Mudik: Terasing dan Hilang dalam Ritual yang Karib

Cinta bikin kita tua

Dan lekas lupa

Hanya berdebar sebentar di lebaran

Dan mengulangnya lagi tahun depan

(“Pulang Kampung” – Gunawan Maryanto)

Tatkala ritual telah menjadi sekadar tradisi maka ia rentan kehilangan esensi. Redundansi adalah musuh spiritualitas di dunia yang semakin kehilangan ruang-ruang hangat. Agaknya kita bisa menyepakati hal ini dan lewat Mudik, sutradara Adriyanto Dewo mengajak kita mempertanyakan esensi tradisi tahunan masyarakat Indonesia ini.

Mudik adalah peristiwa sosial skala besar yang lekat dengan cara orang Indonesia berislam, yang dipicu urbanisasi masif sejak dekade 1970an. Ia juga melibatkan atau terkait dengan peristiwa-peristiwa lain seperti takbir keliling, sungkeman, bagi-bagi angpau, ziarah kubur, pamer baju atau kendaraan anyar, hingga reuni bertajuk Syawalan. Islam tak menjadi entitas tunggal karena ia melebur dengan kondisi kemasyarakatan di berbagai daerah.

Kata “mudik” dapat kita kelompokkan dalam keranjang bernama kemeriahan kolektif. Namun, mengingat film ini digarap oleh Adriyanto Dewo, penonton musti mengantisipasinya dengan hati yang lapang dan terbuka.

Film produksi tahun 2019 ini pasti berbeda dengan Mencari Hilal (Ismail Basbeth). Sama-sama film perjalanan yang dilakukan menjelang Lebaran, Mencari Hilal riuh dengan simbol-simbol Islam dan narasi perlawanan terhadap apa yang salah (di mata pembuat film) dalam cara kita beragama dan bermasyarakat.

Mudik dimulai dengan ketidaksiapan Aida (diperankan dengan amat prima oleh Putri Ayudya) sebelum memulai perjalanan ke kampung halaman Firman (Ibnu Jamil), suaminya.

Tidak ada baju koko atau mukena baru. Tidak ada oleh-oleh untuk saudara di rumah. Tidak ada makanan apa pun untuk bekal di perjalanan. Baju-baju Aida kemas ke dalam koper dengan merawak. Bahkan, Aida tak mempersiapkan dirinya dengan layak. Ia tak memulas kosmetik jenis apa pun di wajahnya.

Raut wajah Aida dan Firman kumal, rambut keduanya pun kusut masai. Mudik mereka jalani dengan enggan sembari menyeret masalah pelik yang selama ini mengintai. Tatkala percakapan pertama mereka adalah pertengkaran, perihal keadaan yang amat remeh, penonton pun paham bahwa tak ada yang Islami dari mudik yang mereka jalani.

Tak ada simbol Islam apa pun yang mereka bawa dan kenakan sepanjang perjalanan (kecuali kerudung, yang Aida kenakan sekenanya di satu adegan singkat). Islam dan keislaman mengitari mereka, namun sama sekali tak mereka sentuh. Tidak ada percakapan mengenai rencana sahur atau berbuka puasa.

Sepanjang perjalanan hanya sekali mereka salat, itu pun hanya Firman yang melakukan. Ironisnya: salat justru menyingkap kotak pandora yang selama ini Firman tutup rapat-rapat. Alih-alih membawa berkah, salat justru mengantar musibah.

Mudik Lebaran dari segi pelibatan jumlah manusia mengalahkan festival Diwali di India, dan hanya bisa disaingi tradisi chunyun, yang dilakukan orang-orang Cina sebelum Imlek. Tradisi mudik tak dikenal atau dijalankan umat muslim di negeri asalnya (Hijaz).

Mudik memang bukan ritual peribadatan agama Islam, tapi siapa yang berani menyangsikan signifikansi sosiokulturalnya di masyarakat kita? Kegagalan menangani mudik dapat menjadikan presiden negara ini sasaran tembak kritik oposisi.

Mudik, yang sejatinya amat karib bagi umat Islam Indonesia, yang sangat disikapi dengan sukacita, menjadi penyebab keterasingan Aida dan Firman. Salah satu esensi kedirian mereka hilang, dan mereka pun kehilangan satu sama lain dalam film yang gagal tayang di bioskop karena pandemi ini.

Perempuan yang bersolidaritas dalam senyap

Sepanjang kiprahnya di perfilman, tema perjalanan acap menjadi bingkai kekaryaan Adriyanto Dewo. Dalam film pendek Menunggu Warna, kedua tokohnya digambarkan berbahagia di akhir film, dalam adegan perjalanan sepeda motor. Dalam One Night Stand, yang tayang dua tahun setelah Mudik, hubungan Ara dan Lea bertransformasi seiring perjalanan spontan yang mereka jalani. Pun dalam Tabula Rasa, yang melejitkan nama Adriyanto, diawali dengan hijrahnya tokoh Hans dari Serui ke Pulau Jawa untuk berkarier di dunia sepakbola.

Ketiga film di atas menyuguhkan sensasi kelat-manis (bittersweet) sepanjang film, yang membedakan mereka dengan Mudik. Dalam film ini, Adriyanto ingin mengajukan gugatan-gugatan kecil dengan subtil. Menariknya, ide penggarapan Mudik diawali kegelisahan Adriyanto terhadap tingkat kecelakaan lalu lintas yang tinggi setiap mudik Lebaran.

Dalam Mudik, kecelakaan lalu lintas bertransformasi sebanyak tiga kali. Pertama ia sekadar lewat dalam siaran berita televisi (di rumah) dan radio (dalam mobil). Kedua, kecelakaan hadir langsung di depan mata Aida dan Firman, kala menyaksikan korban di bahu jalan. Ketiga, seperti menampik dua isyarat tersebut, mereka sendiri yang menjadi penyebab kecelakaan.

Di paruh pertama film, walau kerap digerogoti kecerewetan dan kemurungan Aida, Firman tampak sebagai suami yang memegang kendali. Ia menampakkan otoritasnya atas Aida lewat bahasa tubuh dan intonasi bicara. Namun itu hanya sementara. Walau gestur dan kata-katanya memampangkan kuasa, ia toh luluh oleh keinginan Aida untuk menengok dan mengurus Sugeng, yang tewas karena Aida tabrak. Patut kita ingat juga, Aida-lah yang memegang kemudi mobil saat kecelakaan terjadi—sementara Firman tidur.

Pada akhirnya mereka memutuskan untuk bertanggung jawab. Sementara Firman sibuk bersawala dengan para pemuka kampung (yang seluruhnya laki-laki), Aida diam-diam mengupayakan perdamaian kepada Santi (Asmara Abigail), istri mendiang Sugeng.

Mulanya tentu tak mudah. Sugeng adalah TKI yang sudah lima tahun tak pulang kampung. Nahas, Santi-lah yang memohon kepada si suami untuk pulang di Lebaran kali ini. Kematian Sugeng meninggalkan kesedihan bagi tiga orang yang seluruhnya perempuan: Santi, Gendis (anak perempuan mereka yang berusia 8 tahun), dan ibu Sugeng.

Desa Sugeng berada di kawasan pegunungan kapur yang tandus dan tentu saja miskin. Itulah mengapa Sugeng bekerja sebagai buruh migran, atau bagaimana para pemuka kampung bersemangat meminta 30 juta rupiah kepada Firman sebagai kompensasi kematian Sugeng.

Dengan lihai, Adriyanto menunjukkan bahwa para perempuanlah yang mencari nafkah di desa tersebut. Walau para perempuan cuma duduk di luar pendopo saat musyawarah, walau Santi tak pernah dihadirkan saat para pemuka desa bernegosiasi dengan Firman, kaum hawa menopang kehidupan melalui kerja-kerja nyata nan samar. Lebih tepatnya menjadi samar berkat kerja kamera yang dinakhodai sinematografer Vera Lestafa (yang juga perempuan).

Hal itu setidaknya tergambar dalam dua adegan. Pertama saat Aida mencari Santi di rumahnya, di mana ia memapasi seorang perempuan yang sedang menjemur singkong di belakang rumah. Kedua, adegan dua perempuan yang berjalan menggotong hasil bumi saat rembuk kedua di pagi hari.

Aida (Putri Ayudya) dan Santi (Asmara Abigail).

Plot menjadi semakin intens saat Aida berhasil membujuk Santi untuk meninggalkan desa. Para pemuka pun berang karena kehilangan kesempatan mendapat rezeki nomplok. Santi menyerang balik, mengatakan bahwa motif mereka cuma uang, tanpa memedulikan keadaan keluarga Sugeng.

Para pemuka desa yang tidak puas baru bisa teratasi ketika disodori Aida uang (yang jumlahnya tak sesuai dengan kesepakatan). Kita bisa melihat ekspresi wajah Firman saat penyerahan amplop itu terjadi. Ia tak mengetahui dua keputusan Aida: keputusan membayar pemuka desa dengan uangnya sendiri dan kesepakatan yang ia buat dengan Santi.

Di sekujur film kita disuguhkan para lelaki yang berdebat (Firman versus pemuka desa, Firman versus Agus), namun nasib mereka justru dikendalikan para perempuan yang bersolidaritas dalam senyap.

Kenyataan ini turut mencitrakan bagaimana para lelaki, yang tampak tangguh, rasional dan tegas, justru kehilangan otoritas di ranah domestik—di lingkup sosial terkecil. Tak peduli lelaki tersebut berasal dari kota ataupun tinggal di desa.

Otoritas rapuh para lelaki

Seiring bertambah usia kita dituntut untuk memainkan banyak peran. Lebaran adalah festival teater bertema pemujaan terhadap imaji keluarga ideal. Saat Lebaran, kita berperan sebagai anak sekaligus istri/suami sekaligus ibu/bapak sekaligus keponakan sekaligus tante/paman sekaligus tetangga sekaligus pemudik secara simultan.

Anda tentu familier dengan lelucon Lebaran mengenai pertanyaan para tante soal kapan kita lulus kuliah, kapan menikah, kapan memiliki anak, dan seterusnya? Di balik lelucon tersebut, ada standar kemasyarakatan tertentu yang dipaksakan. Di balik kegeraman anak-anak muda terkait pertanyaan di atas, ada resistensi terhadap norma-norma sosial yang telanjur baku dan beku.

Adriyanto mengkritik hal tersebut melalui tokoh Agus (Yoga Pratama), sahabat Sugeng. Dalam Mudik, ia dua kali menggugat Firman: mengapa membiarkan mobil dikemudikan Aida? Di mata Agus tak seharusnya pekerjaan berat seperti itu dilakukan perempuan.

Namun, seiring bergulirnya film, karakter Agus mengalami transformasi penting. Kemiskinan membuatnya tergiur dengan “muslihat” Santi, bahwa Aida-Firman dapat mencarikannya pekerjaan di Jakarta. Otoritasnya sebagai warga desa sekaligus sahabat korban serta merta lenyap. Ia tak lagi pongah dan kematian Sugeng seperti telah lama berlalu.

Otoritas maskulin yang rapuh tentu saja sangat tercermin dari karakter Firman. Ia gagal bernegosiasi dengan pemuka desa. Ia, yang telah membayar dua petugas polisi demi membantunya bernegosiasi, menelan kenyataan pahit ketika mereka tak hadir saat musyawarah kedua. Mereka bahkan tidak merespons panggilan telepon dan pesan yang ia kirim.

Sebagai suami ia gagal menjalankan tugas sebagaimana kepala keluarga lain: membawa keluarganya berkumpul dengan sanak saudara di kampung saat Lebaran.

Solidaritas senyap yang Aida dan Santi lakukan begitu mujarab menyelesaikan masalah, atau setidaknya separuh masalah. Sebab kematian Sugeng adalah berkah-dalam-musibah bagi Santi. Ia selama ini berselingkuh dengan Agus, sampai-sampai mengandung anak kawan suaminya itu.

Tak hanya dua lelaki yang masih hidup, otoritas Sugeng pun hancur in absentia. Suami macam apa yang tega meninggalkan istri, anak dan ibu di kampung tanpa sekali pun pulang selama lima tahun? Lelaki macam apa yang membiarkan istrinya dibuahi lelaki lain?

Ketika Santi berkata “sekarang aku mesti bilang apa sama orang kampung?” kala didekap Aida, sesaat lagi dia justru bersiasat dengan pembunuh suaminya: Agus musti “dijebak” agar mau diajak menemui orang tua Santi. Ia ternyata memaksa Sugeng pulang agar kehamilannya tak mengundang kecurigaan siapapun.

Alasan apa pun takkan membenarkan perselingkuhan. Tetapi lima tahun adalah waktu yang teramat lama. Tak ada jaminan Sugeng tidak melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih bejat, di perantauan.

Aida berhak iri pada Santi, yang berhasil meraih kebahagiaan di akhir film. Rahim Santi sehat belaka sehingga bisa membahagiakan tak cuma satu, bahkan dua lelaki—tak seperti Aida. Tapi ternyata di pengujung film keduanya berpelukan dengan erat. Walau tak salat Ied, Aida menemukan momen epifaninya di adegan ini.

Lantas Aida melanjutkan perjalanan seorang diri. Menuju entah. Tanpa Firman.

Sama-sama bangsat dan tak selamat

Di sebagian besar film-film perjalanan (road movie) Indonesia, para tokoh utama bepergian untuk memecahkan masalah. Dalam Mencari Hilal, Mahmud berkhidmat menjadi muslim yang kafah dengan menyaksikan hilal seperti waktu di pesantren dulu. Putranya, Heli, menemani Mahmud demi memenuhi permintaan sang kakak, yang berjanji mengurus paspor Heli agar bisa berangkat ke Nikaragua.

Yusuf dan Ambar dalam 3 Hari untuk Selamanya (Riri Riza) melakukan perjalanan darat ke Yogyakarta untuk memecahkan masalah Ambar, yaitu menghadiri pernikahan kakaknya. Pun Me vs Mami (Ody C. Harahap), di mana Mami dan putrinya, Mira menjenguk nenek yang sedang sakit di Padang.

Mudik berbeda. Firman dan Aida pulang kampung saat rumah tangga mereka diombang-ambing masalah. Masalah tersebut, alih-alih diberesi, hanya disapu alakadarnya dan disembunyikan di bawah karpet.

Pulang tak selamanya menentramkan. Ada sekitar 123 juta pemudik di Lebaran tahun 2023. Maka beruntunglah mereka yang menjalaninya dengan hati yang lapang. Walau tahu bahwa setelah bermaaf-maafan, kita akan kembali saling bertengkar dan berbantah-bantahan. Setidaknya, hati yang lapang tak memikul beban serta awan pekat. Alangkah indahnya bila mudik tak menjadi sekadar harus, namun suatu hal yang diperlukan bagi yang menjalankan.

Bila memiliki keturunan adalah hal yang penting bagi Firman dan keluarganya, Aida tidak pantas dibohongi. Kegalauan Aida mempunyai justifikasi. Di mata masyarakat, perempuan yang ideal adalah yang mampu memberikan keturunan. Ideal sama artinya dengan berfungsi. Aida serta jutaan perempuan lain merasa gagal sebagai manusia, karena tak berfungsi laiknya perempuan lain. Jika sudah begini, cinta saja sering tak cukup.

Maka benarlah Gunawan Maryanto dalam puisi yang penggalannya saya taruh di awal tulisan. Pulang kampung cuma memanjang-manjangkan luka. Aida dan Firman, sepanjang film, seperti meminjam satu bait lagi dari puisi almarhum:

“Sudahlah, kita bangsat, sama-sama tak selamat.” ♦

Mudik | 2019 | Durasi: 93 menit | Sutradara: Adriyanto Dewo | Penulis: Adriyanto Dewo | Sinematografer: Vera Lestafa | Produksi: Lifelike Pictures, Relate Films | Pemeran: Asmara Abigail, Putri Ayudya, Ibnu Jamil, Yoga Pratama | Medium Menonton: Netflix

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x