Media dan Realitas dalam Kerangka Strukturasi Anthony Giddens

2013.05.03_anthony_giddens_4
sumber

Di abad ini media telah menjadi suatu kebutuhan hampir pada seluruh masyarakat, dari berbagai tingkat umur, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal dan sebagainya. Menyitir Jalaluddin Rakhmat (1985), kita hidup di abad komunikasi massa. Media ada dimana-mana di sekitar kita dengan segala bentuk kecanggihan dan macam ragamnya. Bisa dikatakan bahwa hidup satu hari saja tanpa media adalah mustahil bagi manusia modern. Hampir pada setiap aspek kegiatan manusia, baik yang dilakukan secara pribadi maupun bersama-sama selalu mempunyai hubungan dengan aktivitas komunikasi massa. Selain itu, animo individu atau masyarakat yang tinggi terhadap program komunikasi melalui media seperti surat kabar, majalah, radio, televisi, film dan internet menjadikan setiap saat individu atau masyarakat tidak terlepas dari terpaan (atau menerpakan diri) terhadap media massa. Media juga sebagai sarana penunjang bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan akan informasi maupun hiburan.

Saat ini kita tengah berada di sebuah revolusi teknologi komunikasi yang diyakini oleh banyak ilmuwan akan menransformasikan tatanan sosial dan budaya di seluruh dunia. Setiap perangkat teknologi baru (beserta kemajuan-kemajuan yang dicapainya) memperluas penggunaan teknologi yang sudah ada. Teknologi baru berkombinasi untuk mempersempit jurang jarak dan waktu, sambil memberikan seabrek tujuan yang bersifat spesifik. Manusia, berkat kemajuan teknologi informasi memiliki kesempatan baru untuk melayani setiap kebutuhannya (informasi, hiburan, ekonomi). Namun di saat yang sama menurut Baran & Davis (2009), terdapat kemungkinan media massa berpotensi mengganggu privasi manusia dan merekonstruksi ulang pandangannya terhadap realita sosial.

Karena media telah menjadi kebutuhan masyarakat dalam tiap aspek kehidupannya, media memiliki peran penting dalam proses pembentukan masyarakat yang lebih dewasa dan modern. Unsur lain yang tidak kalah  pentingnya adalah, seberapa besar media mempengaruhi masyarakat sebagai  penyimak tetap mereka. Beberapa ahli percaya, bahwa media memberikan  pengaruh yang besar bagi para penontonnya (“khalayak”, jika kita memandang objek dari sudut pandang studi komunikasi).

Membahas mengenai media massa, tidaklah terlepas dari komunikasi massa, karena media massa merupakan suatu organisasi terstruktur, yang menjadi agen penyedia informasi bagi masyarakat dan komunikasi massa adalah proses dimana organisasi media tersebut membuat dan menyebarkan  pesan kepada khalayak banyak (publik). Organisasi-organisasi media ini akan menyebarluaskan pesan-pesan yang akan memengaruhi dan mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat, lalu informasi ini akan mereka hadirkan serentak pada khalayak luas yang beragam. Hal ini membuat media menjadi bagian dari salah satu institusi sosial yang kuat di masyarakat.

Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah dan ragam teori komunikasi massa telah mengalami peningkatan secara konsisten. Kajian komunikasi massa telah menjadi obyek akademik  independen sehingga kita kerap mengalami kebingungan karena pemikiran yang beragam dan terkadang kontradiktif. Kita sering menemukan pendapat yang dikembangkan oleh para ilmuwan lintas disiplin ilmu sosial, dari ilmu sejarah dan antropologi, sampai ke psikologi dan sosiologi.

Secara fundamental, teori komunikasi massa kurang lebih harus relevan dengan media, khalayak, waktu, dan kondisi situasional sehingga teori komunikasi massa dapat dipersonalisasi dan senantiasa dinamis. Mempertimbangkan alasan-alasan di atas, baik kiranya jika penulis mengambil pengertian komunikasi massa yang telah jamak diketahui masyarakat. Pengertian komunikasi massa merujuk pada pendapat Tan dan Wright, dalam Liliwer (1991), merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal jauh dan terpencar, sangat heterogen, dan menimbulkan efek tertentu.

Definisi komunikasi massa paling sederhana dikemukakan oleh Bittner, yakni, pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang. Komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas.

Luhmann dalam The Reality of Mass Media (1996) mengatakan,

Whatever we know about our society, or indeed about the world we live, we know through the mass media. 

Luhmann bahkan secara tepat mengatakan bahwa saking banyaknya pilihan sajian media massa, manusia menjadi tidak berani untuk mempercayai sumber-sumber informasi tersebut.

Media massa atau pers adalah suatu istilah yang mulai digunakan  pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media. Ada 4 unsur utama yang harus dimiliki oleh media massa, yaitu:

  1. Menginformasikan (to inform),
  2. Mendidik (to educate)
  3. Membentuk opini atau pendapat (to persuade), dan
  4. Menghibur (to entertain).

Seperti yang telah penulis kemukakan di atas, media massa mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap individu dan realitas sosial. Media massa tidak hanya menjadi salah satu lembaga sosial, tapi berkat sistem industri kapitalis dan kemajuan teknologi, ia mampu membuat dan merubah keputusan-keputusan penting suatu negara, hingga menetapkan standar-standar baru era globalisasi. Baran & Davis (2009: 69) menetapkan enam asumsi mengapa media massa mempunyai pengaruh terhadap masyarakat:

  1. Media adalah kekuatan yang sangat kuat dalam masyarakat yang dapat menggerogoti nilai dan norma sosial sehingga dapat merusak tatanan sosial.
  2. Media dapat secara langsung memengaruhi pemikiran kebanyakan orang, menransformasikan pandangan mereka tentang dunia sosial.
  3. Ketika pemikiran seseorang telah ditransformasi oleh media, maka semua bentuk konsekuensi buruk dalam jangka panjang mungkin terjadi – tidak hanya dapat menghancurkan kehidupan seseorang, tapi juga menciptakan masalah sosial dalam skala luas.
  4. Sebagian besar individu sangat rentan dengan media karena dalam masyarakat massa mereka terputus dan terisolasi dari lembaga sosial tradisional yang sebelumnya melindungi mereka dari usaha manipulasi media.
  5. Kerusakan sosial yang disebabkan media mungkin baru bisa dapat diperbaiki dengan pendirian sebuah tatanan sosial yang totaliter.
  6. Dinamika perkembangan media massa telah merendahkan budaya yang lebih tinggi (budaya luhung atau high culture), dan menyebabkan dekadensi peradaban.

 

Sementara itu dari perspektif neo Marxis, Burton (1999) menetapkan media massa sebagai produk-produk informasi dan hiburan dari industri-industri media, begitu juga contoh-contoh telekomunikasi yang membantu membawakan produk-produk tersebut kepada kita.

Pentingnya media massa, membuat peranannya begitu kuat dan hebat dalam mempengaruhi manusia. Manusia begitu tergantung pada media, hingga sampai ke urusan hidup sehari-hari. Media massa, seakan telah menjadi faktor penentu kehidupan manusia. Efek yang ditimbulkan oleh media itu sangat nyata dan jelas. Besarnya pengaruh media massa, menimbulkan efek pada kehidupan manusia. Asumsi itu ditopang oleh beberapa alasan, yakni:

  1. Media merupakan industri yang berubah dan berkembang, yang menciptakan lapangan kerja, barang dan jasa, serta menghidupkan industri lain yang terkait. Media juga merupakan industri tersendiri yang memiliki peraturan dan norma-norma yang menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakat dan institusi sosial lainnya
  2. Media massa merupakan sumber kekuatan, alat kontrol, manajemen, dan inovasi dalam masyarakat, yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kekuatan atau sumber daya lainnya.contohnya Negara dalam rezim otoriter bagaimana pemerintah menguasai media sehingga isi media massa bersifat homogen.
  3. Media adalah wadah yang menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bersifat nasional maupun internasional, dalam hal ini media memberikan efek kognitif bagi masyarakat dalam hal pengetahuan.
  4. Media seringkali berperan dalam mengembangkan kebudayaan, juga tata cara, mode, gaya hidup dan norma-norma. Media memberikan efek afektif dan behavior dimasyarakat.
  5. Media telah menjadi sumber dominan, bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif. Media juga turut menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan. Keberadaaan media massa dalam menyajikan informasi cenderung memicu perubahan serta banyak membawa pengaruh pada penetapan pola hidup dan perilaku masyarakat. Beragam informasi yang disajikan dapat memberi pengaruh yang berwujud positif dan negatif.Secara perlahan-lahan namun efektif, media membentuk pandangan masyarakat terhadapbagaimana seseorang melihat pribadinya dan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan dunia sehari-hari.

Pesan/informasi yang disampaikan oleh media bisa jadi mendukung masyarakat menjadi lebih baik, membuat masyarakat merasa senang akan diri mereka, merasa cukup atau sebaliknya mengempiskan kepercayaan dirinya atau merasa rendah dari yang lain. Pergeseran pola tingkah laku yang diakibatkan oleh media massa dapat terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, dan dalam kehidupan bermasyarakat. Wujud perubahan pola tingkah laku lainnya yaitu gaya hidup. Hal tersebut cenderung lebih berpengaruh terhadap generasi muda.

Secara sosio-psikologis, arus informasi yang terus menerpa kehidupan kita akan menimbulkan berbagai pengaruh terhadap perkembangan jiwa, khususnya untuk anak-anak dan remaja. Pola perilaku mereka, sedikit demi sedikit dipengaruhi oleh apa yang mereka terima yang mungkin melenceng dari tahap perkembangan jiwa maupun norma-norma yang berlaku. Hal ini dapat terjadi bila tayangan atau informasi yang mestinya dikonsumsi oleh orang dewasa sempat ditonton oleh anak-anak.

Dampak yang ditimbulkan media massa bisa beraneka ragam diantaranya terjadinya perilaku yang menyimpang dari norma-norma sosial atau nilai-nilai budaya. Di jaman modern ini umumnya masyarakat menganggap hal tersebut bukanlah hal yang melanggar norma, tetapi menganggap bagian dari tren masa kini. Selain itu juga, perkembangan media massa yang teramat  pesat dan dapat dinikmati dengan mudah mengakibatkan masyarakat cenderung berpikir praktis.

Dampak lainnya yaitu adanya kecenderungan makin meningkatnya pola hidup konsumtif. Dengan perkembangan media massa apalagi dengan munculnya media massa elektronik (media massa modern) sedikit banyak membuat masyarakat senantiasa diliputi prerasaan tidak puas dan bergaya hidup yang serba instan. Gaya hidup seperti ini tanpa sadar akan membunuh kreatifitas yang ada dalam diri kita di kemudian hari. Rubrik dari layar TV dan media lainnya yang menyajikan begitu banyak unsur-unsur kenikmatan dari pagi hingga larut malam membuat menurunnya minat belajar dikalangan generasi muda. Dari hal tersebut terlihat bahwa budaya dan pola tingkah laku yang sudah lama tertanam dalam kehidupan masyarakat mulai pudar dan sedikit demi sedikit mulai diambil  perannya oleh media massa dalam menyajikan informasi-informasi yang  berasal dari jaringan nasional maupun dari luar negeri.

Dinamika Konsep Struktur Sosial dalam Sosiologi dan Kaitannya dengan Media Massa

Struktur sosial adalah objek utama dalam pembahasan sosiologi. Sejak kemunculannya di akhir abad ke-18 di Eropa, kajian sosiologi berpusat pada bagaimana relasi-relasi terjadi dalam masyarakat, dan pengaruhnya terhadap individu dan lembaga-lembaga. Revolusi Industri di Inggris dan Revolusi Perancis menjadi pemantik bagi terciptanya perubahan struktur sosial dalam masyarakat. Berkembangnya kapitalisme telah melemahkan lembaga-lembaga yang sebelumnya mapan, terutama aristokrasi (sistem kerajaan) dan agama (khususnya gereja).

Satu demi satu para sosiolog mengemukakan pendapatnya tentang struktur dalam masyarakat. Durkheim menilai kapitalisme telah merubah cara kerja individu yang sebelumnya artisan ke pekerjaan berbasis kemampuan, yang perlahan merubah relasi dalam masyarakat, dari masyarakat mekanis ke masyarakat organis. Durkheim juga mengamati perubahan dalam pembagian kerja di masyarakat dari masyarakat primitif ke masyarakat industri. Implikasi dari perubahan sistem kerja itulah yang merubah struktur (mekanis ke organis).

Sejalan dengan Durkheim, Herbert Spencer dan belakangan  Talcott Parsons memiliki asumsi yang menganalogikan struktur sosial dengan organisme biologis. Mereka beranggapan bahwa sifat-sifat struktural utama sebuah masyarakat, yang memandu stabilitas sekaligus perubahan, merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat tersebut. Masyarakat dikhayalkan memiliki sifat-sifat yang mirip dengan sifat-sifat yang mengontrol bentuk dan perkembangan organisme biologis. Durkheim terutama, beranggapan bahwa struktur memiliki sifat menghambat individu di kehidupannya sehari-hari, yang kita kenal dengan istilah hambatan struktural. Masyarakat, di mata Durkheim memiliki kecenderungan totaliter dan deteministik terhadap segala tindakan individu. Dua kecenderungan ini membatasi manusia di segala aspek kehidupannya, dan dalam hubungannya dengan berbagai lapisan sosial.

Pandangan Durkheim juga selaras dengan apa yang dikemukakan Karl Marx. Yang menjadi pembeda adalah Marx secara tegas membagi masyarakat ke dalam dua kelas, yakni kelas ordinat (borjuis, penguasa, pemilik modal) dan subordinat (kaum proletar, buruh, pekerja upahan) akibat mengguritanya sistem industri kapitalistik. Kelas proletar berada dalam struktur yang tidak memungkinkan mereka untuk secara bebas mengolah lahan karena keterbatasan modal. Di sini pandangan Durkheim secara implisit berkaitan dengan Marx di mana struktur terasosiasikan dengan kekuasan dan memberikan hambatan-hambatan struktural bagi individu (dalam pembahasan Marx, kelas pekerja).

Perbedaan signifikan antara Durkheim dan Marx adalah ketika Marx dengan tegas memberi arahan-arahan dan landasan-landasan filosofis-politis bagi kelas pekerja dalam mengatasi hambatan-hambatan struktural yang selama ini mereka hadapi di kehidupan sehari-hari. Dalam Communist Manifesto, Marx menetapkan suatu kondisi di mana struktur yang bersifat menguasai ini menjadi hilang melalui proses revolusi, saat kelas pekerja bersatu dan mengganti sistem ekonomi industri-kapitalis ke sistem sosialis.

Seiring berjalannya waktu, paradigma struktural-fungsional mulai mendapat banyak kritik dari sosiolog-sosiolog lintas jaman. Dua yang paling terkemuka adalah Niklas Luhmann dan Anthony Giddens. Namun ada baiknya kita menerangkan dulu asumsi-asumsi pokok struktural-fungsional.

Pertama, tiga teoritisi utama paradigma ini (Spencer, Durkheim dan Parsons) mengandaikan situasi sosial sebagai suatu struktur besar yang memiliki kesamaan dengan organisme biologis (penganalogian organismis). Organisme seperti dunia manusia, hewan dan tumbuhan memiliki kebutuhan-kebutuhan mendasar (requisite needs). Kebutuhan-kebutuhan ini mendorong organisme untuk memilah dan membuat struktur-struktur internal guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Sebagai contoh, demi keberlangsungan hidupnya manusia membutuhkan oksigen dan oksigen dapat diraih dengan cara menghirup udara dengan paru-paru. Organisme lain seperti ikan tidak memiliki paru-paru karena mereka mendapatkan oksigen dari udara. Berdasarkan analogi inilah struktural-fungsional menyikapi masyarakat. Struktur sosial yang beragam akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang berbeda satu sama lain.

Dalam tradisi sosiologi, konsep masyarakat lazimnya dihubungkan secara langsung dengan konsep hambatan (constraint). Para pendukung sosiologi struktural-fungsional sesungguhnya cenderung menganggap hambatan, dalam cara tertentu, sebagai sifat unik fenomena sosial. Inilah pandangan yang disanggah Giddens lewat teori strukturasi di mana ia meyakini bahwa ciri-ciri struktural sistem sosial selain memiliki kemampuan menghambat (constrain), juga memiliki kemampuan memberdayakan (enabling). Antara agen dan struktur saling melengkapi dan mempengaruhi realitas tanpa menegasikan satu dengan yang lain. Struktur adalah medium dan hasil dari tindakan agen yang dilakukan berulang-ulang. Sedangkan agen, bahwa tiap orang memiliki kemampuan pemahaman yang cukup dan kompeten, dan merefleksikan tiap tindakannya.

Dualitas struktur memiliki tiga dimensi yaitu a) signifikasi, b) dominasi, dan c) legitimasi. Agen dan struktur memiliki pola kerja yang sinergis, interdependen, dan karena proses tindakan terjadi secara terpola merintangi ruang-waktu, maka anggapan klasik yang menyatakan bahwa struktur hanya memiliki kecenderungan menghambat menjadi tidak relevan di kehidupan modern.

Konsep besar Giddens, teori strukturasi, secara kumulatif (karena Giddens seraya aktif mengisi berbagai kajian ilmiah juga memimpin lembaga Universitas terkemuka Inggris London School of Economics and Political Sciences) ia rangkum pada masa puncaknya di era 90-an karena pada masa itu kehidupan manusia berada di tahap modernitas tinggi (high modernity) – era di mana menurut McQuail (1994) perhatian terhadap dampak sosial yang ditimbulkan media massa telah mengglobal.

Tujuan utama Giddens adalah bagaimana mengangkat konsepsi sosiologi dari empat pandangan besar, yakni struktural-fungsional, hermeunetika, strukturalis dan sosiologi interpretatif (empirisisme Mazhab Chicago).  Dia termasuk dari sedikit ilmuwan yang mampu mengurai fenomena masyarakat modern dari sudut pandang mikro-makro (selain Randal Collins dan Peter Blau). Selain sifat dualitas struktur, antara agensi dan dan struktur dalam mereproduksi tindakan-tindakan sosial tidak lepas dari konsep ruang-waktu, dan komunikasi antar manusia memegang peranan penting karena melalui cara itulah individu memaknai tanda-tanda dan simbol-simbol. Sehingga Giddens memasukkan unsur komunikasi dalam dimensi komunikasi (interpretating symbolic facts phase), dan melalui proses komunikasi lintas ruang-waktu inilah realitas sosial tercipta. Atau menurut istilah Giddens, bagaimana kondisi sosial bereproduksi. Maka, hubungan antara agensi (individu) dengan struktur sosial — yang mana media menjadi bagian darinya — adalah hubungan yang simetris-dialektis dalam kerangka ruang dan waktu.

Secara definitif, kita tidak bisa menilai mana yang baik, mana yang buruk. Mengingat realitas dan tatanan sosial (social order) tereproduksi oleh hubungan antara agensi dengan struktur. Sebagaimana yang diurai Giddens,

Society only has form, and that form only has effects on people, in so far as structure is produced and reproduced in what people do.

 

Daftar Pustaka

Allan, Kenneth. (2006). Contemporary Social and Sociological Theory: Visualizing Social Worlds. California: Pine Forge Press.

Baran, Stanley J. & Dennis K. Davis. (2010). Teori Komunikasi Massa: Dasar, Pergolakan, dan Masa Depan. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Burton, Graeme. (1999). Media dan Budaya Populer. Yogyakarta: Jalasutra.

Giddens, Anthony. (2010). Teori Strukturasi: Dasar-Dasar Pembentukan Sosial Masyarakat. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.

Ibrahim, Idi Subandy. (2007). Budaya Populer Sebagai Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra.

Luhmann, Niklas. (2000). The Reality of The Mass Media. California: Stanford University Press.

Martono, Anang. (2011). Sosiologi Perubahan Sosial: Perspektif Klasik, Modern. Posmodern, dan Poskolonial. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Ritzer, George (ed). (2004). Handbook of Social Problems: A Comparative International Perspective. California: Sage Publishing.

Ritzer, George (ed). (2000). The Blackwell Companion to Major Contemporary Social Theorist. Massachusetts: Blackwell Publishing Ltd.

West, Richard & Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x