TV, MTV, dan FTV: Hiperrealitas Dunia dalam Kotak Berpendar

 

plugged-in-to-television-tv-mind-control-brain-washing-unplug
sumber

Televisi merupakan media paling ampuh untuk penyebaran gagasan, ideologi, gaya hidup, dan sebagainya karena sifat media televisi yang bebas dari hambatan-hambatan komunikasi yang dialami oleh koran dan radio. Sifat lain pendukungnya, siaran televisi didukung oleh penyiarannya yang menampilkan audio visual secara bersamaan. Televisi menjadi ‘kotak ajaib’ yang sanggup menyedot perhatian seluruh anggota keluarga di rumah. Tidak ada media lain yang dapat menandingi televisi dalam hal volume teks kebudayaan pop yang diproduksinya dan banyaknya penonton yang diraupnya (Barker, 2000).

Menonton televisi membentuk dan dibentuk oleh berbagai bentuk identitas kultural. Televisi adalah sumber bagi konstruksi identitas kultural sebagaimana penonton menjalankan identitas kultural dan kompetensi kultural mereka untuk men-decode program dengan cara tertentu. Ketika televisi mulai mengglobal, maka tempat televisi dalam pembentukan identitas etnis dan identitas nasional semakin menunjukkan arti pentingnya (Barker, 1999).

Pemaknaan televisi dengan radikal telah dilakukan Jean Baudrillard pada 1983 di mana dia mengemukakan bahwa televisi adalah jantung dari kebudayaan posmodern yang ditandai oleh arus simulasi dan faksimile yang memuaskan dan mencakup semua, suatu hiperrealitas di mana kita dijejali dengan citra dan informasi. Ini adalah dunia di mana serangkaian pembedaan modern — yang nyata dengan yang tidak nyata, yang publik dengan yang privat, seni dan realitas — telah runtuh, atau terhisap ke dalam ‘lubang hitam’.

Hiperrealitas menurut Baudrillard adalah sesuatu yang direproduksi secara secara artifisial sehingga membentuk sesuatu yang seolah-olah nyata. Hiperrealitas sebagai sesuatu yang lebih nyata daripada yang nyata, kenyataan yang disentuh ulang dalam ‘kemiripan halusinatif’ drngan dirinya sendiri. Suatu proses yang mengarah kepada hancurnya sekat-sekat antara media dengan dunia sosial. Jadi, televisi menyajikan dan menyimulasikan situasi hidup yang nyata, dan tidak merepresentasikan dunia sebenarnya karena televisi menciptakan dunianya sendiri (Baker, 2000).

Penyajian acara-acara televisi di Indonesia bersifat teresterial, yakni siaran yang dapat diakses masyarakat dengan menggunakan antena UHF/VHF, sehingga siaran-siaran tersebut dapat diakses berbagai lapisan dengan gratis selama mereka memiliki televisi dan antena. Sejak diijinkannya RCTI mengudara pada 1989, bisnis pertelevisian semakin berkembang karena mengundang potensi ekonomi bagi pemodal dengan penyediaan durasi untuk iklan. Sampai kini telah ada 12 stasiun televisi swasta nasional dan 1 stasiun televisi yang dikelola pemerintah (TVRI).

Siaran MTV Indonesia 1990-an

Sebelum MTV masuk ke Indonesia, dalam berekspresi kaum remaja Indonesia belum seintens, seterbuka, dan sebebas seperti sesudah MTV hadir ke hadapan remaja Indonesia. Akses remaja terhadap hiburan (budaya pop) Barat hanya dinikmati segelintir orang, yakni mereka yang berlangganan TV kabel (yang tarifnya belum semurah sekarang), atau mereka yang memiliki kerabat di luar negeri (sehingga mampu menikmati produk-produk budaya pop seperti CD, majalah gaya hidup, dan sebagainya).

MTV di Indonesia pertama kali tayang pada tahun 1993 di stasiun TV ANTV. Jadi yang khalayak nikmati adalah MTV edisi Indonesia di mana tayang pula segmen yang menampilkan video-video musik dari band-band Indonesia. Acara-acara unggulan MTV Indonesia saat itu antara lain “MTV What’s Up”, “MTV Ampuh (Ajang Musik Pribumi Sepuluh)”, “MTV Rumah Gue”, dan “MTV Insomnia.”

MTV menyebar nilai dan gagasan pentingnya kaum muda menikmati hidup, menolak struktur yang telah mapan (anti-mainstream), kebebasan berekspresi, yang secara kumulatif menyebabkan perubahan sikap remaja Indonesia. Jika dulu grup-grup musik beraliran keras sulit mendapat tempat, sejak hadirnya MTV eksistensi mereka terakomodir.

Band-band seperti Netral, Burgerkill, Superman is Dead tidak hanya mengusung musik bertempo cepat, tapi menyampaikan pesan-pesan berbeda dibanding band-band pada umumnya. Gaya hidup ala MTV (baca: barat) termanifestasi lewat lirik-lirik ‘keras’ yang mengecam domain-domain mapan seperti pemerintah, negara, agama, keluarga, serta — meminjam konsepsi kesadaran kolektif (collective conscience) Emile Durkheim — norma dan nilai yang sekian lama berlaku di masyarakat, seperti lirik berbau penolakan, pengecaman, hingga sikap antipati terhadapnya.

Remaja Indonesia menjadi mempunyai banyak pilihan dalam berekspresi dan mengaktualisasikan diri. Musik tidak lagi sekadar pop dan rock, tapi juga beragam musik idealis (punk, metal, indie). Menurut Baran dan Davis (2009), pengaruh media yang sedemikian kuat ini tidak serta merta menggeneralisir perilaku remaja menjadi seragam. Meski begitu, pengaruh MTV menjadi sedikit kurang signifikan jika kekuatan tradisional di suatu daerah kuat (agama, keluarga, sekolah).

Siaran MTV yang masif dan membekas di jiwa remaja Indonesia juga sanggup memicu terjadinya konflik horizontal. Tidak terbayangkan di era sebelumnya dua kelompok remaja penyuka jenis musik berbeda bisa saling baku hantam di ruang publik (kasus kelompok penyuka musik punk dengan metal di Bulungan pada 1990-an). MTV tidak hanya menawarkan pada mereka identitas baru (yang tidak hanya berbeda tapi juga mengasyikkan, the identity of coolness). MTV, secara perlahan, merubah simbol-simbol membosankan yang sudah mapan sebagai musuh bersama. Bahwa sikap sopan santun, bela bangsa, takzim pada orangtua, menghormati sesama, taat pada pemerintah dan agama, merupakan sesuatu yang belum tentu benar (dan asyik untuk dilakukan).

Saya mencoba mengurai dan menganalisis fenomena ini menggunakan konstruksionisme sosial Berger dan Luckmann. Fase dialektis eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi individu saat memahami realitas mendapat pengaruh dari media televisi (siaran MTV). Jika pada era pra MTV sosok remaja ideal adalah mereka yang mencapai pendidikan tinggi, pandangan tadi mendapat realitas penanding yang saling berkontestasi satu sama lain. Bahwa sosok remaja ideal adalah seperti Sarah Sechan atau Daniel Mananta yang tidak hanya berpenampilan menarik, tapi juga luwes dalam berbicara dengan mencampur bahasa lo-gue dengan bahasa Inggris. Remaja yang ideal adalah mereka yang tahu perkembangan budaya pop terkini (musik, film, fashion). Mereka yang berani melakukan hal-hal out-of-the box, mendobrak standar yang telah baku.

Kontestasi dua realitas tadi dipengaruhi pula oleh jatuhnya rezim Orde Baru. Pemerintah Soeharto yang sebelumnya melakukan sensor dan kontrol ketat terhadap segala penyiaran di berbagai medium (cetak dan elektronik) sudah tentu akan melarang acara MTV bersiaran. Kedua realitas ini saling bersaing di fase internalisasi seseorang melalui legitimasi. Di sinilah media televisi menunjukkan taringnya. Pesan yang disalurkan lebih efektif karena memadukan audio visual, tidak seperti media cetak (dan pada konteks Indonesia, siaran televisi dapat dinikmati secara gratis). Pada akhirnya standar masyarakat yang selama ini dianut menjadi kabur. Penetrasi pesan tadi juga berlaku di dunia iklan dalam mempengaruhi perilaku konsumen.

Selain dari kemunculan band-band berhaluan baru, remaja pun menuntut adanya produk-produk budaya pop serupa di sektor lain. Maka pasca MTV kita mengenal adanya film “Kuldesak”, sinetron “Pondok Indah”, dan yang berdampak negatif: budaya nightclubbing dan pengonsumsian narkoba jenis baru yang diasumsikan “keren.”
Apa yang dulu dinilai vulgar dan ofensif menjadi sebuah kewajaran. Konstruksi realitas dunia remaja menjadi berubah. Tujuan hidup pun berubah. Apa yang dulu dinilai sebagai kenakalan dan berimplikasi pada sanksi sosial menjadi terdistorsi. Generasi MTV mengklasifikasikan remaja bukan hanya berdasarkan kekayaan, status sosial orang tua, atau tingkat intelektualitas, tapi juga tingkat “kekerenan” seseorang (one’s coolness).

Secara perlahan, budaya baru ini pun diadopsi oleh para pelaku industri kreatif Indonesia. Secara kasat mata tidak ada yang berbeda antara produk lokal dengan produk asing. Musik Burgerkill bercitarasa sama dengan Mastodon. Film Kuldesak bersanding dengan Reality Bites. Nilai-nilai dalam serial Friends terwujud pada Sinetron Pondok Indah. Inilah yang ahli sosial sebut sebagai budaya hibrid, yang pada akhirnya mewujudkan global village.

Tidak seperti pendahulunya, remaja pasca era MTV mengakses produk budaya pop dengan mudah dan dengan harga bersahabat. Di satu sisi, hibriditas memicu kreativitas remaja untuk mengembangkan dan memberdayakan ekonomi. Namun nilai-nilai budaya yang telah luntur tetap menjadi sorotan. Budaya (MTV) diproduksi secara massal dan didistribusikan dalam kompetisi langsung dengan budaya lokal. Inilah alasan mengapa siaran seperti MTV dikategorikan sebagai industri, sebagaimana industri makanan atau elektronik.

Sejak keterbukaan informasi yang menghentak di era reformasi, banyak stasiun televisi lokal mengadopsi acara-acara seperti MTV. Sementara itu produk-produk budaya pop kemunculan dan inovasinya diinisiasi oleh MTV Indonesia semakin marak digemari kaum remaja. Terlebih, internet sudah menjadi media yang mudah diakses oleh berbagai kalangan. Tak heran jika remaja Indonesia semakin kreatif dalam mengapresiasi dan memroduksi produk-produk budaya pop, sambil – secara sadar maupun tidak sadar – melupakan budaya dan nilai-nilai bangsa.

FTV

Film televisi (atau lebih sering dikenal sebagai FTV) adalah jenis film yang diproduksi untuk televisi yang dibuat oleh stasiun televisi ataupun rumah produksi berdurasi 120 menit sampai 180 menit dengan tema yang beragam seperti remaja, tragedi kehidupan, cinta dan agama. Film layar lebar yang ditayangkan di televisi tidak dianggap sebagai FTV.

FTV (film televisi) mulai muncul di Indonesia pada 1995 di stasiun TV SCTV untuk menjawab kejenuhan masyarakat akan tayangan sinetron. Namun siaran FTV yang saya maksud dalam esai ini adalah siaran FTV yang mulai berkembang pada tahun 2010 yang kebanyakan acaranya berkisar pada roman percintaan beserta bumbu-bumbu konflik di dalamnya. Awalnya formula FTV saya nilai atraktif dan inovatif ketimbang sinetron. Namun seiring dengan meningkatnya rating FTV, pengulangan tema-tema klise pun terjadi sehingga menimbulkan stereotipisasi dari tayangan tersebut.

Menurut Narwoko & Suyanto (2009:322) dalam “Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan” stereotip adalah pelabelan terhadap pihak atau kelompok tertentu yang selalu berakibat merugikan pihak lain dan menimbulkan ketidakadilan. Sementara menurut Myers (2002) (dalam Hanurawan & Diponegoro 2005:117) “Psikologi Sosial: Terapan dan Masalah-Masalah Sosial,” stereotip adalah suatu bentuk keyakinan yang dimiliki oleh seseorang atau suatu kelompok tetntang atribut personal yang ada pada kelompok tertentu.[i]

Plot cerita FTV menimbulkan stereotipisasi sebagai berikut:

  1. Standarisasi status dua pemeran utama, yakni si miskin dan si kaya,
  2. Pemeran utama selain cantik atau tampan, juga dikaruniai kekayaan berlimpah. Sementara lawan mainnya berada di level kekayaan yang terbalik,
  3. Perbedaan status selalu berdasarkan kekayaan atau jenis pekerjaan, bukan tingkat pendidikan atau kualitas moral pemeran utama,
  4. Pemeran utama dengan level kekayaan tinggi sebagian besar mencitrakan dirinya sebagai penikmat gaya hidup.

Hal-hal tadi secara gamblang dapat kita dapati dari sinopsis FTV “Pangeran Betawi Tajir” yang tayang di SCTV:

Engkong Ahmad memiliki anak satu-satunya, Nyak Tini, yang juga hanya memiliki seorang anak laki-laki bernama Reza. Tentu saja Reza menjadi anak emas Engkong dan Nyak. Fisik Reza yang gendut serta impiannya untuk mendapat pacar dengan paras menawan seperti artis membuatnya masih jomblo. Prihatin dengan nasib sang cucu, Engkong rela memberikan warisannya lebih awal supaya bisa digunakan Reza untuk mencari pendamping.

Dibantu  ketiga sahabatnya, Munir, Harja, dan Didik, Reza membeli berbagai macam barang untuk menunjang penampilannya. Dia bahkan membelikan Munir dan Harja sepeda motor bekas untuk mengawalnya selama bepergian. Ketika sedang makan di sebuah restoran, Reza melihat seorang wanita cantik bernama Nadin yang sedang bersedih karena baru saja berpisah dengan pacarnya. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Reza langsung memamerkan segala hartanya untuk menarik perhatin Nadin. Bukannya tertarik, Nadin justru dibuat sebal oleh tingkah laku Reza yang terlalu pede. Dengan bantuan Munir, Harja, dan Didik, Reza mulai memburu Nadin.

Tidak suka dengan sifat Reza yang norak seperti layaknya orang kaya baru, Nadin justru jatuh hati pada Didik yang biasa-biasa saja dan rendah hati. Langkah apalagi yang akan dilakukan oleh Reza untuk membuat Nadin jatuh hati kepadanya? Apakah pada akhirnya Nadin akan memilih Reza daripada Didik? Saksikan kelanjutan ceritanya hanya di saluran Satu untuk Semua.[ii]

Kekurangan fisik Reza tidak membuatnya putus asa dalam menggaet jodoh idaman (yang digambarkan terlalu cantik untuk Reza) karena sebagai putera satu-satunya dari keluarga Betawi, ia akan dimudahkan oleh limpahan harta sang kakek demi meluluhkan hati Nadin. Stereotipisasi terhadap warga Betawi yang senantiasa timbul di televisi adalah bahwa warga Betawi tidak mementingkan pendidikan, suka berkhayal yang tinggi-tinggi, dan menggantungkan harapan pada harta warisan. Stereotipisasi-stereotipisasi tadi kembali muncul di FTV “Pangeran Betawi Tajir” ini.

Padahal belum tentu masyarakat Betawi saat ini masih tidak memedulikan pendidikan. Banyak dari mereka yang melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, atau menjadi ahli di bidang yang digelutinya (sejarawan JJ. Rizal sebagai contoh). Perilaku konsumtif, materialistis, dan hedonistis tergambarkan dari cara Reza menggunakan uangnya untuk membeli barang-barang yang bukan menjadi keperluannya. Di sinilah konsep hiperrealitas Baudrillard timbul.

Hiperrealitas pada prinsipnya berdampak pada sebuah gejala di saat masyarakat tidak hanya memenuhi kebutuhan sebagai nilai guna, namun masyarakat sudah mulai beranjak menggunakan barang sebagai gaya hidup atau tren. Konsumerisme adalah produk dari simulasi, dan konsumerisme adalah gejala dari hiperrealitas. Jadi, hiperrealitas tidak hanya memunculkan keadaan yang semu menjadi nyata, namun juga termasuk perilaku masyarakatnya yang terkena dampak dari gejala hiperrealitas itu sendiri. Masyarakat sudah tidak menggunakan barangnya sesuai kebutuhannya, tetapi malah menggunakan barangnya yang tidak realistis atau tidak masuk akal. Tujuannya adalah semata-mata masyarakat tersebut ingin menunjukkan eksistensi dirinya menjadikan bagian dari perubahan atau gejala budaya yang membentuk dirinya, dalam hal ini adalah identitas. Dalam dunia posmodernisme, masyarakat yang mengkonsumsi apapun adalah masyarakat yang memiliki identitas, “I shop, therefore I am,” saya berbelanja maka saya ada (Sujatmiko, 2007: 01).

Mencegah Hal yang Tidak Bisa Dicegah?

Seiring berjalannya waktu, televisi menjadi salah satu corong terpenting dalam mengedepankan gaya hidup, bahkan cara hidup (way of life). Dalam abad gaya hidup, penampilan adalah segalanya (Ibrahim, 2003).[iii] Sebelum membeli barang pemuas gaya hidup, masyarakat tak perlu berlangganan katalog suatu merk atau datang ke toko, tinggal melihat pakaian model apa yang gandrung dikenakan selebriti. Televisi menawarkan kesempatan tersebut lewat tayangannya.

Televisi seolah-olah merepresentasikan realitas dunia: nilai-nilai utama masyarakat global yang penuh dengan ilusi-ilusi gaya hidup dan mendorong terjadinya perubahan perilaku serta preferensi remaja di kehidupan sehari-hari. Ada dampak memperihatinkan lain dari siaran FTV. Yaitu kecenderungan stasiun televisi untuk menjiplak mentah-mentah plot, adegan, hingga tema cerita dari tayangan film luar (terutama Korea). Terbayang di benak remaja suatu pengerdilan akan konsep orisinalitas dalam berkreasi. Menjiplak mentah-mentah suatu karya seni dari pihak asing adalah suatu kewajaran.

Indonesia telah memiliki lembaga pemantau siaran media elektonik, yakni Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), namun peran KPI setelah menemukan adanya acara yang tidak sesuai dengan ketentuan hanyalah memberikan surat teguran ke stasiun TV terkait. KPI tidak mempunyai hak untuk menghentikan suatu program acara tetap tayang.

Beberapa tahun lalu tayangan infotainment “Silet” berhenti tayang akibat banyaknya gugatan yang diterima RCTI saat acara tersebut melalui pembawa acaranya menyatakan Yogyakarta sebagai kota bencana. Lembaga-lembaga sosial utama yang telah mapan (keluarga, agama, pendidikan) diharap senantiasa mampu mendidik masyarakat dalam menghadapi tayangan-tayangan televisi tidak hanya saat identitas kultural tertentu dilecehkan (kasus tayangan “Silet”), tapi juga tayangan-tayangan lain yang hanya mengedepankan unsur hiburan dan mengutamakan rating semata.

Keterbukaan informasi, di era yang semakin cepat ini, adalah suatu keniscayaan. Dan sensor dari pemerintah bukanlah jawaban. Kontrol, internalisasi dan sosialisasi nilai dari institusi sosial terdekat, keluarga, saya nilai masih menjadi kunci bagi pembentukan karakter anak. Bagaimana mungkin seorang anak lepas dari pornografi jika sejak usia dini sudah diberi gawai canggih berakses internet tanpa dikawal orangtua? Bagaimana mungkin seorang anak bisa memilah mana tayangan yang baik/tidak jika setiap hari menyaksikan acara gosip bersama sang ibu?

Media adalah pedang bermata ganda, dan kewenangan mutlak ada pada kita dalam memilih tayangan. Logika industri hiburan termasuk televisi adalah logika kapitalistis: logika untung-rugi. Sebesar apapun usaha pemerintah untuk mengontrol, mereka senantiasa akan terlambat mengejar sekian langkah di dunia yang semakin bergegas ini.


 

[i] http://pemujawarnaungu.blogspot.com/2012/05/stereotip.html. Diakses pada 30 Oktober 2014.

[ii] http://www.sctv.co.id/sctv-ftv-pagi/pangeran-betawi-tajir_24753.html. Diakses pada 30 Oktober 2014.

[iii] Ibrahim, Idi Subandy. 2003. Kamu Bergaya Maku Kamu Ada! Masyarakat Pesolek dan Ladang Persemaian Gaya Hidup (kata pengantar untuk “Lifestyles: Sebuah Pengantar Komprehensif). Yogyakarta: Jalasutra.

DAFTAR PUSTAKA

Baran, Stanley J dan Dennis K. Davis. 2010. Teori Komunikasi Massa: Dasar, Pergolakan, dan Masa Depan. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika

Barker, Chris. 2004. Cultural Studies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Kreasi Wacana

Chaney, David. 2011. Lifestyles: Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra

Strinati, Dominic. 2009. Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x