Aum!: Revolusi Dimulai di Ruang Senyap dan Sejak Itulah Tentara Menyelinap

Militer emang cuma bisa pake kekerasan. Sama kayak Bapak.”

– Satriya

Seni adalah mikrokosmos sekaligus pantulan dari kehidupan. Film, yang meramu berbagai unsur seni lain, dianggap sebagai medium paling tepat untuk mencitrakan realitas. Kata Ingmar Bergman, film adalah seni yang paling manjur menghunjam perasaan, meluncur jauh ke ruang-ruang gelap jiwa kita.

Sebelum menonton Aum! (Bambang “Ipoenk” Kuntara Mukti) yang tayang 2021 lalu, rasa skeptis terus menyergap. Film berlatar peristiwa besar perlu diperlakukan dengan hati-hati agar sejarah tidak tereduksi dan menciptakan tafsir serampangan. Di sisi lain, film bertema sejarah musti memadai untuk ditonton banyak kalangan.

Seiring perubahan zaman dan sikap masyarakat atas suatu peristiwa, berubah pula kreasi film yang menyentuh topik sensitif. Look Who’s Back (David Wnendt) dan Jojo Rabbit (Taika Waititi), yang mengolok-olok sosok Adolf Hitler, mustahil tayang saat ia dan fasisme berkuasa.

The Round Up karya Roselyne Bosch menggambarkan Penyekapan Velodrome d’Hiver (16–17 Juli 1942) lewat perilaku warga biasa. Itu adalah momen mengerikan bagi kaum Yahudi saat Perang Dunia II berkecamuk. Kepolisian Perancis—atas desakan Nazi—menangkapi puluhan ribu orang Yahudi sebelum menggiring mereka ke ladang pembantaian di Auschwitz. Unsur drama dan keberpihakan pada penyintas hadir lewat tokoh-tokoh biasa seperti perawat Annette, dokter Yahudi, dan anak-anak. Para politisi seperti Hitler dan Heinrich Himmler memang ada, tetapi ditampilkan terbatas.

Film bertema sensitif harus memadai untuk ditonton agar film, yang juga sarana hiburan, tak mengorek luka lama para penyintas. Sang sineas dituntut untuk kreatif sekaligus sensitif. Apalagi, kita sedang berada di era post-truth, di mana kenyataan, sejarah, bahkan pengetahuan acap didistorsi demi keuntungan kelompok.

Hidup adalah penggalan sejarah-sejarah kecil sebab peristiwa besar apa pun menyeret nasib sang sudra. Reformasi ternyata tidak “selesai”. Tuntutan demiliterisasi dan pembubaran Golkar segera layu sebelum mekar. Nasib mahasiswa dan aktivis yang hilang masih gaib, rekonsiliasi tak kunjung terwujud, dan mereka yang diduga terlibat dalam kerusuhan enteng berlaga di percaturan politik. Pada 2007, para anggota dewan memvonis mati usul Pengadilan HAM ad hoc Tragedi Semanggi I dan II.

Tak heran bila film dokumenter menjadi pendekatan paling memungkinkan untuk menceritakan peristiwa dari sudut pandang alternatif. Dalam Jiwa Reformasi dan Hantu Masa Lalu: Sinema Indonesia Pasca Orde Baru (2019), Quirine Van Heeren menjelaskan maraknya pembuatan film dokumenter yang melawan narasi tunggal pemerintah setelah Reformasi. Film-film dokumenter tersebut antara lain Kameng Gampoeng nyang Keunong Geulawa (Aryo Danusiri), Perempuan di Wilayah Konflik (Gadis Arivia), Kado Buat Rakyat Indonesia (Daniel Indrakusuma), dll.

Film-film konvensional—pendek maupun panjang—bertema ’98 baru diproduksi belakangan. Kebanyakan menyajikan kisah orang-orang kecil yang terdampak Reformasi. May (Viva Westi), Huan Chen Guang (Ifa Isfansyah), Sugiharti Halim (Ariani Darmawan), dan Langit Masih Gemuruh (Jason Iskandar) mengajak kita menyaksikan peristiwa ‘98 dari sudut pandang perempuan Indonesia-Tionghoa. Sementara dalam Istirahatlah Kata-Kata (Yosef Anggi Noen), peristiwa ‘98 tidak tampil berapi-api karena menyoroti hidup penyair Wiji Thukul di pelarian.

Barulah pada 2015 Lukman Sardi mengisi kekosongan dengan Di Balik 98. Sayang, karena amat berhasrat menampilkan kerusuhan sosial dan kejatuhan Suharto sekaligus, filmnya kedodoran di aspek teknis dan penceritaan. Lukman begitu bernafsu merepresentasikan banyak pihak, termasuk tokoh-tokoh yang sebenarnya tak berperan penting di pusaran. Walhasil, film itu tampil layaknya parade katro, tak ubahnya diorama di museum-museum militer.

Tema kebebasan berpendapat sebagai fokus

Dalam Aum!, Linda (Agnes Natasya Tjie) berkali-kali menyuruh rekan-rekannya untuk tak berisik. Omelannya paling sering menyasar Panca (Chicco Jerikho), yang kerap berteriak saat mengarahkan pemain dan kru. Situasi sedang genting dan mereka tak bisa menarik perhatian.

Di situasi inilah Linda dan idealismenya harus menepikan kualitas. Dalam rezim yang paranoid dan penuh sensor, orde baru tak hanya menyulitkan pers, tapi juga setiap inci kehidupan bermasyarakat.

Awalnya memang terasa menyebalkan, tapi larangan Linda itu justru menjadi permainan logika yang cerdas. Kesenyapan tentu saja berlawanan dengan judul dan cita-cita film. Auman singa atau harimau atau macan sanggup merobek situasi sesunyi apa pun.

Linda dan kawan-kawan seperti mengingatkan bahwa revolusi selalu dimulai di ruang senyap. Sebelum Reformasi pecah kita tahu ada Malari, Petisi 50, Kedung Ombo, Marsinah, hingga Kudatuli. Sebelum ia menjadi panggung bagi orang-orang seperti Fahri Hamzah dan Adian Napitupulu, api perlawanan dinyalakan oleh orang-orang di periferi lewat diskusi-diskusi, kursus-kursus politik, hingga penyebaran pamflet dan buku perlawanan. Sebelum Reformasi ‘98 mengaum, diperlukan pematangan siasat dan pengendapan gagasan yang tabah.

Baru sepuluh menit menonton Aum! segala keraguan serta merta sirna. Bambang mengambil strategi dan pendekatan berbeda dibanding film-film bertema peristiwa ‘98 lain. Di faktor strategi, film ini cerdik memanfaatkan bujet. Karena pengambilan gambar dilakukan di lokasi-lokasi dengan set sederhana, ongkos produksi dapat dipangkas, sehingga bisa menggunakan dua aktor populer.

Ini strategi jitu karena saya kira film membutuhkan aktor beken seperti Chicco Jerikho dan Jefri Nichol agar mendapat eksposur yang luas. Sebabnya sederhana. Aum! adalah debut sutradara tak dikenal dan sampai 12 Mei 2023 cuma tayang di Bioskop Online (saat ini sudah dapat ditonton di Netflix).

Aspek terpenting adalah pendekatan mokumenter/found footage dan meta yang diambil Bambang. Penonton awam, yang mungkin menonton karena daya tarik Jefri, akan disodori tegangnya produksi film gerilya dan tingkah laku kocak para kru. Penonton juga akan terpapar motivasi para pemain dan kru yang antagonistik.

Bandingkan pendapat-pendapat Satriya (Surya Jatitama/Jefri Nichol) dengan Adam (Bram Sanjaya/Aksara Dena). Satriya tampil sebagai orang yang memahami tujuan sakral pembuatan film dan krisis sosial-politik yang terjadi. Sementara tokoh Adam diperankan oleh aspiring actor yang memandang seni per se. Simak gestur tangan dan mimik wajahnya yang berlebihan saat berpendapat mengenai film. Saya sontak membayangkan gaya abang-abangan seni rupa kala menjelaskan kredo jiwa kethok-nya S. Soedjojono.

Sama dengan Adam, Panca menganggap seni sebagai panglima. Ia dan Linda telah berdebat bahkan sejak briefing pertama. Linda sebaliknya, bersikeras bahwa karyanya harus menyadarkan masyarakat luas, sehingga mereka percaya bahwa reformasi itu penting.

Tersampainya semangat itu menjadi raison d’etre Linda dalam film. Agnes, yang lebih dikenal sebagai model, tidak terlihat canggung beradu akting dengan Chicco. Penampilannya sebagai produser yang cerewet dan menyebalkan cukup meyakinkan. Penonton pun semakin mudah berpihak pada Panca yang lebih nyeni dan kharismatik walau ia skeptis pada Reformasi. Bahkan, beberapa kru dan pemain pun keberatan saat musti kehilangan Panca yang memutuskan keluar dari produksi film.

Keluwesan ini saya kira dapat Bambang lakukan karena ia fokus pada frasa ‘kebebasan berpendapat’. Seperti yang saya kemukakan di muka, orde baru begitu jorok melakukan sensor dan pembungkaman. Alih-alih menyentuh peristiwa yang telah diketahui umum—seperti pemberedelan perusahaan pers (Tempo dll) dan pembunuhan jurnalis (Udin), Bambang memilih film, medium penyampai pesan yang kurang populer pada zaman itu. Produksi film sepanjang dekade ‘90an merosot, babak belur dihajar film-film impor dan televisi. Belum lagi jika menghitung krisis ekonomi sebagai faktor.

Dengan berfokus pada tema ini, Aum! berfungsi sebagai tugu peringatan: warga negara belum sepenuhnya bebas dalam mengutarakan pendapat. Bahkan, kini penguasa dapat dengan mudah memprovokasi kelompok tertentu untuk melakukan pembungkaman. Intel Melayu telah cakap melakukan digital surveillance. Pasal-pasal karet diasah sampai runcing melalui UU ITE dan KUHP. Di ranah film, Kucumbu Tubuh Indahku (Garin Nugroho)—yang memborong delapan penghargaan di Festival Film Indonesia 2019—ramai diboikot dan tak bisa tayang di beberapa daerah.

Triptych, atau tiga menguak tabir

Tidak hanya dalam film porno atau adegan erotis, kamera juga menelanjangi yang lain (baca: realitas). Mengikuti paradigma Christian Metz, penonton adalah pengintip dan menonton sinema adalah laku voyeuristik.

Dalam Aum!, penonton menyaksikan tiga lapis kenyataan lewat tiga kamera. Pertama, kamera yang merekam adegan film, atau Bagian 1 dalam Aum!-nya Linda/Panca. Kamera ini dikendalikan oleh Anwar (Kukuh Riyadi), yang kerap bertingkah jenaka sepanjang film. Di bagian ini kita disuguhi pelarian Satriya dan kawan-kawan dari kejaran militer, yang dipadukan dengan simbolisasi melalui tari dan performance art.

Yang kedua adalah sudut pandang kamera Paul Whiteberg (juga dikendalikan Anwar), yang merekam wawancara kru dan aktor. Paul adalah wartawan Amerika Serikat yang hadir untuk mendokumentasikan proses syuting. Akibat konflik Linda-Panca yang tak terelakkan, Aum! versi mereka cuma berlangsung 25 menit. Melalui kamera kedua, pendapat para kru dan pemain menggambarkan bahwa dalam situasi segawat apa pun manusia tetaplah makhluk oportunistik.

Rekaman kamera kedua mengikuti metode perobohan dinding keempat yang kerap dilakukan film-film meta seperti Waiting for Guffman (Christopher Guest) dan Adaptation (Spike Jonze). Kita dibuat sadar, yang kita tonton cuma rekaan. Bila semesta filmnya tak menarik, penonton akan segera minggat dari bioskop atau menutup aplikasi. Ini adalah jalan yang penuh risiko dan Bambang melangkah di atasnya dengan anggun. Apresiasi juga layak diberikan kepada Ujel Bausad, sang penata fotografi, yang membuat Aum! meraih penghargaan Sinematografi Terbaik di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2021.

Kamera atau sudut pandang ketiga berasal dari kamera Paul dan asisten, yang melakukan perekaman di balik layar (behind the scene). Melalui sorotan mereka, penonton diajak untuk mengintip dinamika kekuasaan antara Linda dan Panca, keluh kesah para kru, kegigihan aktor dalam mementaskan adegan (terutama Satriya), juga suasana sepi nan mencekam saat Reformasi berlangsung.

Kamera terakhir menjadi yang terpenting kerena dua kamera lain merekam pernyataan dan tindakan yang dipenuhi kepura-puraan. Di hadapan kamera pertama para aktor “berpura-pura” lewat akting bermodal skenario dan arahan sutradara. Di depan kamera kedua mereka tahu pernyataan mereka akan dianggap penting oleh penonton, sehingga masing-masing menyingkap tendensi tertentu. Kedua kamera tadi tidak merekam secara spontan dan menyelidik, berbeda dengan kamera ketiga. Kamera terakhir juga bisa menjadi bukti penting yang dapat Paul gunakan apabila terjadi hal buruk pada Linda—yang bernasib nahas di akhir film.

Strategi tiga sudut pandang ini menjadi seperti triptych, jenis lukisan di mana karya lukis digores di atas tiga panel yang berjejer. Triptych adalah trinitas di mana yang satu melengkapi yang lain. Aum!-nya Linda/Panca belum selesai, hanya berdurasi 25 menit. Sementara, rekaman kamera kedua dan ketiga jika ditayangkan tanpa rekaman kamera pertama akan kehilangan maknanya.

Ketiga rekaman ini disusun rapi sehingga ending film berkelok halus namun tetap menegangkan. Orang-orang—warga lokal, tukang bakso, serta pegawai kebun binatang—yang mereka temui di berbagai lokasi syuting ternyata intelijen militer, sama seperti sang sutradara. Ada yang mengkritik kelokan plot ini terlalu dibuat-buat. Namun, bukankah seperti itu cara militer bekerja? Aum! menggambarkan dengan baik satu era ketika penyokong utama Suharto merasa terancam oleh rakyatnya sendiri.

Dan, bukankah kita belum sepenuhnya lepas dari militerisme? Pada Februari 2023 tersiar kabar rencana perluasan wilayah Komando Daerah Militer (Kodam) ke seluruh provinsi. Tentu saja ancaman separatisme dan terorisme dijadikan dalih. Penggagasnya? Orang yang kerap disebut sebagai dalang penculikan aktivis ‘98.

Sama seperti Boogie Nights (Paul Thomas Anderson) dan Catatan Akhir Sekolah (Hanung Bramantyo), Aum! dapat pula kita kategorikan sebagai homage untuk seni filmmaking. Dialog dan tingkah konyol para kru mencerminkan bahwa film tak semegah dan semewah yang tampak di publik. Di baliknya ada kerja-kerja keras para pekerja film yang kerap terabaikan.

Pada akhirnya Aum! bisa menjadi banyak hal, sebagaimana karya seni pada umumnya. Berkat suguhan humor yang efektif (favorit saya ucapan Panca: “karena filmku ini… sinema… dialektika!”), film ini terampil menjalankan fungsinya sebagai penghibur. Sinematografinya memang tampil cukup berani, tapi publik toh telah akrab dengan film-film mokumenter horor. Yang pasti, Aum! adalah debut manis nan menjanjikan dari Bambang “Ipoenk” Kuntara Mukti. []

Aum! | 2021 | Durasi: 85 menit | Sutradara: Bambang “Ipoenk” Kuntara Mukti | Penulis: Bambang “Ipoenk” Kuntara Mukti, Gin Teguh | Produksi: Layar Tantjap Film | Pemeran: Jefri Nichol, Chicco Jerikho, Aksara Dena, Agnes Natasya Tjie | Medium Menonton: Bioskop Online

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x