah ekonomi Islam dan kini menggemari kajian psikologi karena bekerja sebagai instruktur di sebuah perusahaaan asuransi. Sungguh, aku benar-benar merindukan perbincangan dengan kualitas seperti ini. Dia tipe orang yang tidak hanya intellectually challenging, tapi sanggup berdebat dengan argumentasi padat dan selipan humor berkualitas tiada banding.

Lantas aku memikirkan hal ini. Satu, soal selera, yang mungkin akan kutulis lain waktu. Kedua, mengenai musik dan bagaimana musik menyertai perjalanan kehidupanku.

Perjalanan yang aku maksud terkait perjalanan fisik, maupun perjalanan dalam arti trajektori hidup. Aku masih ingat betul bagaimana aku jalan kaki dari rumah ke suatu toko yang berjarak sekitar satu kilo demi membeli kaset Ricky Martin. Memalukan memang, tetapi motivasi membeli kaset itu adalah karena saat itu merupakan fase pertamaku menggilai sepak bola. Ricky Martin adalah pelantun theme song Piala Dunia 1998 di Perancis, Piala Dunia pertamaku.

Musik begitu erat kaitannya dengan sosok perempuan-perempuan yang pernah menghiasi hidup. Bahkan saat duduk di kelas 5 SD, kuhadiahi kakak kelasku album kaset Arkarna yang bersampul monyet. Kakak kelasku itu cantik bukan main. Pintar pula! Selalu ranking satu. Bersama dua sahabat, Ekky dan Angga, kami berjuang menggaet hati kakak kelas. Aku cukup nakal memang. Kini aku tahu kakak kelas berinisial R itu tumbuh tidak secantik dulu.

Perlahan, aku makin rakus dalam menikmati musik. Fase penting dalam riwayat selera musikal, tentu saja, adalah saat aku tinggal di Jogja. Engkau pasti tidak pernah melakukan ini: aku punya kebiasaan menghadiahi mixtape kepada perempuan-perempuan. Ya, aku tahu, kita hidup di era digital. Aku bisa saja memberi mereka suatu playlist lewat flashdrive. Tetapi, demi ke-sok-nyentrikkanku, yang kuperbuat justru lebih dari itu.

Perempuan

Tradisi mixtape sebenarnya adalah tradisi jadul. Ini terjadi saat format kaset merajai industri musik. Di Indonesia, karena harga kaset lumayan mahal dan orang kita memang kreatif soal bajak-membajak, generasi ’80-’90-an membuntuti suatu siaran radio, demi merekam lagu-lagu yang mereka sukai lalu mereka kompilasikan secara swadaya. Kemudian, voila!, kompilasi itu mereka berikan kepada orang tersayang.

Nah, mixtape-ku berbeda. Aku mencari lagu-lagu yang sekiranya menggambarkan sosok gadis pujaan itu. Entah lirik yang menggambarkan ayu fisiknya, atau konteks lagu yang cocok dengan momenku dengannya. Niat sekali aku membuat mixtape ini. Terkadang ritual mencari lagu ini bisa menghabiskan waktu lebih dari seminggu. Ada lagu yang kubongkar pasang, ada pula momen di mana aku bingung membuat urutan playlist. Pokoknya, persis seperti produser musik betulan. Aku juga menyertai mixtape dengan semacam liner notes di sampul yang aku desain, cetak dan kemas sedemikian rupa. Suatu waktu aku pernah menugasi kawanku Ali — yang begitu berbakat di perkara desain grafis — untuk merancang sampul mixtape.

Aku juga masih ingat kepada siapa “Popkiss” dari Blueboy aku beri. Gadis yang mendapati lagu itu senang bukan kepalang, dan menceritakan kepada teman-temannya. Bagaimana kisahku dengan gadis tersebut? Kandas dengan sekejap. Hubungan kami ia putus lewat BBM, dengan alasan bahwa aku terlalu baik buat dia. Muke gile. Aku pernah juga mengalami kejadian tragis. Sudah diputus lewat chat, dengan alasan menjijikkan pula.

Aku ingat sekali, sebelum hubungan itu hancur, sudah banyak kejadian yang mengkhawatirkan. Salah satunya, aku sudah menghadiahinya tiket konser Suede agar kami bisa menontonnya bersama. Tetapi beberapa hari jelang hari-H, jangankan menontonnya bersama, menghampiriku saja ia tak bisa (kami menjalani hubungan jarak jauh). Ada kejadian di mana aku menembus hujan deras di suatu malam di Jogja, mengetahui hubungan kami di titik kritis. Aku menangis sederas hujan yang turun di atas motor Supra tahun 2006-ku, sambil bernyanyi bersama Brett Anderson. Lagu “So Young” akan selalu kukenang untuk kejadian menyedihkan ini. Aku bahkan melajukan motor dengan begitu lambat, dengan sekujur tubuh basah kuyup, menikmati betul bahwa tidak akan ada yang tahu pedih yang kurasa. Takkan ada yang terganggu dengan nyanyianku karena sedikit sekali kendaraan yang lalu-lalang.

Ada pula mixtape-mixtape gagal. Maksudnya, perempuan yang kuberi ternyata tidak merespon baik mixtape maupun perasaanku. Tapi anehnya, file cadangan mixtape-mixtape gagal tersebut masih kusimpan dan terkadang kuputar kembali. Aku masih hapal mengapa “The First Picture of You” dari  the Lotus Eaters kumuat di mixtape yang kuberi ke T, seorang mahasiswi UNY yang menerima mixtape itu dengan dingin. Aneh, beberapa bulan lalu ia mengundangku di BBM, yang setelah aku terima, tidak ia lanjutkan dengan bertanya kabar atau sekadar menyapa. Baru kemudian aku tahu ia menikah, tak lama setelah menambah pertemanan denganku di BBM.

Lagu-lagu tersebut jumlahnya banyak. Tetapi aku berprinsip begini: aku berkeras untuk menjadikan playlist di mixtape itu playlist yang ‘gua banget‘. Andai aku tahu si gadis menyukai R’n’B kekinian, aku tidak peduli. Aku ngotot memasukkan band-band yang mungkin menurutnya aneh. Ini soal selera. Terkadang, saat meratapi gagalnya suatu mixtape, aku tetap bersyukur telah menciptakan suatu mixtape hebat, dengan deretan lagu ciamik dan liner notes keren.

Aku, sih, yakin. Perempuan-perempuan itu akan terkenang saat mendengar nama band yang pernah kukenalkan ke mereka. Aku selalu berharap yang mereka kenang adalah kebaikan-kebaikanku, tentu.

Perjalanan

Selain perkara perempuan, musik selalu setia menemani ke mana kaki ini singgah. Entah itu waktu aku mengadakan tamasya backpacking ke Mojokerto-Surabaya-Malang (yang kulakukan sendiri waktu libur semester, dan sungguh kunikmati walau HP-ku dicuri orang di Terminal Janti), Singapura, ataupun Arab Saudi.

Aku akan selalu ingat betapa band shoegaze AS, Ceremony, menghantui hari-hariku di Singapura saat menjadi road manager untuk Brilliant at Breakfast. Bersama Verry Putri, sahabat terbaikku yang lain, kami menyusul rombongan band yang lebih dulu tiba di Singapura. Di pesawat aku hanya bercakap-cakap dengannya sebentar. Verry datang ke Jakarta pagi itu, dan langsung berangkat ke Singapura tanpa menginap. Jadi kupikir ia pasti lelah.

Aku langsung membenamkan headset ke kedua belah telinga. Dan lagu-lagu dari Ceremony bergemuruh menghunjamku, seiring turbulensi di badan pesawat. Ceremony ini cukup unik. Jika band-band shoegaze lazimnya tidak memperhatikan departemen lirik, tidak demikian dengan mereka. Band pecahan Skywave ini membawakan lirik cinta yang cengeng, dari sudut pandang orang pertama, dan menggunakan kalimat-kalimat eksplisit.

Tiap mendengarkan Ceremony, aku selalu terkenang momen membahagiakan itu. Bagaimana band kecil kami dihargai di negeri orang. Bagaimana CD dan merchandise kami ludes dalam hitungan jam. Bagaimana mata kami berbinar saat melihat tumpukan dolar Singapura berhasil kami himpun dari penjualan CD dan merchandise.

Ada pula momen di mana kami diajak mabuk oleh anak-anak Singapura di suatu taman depan gedung berarsitektur gotik yang mereka namai Gotham. Kepada Az, sosok yang mengundang kami tampil di Singapura, aku membicarakan band D-beat/hardcore Tragedy dan His Hero is Gone. Kami juga dilimpahi curhatan dari anak-anak Singapura soal bagaimana kondisi sosial negara mereka, yang Az sebut, “Kami hidup seperti zombie.”

Entah kenapa, playlist yang aku rancang di tiap perjalanan selalu berbeda. Kala menggemari suatu band, aku akan dengan tekun menyimak keseluruhan diskografinya. Aku kerap memandang sinis orang-orang yang tidak memperlakukan musik seperti ini. Orang-orang yang hanya mendengar satu dua lagu dari suatu band hanya saat band tersebut populer.

Suatu perjalanan tak perlu perjalanan yang jauh. Suatu waktu, bersama anak-anak Kongsi Jahat Syndicate, aku mengadakan tamasya malam hari ke Parangtritis. Aku ingat di situlah kali pertama kudengar “I Need Some Fine Wine and You Need to be Nicer” dari The Cardigans — yang dinyanyikan Vera yang saat itu sudah mabuk parah.

Aku selalu bisa merefleksikan hidup hanya dengan mendengar suatu lagu dari suatu band. Refleksi di sini bukan dalam artian serius. Biasanya aku hanya menimpali lirih, ‘aih, gua dulu sebego itu ya’ saat mendengar suatu lagu. Terkadang kenangan manis turut muncul, tetapi tidak pernah aku tindaklanjuti dengan menghubungi perempuan yang tersangkutpaut dengan lagu tersebut. Aku cukup bahagia bisa mengenang mereka hanya dengan bermodal musik.

Aku berkesimpulan, tentu akan ada lagi musik-musik lain yang akan menyertai ‘perjalanan’ hidup ini. Katakanlah ini terlalu nyentrik, tapi aku tahu ada banyak orang yang memiliki sikap yang sama terhadap musik seperti ini.

Belakangan, aku kembali merangkai mixtape. Kepada siapa mixtape itu kuberi, bukan urusan kau. Ini bukan blog a la Raditya Dika. ♦

Kredit foto: Begin Again (2013)

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x