Rahasia Keji dan Tiga Ibu yang Tersubordinasi dalam Horor Psikologis ‘Affliction’

Mengikuti langkah mayoritas sutradara Indonesia lain, Teddy Soeriaatmadja akhirnya menyutradarai film horor: Affliction. Film ini tayang enam belas tahun setelah Banyu Biru, drama surealis yang mencuatkan namanya di kancah perfilman nasional.

Publik mengenal Teddy sebagai sutradara dengan karya-karya yang bersandar pada penceritaan kuat. Ia lumayan doyan menggugat nilai-nilai mapan seperti kompetensi seorang patriark dalam Banyu Biru dan keluarga heteronormatif dalam Lovely Man. Khusus yang terakhir, bersama Something in the Way dan About a Woman adalah bagian dari Trilogy of Intimacy yang merupakan ekspresi estetisnya sebagai sutradara.

Dalam keempat film di atas, Teddy menampilkan semesta drama minim karakter dan konflik terbuka. Para tokohnya memang antagonistik, tapi karena larut akan kesedihan dan bebannya masing-masing, mereka tampak lelah untuk berkonfrontasi terlalu frontal. Biasanya mereka berpaling satu sama lain, terus mencoba menghindar sebisa mungkin. Mereka adalah potret masyarakat urban.

Dengan gaya penyutradaraan dan penceritaan demikian, masalah utama harus diperdalam dengan karakterisasi serta motif yang kuat. Dengan begitu, penonton dapat mengikuti irama film tanpa terjebak dalam dramatisasi mentah. Mungkin itu menjadi alasan mengapa durasi film-filmnya relatif pendek. Di antara empat film di atas, Something in the Way menjadi yang terpanjang (96 menit).

Dan dengan nekat Teddy menggunakan formula tersebut di film horor perdananya, di mana ia mengoplos rumus filmmaking andalan dengan pendekatan horor psikologis di film yang didistribusikan Netflix ini.

Rahasia keji yang membelenggu

Nekat di sini bisa berdampak positif serta negatif. Mari kita telusuri kemungkinan-kemungkinan buruknya dulu.

Genre horor adalah lahan basah sineas Indonesia berkat potensinya dalam mendulang laba. Sebab lazimnya saudagar, para produser dan rumah produksi lebih suka dan akan selalu suka bertaruh pada pihak yang punya kans kemenangan tinggi. Tak perlu kita menghadirkan perdebatan retoris ayam-versus-telur. Dalam konteks budaya sinema Indonesia, selera penonton dan aspirasi bisnis produsen film adalah dua hal yang saling menyokong terciptanya film-film horor berkualitas buruk.

Pola saling-pengaruh tersebut telah berlangsung puluhan tahun, sehingga genre horor terbelenggu dalam kerangka yang ajek dan formulais. Sebut saja adanya unsur seks/erotika, hantu-hantu yang kebanyakan perempuan, kengerian yang mengandalkan score musik dan jumpscare eksesif, penyempalan unsur-unsur agama (umumnya Islam) dan mitos (terutama Jawa), dan lain-lain. Bahkan ketika Joko Anwar, Timo Tjahjanto, atau Kimo Stamboel dilekatkan dengan kebangkitan estetis genre horor, karya-karya mereka tetap bersentuhan dengan formula-formula di atas.

Affliction tidak mempromosikan jenis setan tertentu. Penonton tidak diberi tahu mitos atau ritual apa yang menjadi menu utama film. Padahal tren film horor akhir-akhir ini begitu mengandalkan horor ritualistis, yang telah dapat dibaca pada judul. Sebut saja film-film seperti Makmum, Sewu Dino, Tarian Lengger Maut, atau Mangkujiwo.

Dari pemilihan judul saja Teddy mengambil jarak dengan tren yang ada. Mungkin itu sebabnya mengapa belakangan ini judulnya diganti menjadi Pulang (yang tetap tidak formulais). Inang (Fajar Nugros) saja, film horor psikologis lain, masih menyentuh formula-formula di atas, seperti ritual dan mitos Jawa. Maka Affliction berisiko besar untuk gagal dalam segi raihan jumlah penonton.

Film ini berpusar pada rahasia keji yang bertahun-tahun dipendam sepasang ibu dan anak. Kejahatan yang mereka lakukan menghadirkan trauma, sehingga keduanya bertahan hidup sambil terus melupakan peristiwa di masa lalu.

Si anak, Hasan (Ibnu Jamil), telah berkeluarga dan dikarunia dua orang anak. Kariernya sebagai psikolog anak moncer dan ironisnya membuat waktunya dengan keluarga begitu sempit. Istri Hasan, Nina (Raihaanun), baru saja kehilangan ibu yang mati bunuh diri. Nina mempunyai kemampuan melihat pertanda kematian seseorang, yang dengan telak tidak dipercaya Hasan.

Kehidupan mereka berkelok tajam kala Narsih (Dea Panendra) bertamu dan menyingkap rahasia besar Hasan kepada Nina: ia masih mempunyai Ibu di desa yang tinggal sendiri dan sakit-sakitan. Hasan tak bisa mengelak dan terpaksa memboyong istri dan dua anaknya—Tasya dan Ryan—ke desa tersebut. Nina yang masih dihantui kegagalan menjaga ibu menjadi bersemangat untuk membawa mertuanya ke Jakarta.

Formula yang diikuti Teddy dari film-film horor lain adalah posisi desa sebagai lokasi peristiwa. Sebagaimana mereka, desa dalam Affliction adalah sumber masalah. Dikotomi desa-versus-kota dalam perfilman Indonesia ternyata masih eksis. Jika di era orde baru desa dicitrakan sebagai wilayah yang masyarakat dan perilakunya perlu diselamatkan, sinema horor pasca-Reformasi meletakkan desa sebagai sumber masalah.

Dalam Perempuan Tanah Jahanam, desa musti didatangi untuk menyelesaikan masalah si protagonis. Walakin, desa ternyata sebaiknya dihindari. Di banyak film horor lain, sang protagonis dengan naif mengadu nyali mendatangi desa, atau secara tak sengaja berada di sana.

Melihat kondisi ibu Hasan/Bunda (Tutie Kirana) yang begitu payah secara mental, Nina semakin yakin untuk membawanya ke Jakarta. Sebelum itu terwujud, Hasan dirintangi pekerjaan yang membuatnya harus kembali ke Jakarta, sehingga meninggalkan keluarganya di desa.

Saat Hasan pergi inilah keping demi keping puzzle rahasia Hasan dan Bunda terpampang ke diri Nina. Kepingan itu hadir dalam bentuk racauan-racauan Bunda atau teror dari orang asing yang berdiri mematung memandangi rumah.

Dalam Affliction, kedua anak Hasan tak berlaku tipikal. Mereka cuek saja tenggelam dalam dunia masing-masing: Tasya dengan ponselnya, Ryan dan buku gambarnya. Mereka tak Teddy eksploitasi untuk menjerit, menangis ketakutan, atau menyaksikan peristiwa sadis.

Narsih ternyata berbohong ketika mengatakan dirinya sebagai perawat Bunda. Frustrasi oleh keadaan ibunya sendiri (yang mengalami gangguan kejiwaan dan dalam kredit disebut Ibu Gila), Narsih membuat Hasan pulang demi membongkar misteri yang selama ini ia dan Bunda tutup-tutupi.

Saat kecil, Hasan berkawan karib dengan seorang anak bernama Dimas Rangga. Oleh sebab suatu perselisihan, Hasan membunuh Dimas, yang jasadnya Bunda kubur di halaman rumah mereka. Otoritas setempat menyatakan Dimas hilang. Narsih kemungkinan besar adalah adik Dimas.

Trauma tidak hanya melanda para korban, tapi juga pelaku kejahatan. Trauma jenis ini dikenal dengan istilah participation-induced traumatic stress (PITS) yang umumnya menjangkiti para penghilang nyawa orang lain. Walau PITS lazimnya menjangkiti tentara, atau mereka yang membunuh karena diperintah, trauma ini juga dapat menggentayangi pelaku pembunuhan kriminal.

Bunda, berdasarkan foto-foto yang ada di rumah, membesarkan Hasan seorang diri. Menutupi kejahatan (atau ketidaksengajaan) si anak yang mengorbankan nyawa anak perempuan lain (yang juga tak bersuami) menjadi kewajaran di matanya. Ia mengubur Dimas sebagaimana manusia mengubur kucing dan dalam satu adegan tampak begitu percaya diri menenangkan Ibu Gila yang sedang menangis.

Cara Hasan berbeda. Ia memilih melupakan dan meninggalkan dosa di desa, menganggapnya sebagai sesuatu yang tak perlu lagi ditengok. Perhatikan ekspresi enggan dan jijiknya saat kembali menginjak kaki di rumah tempat ia tumbuh. Kontras sekali dengan kondisi desa yang terletak di tempat yang begitu indah, di kawasan pegunungan yang biasanya didamba manusia-manusia Jakarta.

Kepergian Hasan membuat peran Nina menjadi semakin sentral, sehingga berhadapan dengan dua Ibu yang kehilangan anaknya. Bila Ibu Gila kehilangan Dimas secara harfiah, maka Bunda telah lama kehilangan Hasan secara mental. Hal itu tampak dari bagaimana ia kerap mengalami disorientasi, terjebak di masa silam dan merasa Hasan masih bocah kecil.

Benturan konflik antartokoh dan pengadeganan dipadukan dengan sempalan-sempalan horor kecil. Penonton menjadi fokus pada hal-hal ganjil, yang mengerucut pada rahasia yang baru terungkap di sepertiga akhir film.

Bunda (Tutie Kirana), Hasan (Ibnu Jamil), dan Nina (Raihaanun).

Subordinasi tiga ibu

Rahasia Bunda dan Hasan teramat keji. Perbedaan kelas sosial membuat Ibu Gila tak berdaya di hadapan Bunda. Namun trauma tak memandang derajat seseorang. Berkat kejadian nahas itu, Bunda dan Ibu Gila sama-sama mengalami gangguan kejiwaan. Memang, dalam bahasa Inggris, makna kata ‘affliction’ adalah hal yang membuat seseorang mengalami rasa sakit atau penderitaan.

Hasan, dengan statusnya sebagai lelaki, menjadi pemicu dari keputusan paternalistik yang diambil Bunda. Status kelelakian Hasan sedikit menjelaskan mengapa Bunda rela hidup sendiri di desa, menjaga rahasia mereka rapat-rapat. Ia bahkan tak diperkenalkan eksistensinya kepada Nina dan dua anak Hasan.

Secara taksonomis, dampak pembunuhan Dimas Rangga terhadap tiga ibu adalah sebagaimana berikut:

IbuAnakEfek trauma
Ibu 1 (Nina)Tasya & RyanNina kehilangan suami, Tasya & Ryan kehilangan ayah
Ibu 2 (Bunda)HasanGangguan kejiwaan dalam bentuk penyangkalan dan halusinasi
Ibu 3 (Ibu Gila)Dimas RanggaGangguan kejiwaan

Kejahatan Hasan mungkin terjadi karena ketaksengajaan, yang dilakukan saat ia masih bocah. Namun, apa guna hati nurani jika ia tak menebus kesalahannya tersebut? Bukankah ia pria rasional dan berpendidikan, yang bahkan menempuh karier di bidang psikologi anak?

Apakah pilihan kariernya tersebut merupakan bentuk penebusan semu atas dosanya di masa lalu? Hasan, lewat caranya bersikap di sepanjang film, tampil sebagai lelaki modern yang hidup sukses di atas penderitaan dua perempuan. Dan ia sadar betul akan hal ini. Dengan pengabaian, ia mengingkari kemanusiaan Bunda dan Ibu Gila.

Tanpa seragam atau tindakan-tindakan eksplisit (bandingkan dengan tokoh Purnawinata dalam Autobiography), kelelakian Hasan sanggup menyubordinasi tiga perempuan sekaligus. Subordinasi perempuan tetap terjadi bahkan ketika sang lelaki berada di posisi yang tak terlalu kuat. Maka kita pun dibuat sadar: yang sebenarnya berkuasa adalah diskursus maskulinitas-patriarkis, bukan tindakan orang per orang. Struktur mengalahkan agensi.

Posisi Affliction dalam kancah horor nasional

Film horor telah lama menyemarakkan budaya tontonan masyarakat kita. Sebelum Ada Apa dengan Cinta meledakkan antusiasme publik pada 2002, perfilman nasional lebih dulu dibangkitkan oleh Jelangkung setahun sebelumnya. Dalam memoar teranyarnya, Era Emas Perfilman Indonesia (2020), Garin Nugroho memuji genre horor yang mampu membuat jantung industri terus berdetak.

Genre horor dalam lima tahun terakhir menjadi primadona berkat pencapaian artistik dan penceritaan. Di kesempatan lain (konferensi pers Festival Film Indonesia 2022), Garin menyampaikan kegembiraannya tentang genre horor, yang kini mendapat tempat di ajang bergengsi tersebut.

Dikutip dari detikhot (11/11/2022), sang auteur berujar, “Yang paling menarik yakni horor yang selalu disepelekan sebagai genre kelas dua yang kini menjadi dominasi yang muncul di dalam festival film Indonesia.”

Di ajang tersebut tiga film horor berhasil masuk nominasi di sejumlah kategori: Inang (Fajar Nugros), Pengabdi Setan 2: Communion (Joko Anwar), dan KKN di Desa Penari (Awi Suryadi). Namun, pencapaian mereka diakui pada aspek teknis seperti sinematografi, artistik, atau efek visual. Film-film tersebut belum mampu masuk dalam nominasi utama seperti film terbaik, sutradara terbaik, juga skenario asli dan skenario adaptasi terbaik. Memang, Joko Anwar dan Perempuan Tanah Jahanam sempat berjaya di FFI tahun 2020. Tapi saya rasa pencapaian Joko tersebut sebagai anomali, yang sulit terulang dalam waktu dekat.

Mari kembali menoleh pada Affliction. Kemungkinan positif dari kenekatan Teddy adalah bagaimana ia menawarkan kenikmatan menonton film horor yang berbeda. Padahal, ia belum memaksimalkan potensi-potensi yang sejatinya mudah saja ia kelola.

Dari pemilihan lokasi desa yang berada di Wonosobo, eksplorasi bisa dijelajahi lebih jauh. Jangkauan misteri bisa diperluas dengan memadukan film dengan kearifan lokal anak-anak rambut gimbal yang menempati posisi istimewa di Dieng. Ini sekadar usul saja.

Teddy tampak belum lepas dari nuansa dan setting film sempit, sebagaimana yang juga terlukis dalam Trilogy of Intimacy. Lokasi pengadeganan kebanyakan berada dalam ruangan. Protagonis tak bersentuhan dengan simbol atatu struktur sosial yang lebih besar dari keluarga seperti agama atau negara. Ini membuat Affliction terkungkung, sehingga teror dan rasa sakit yang diderita para tokoh tak terlalu memancar.

Lima tahun terakhir tren film horor dunia juga bergeliat. Film-film dengan storytelling kuat mulai menandingi formula klasik genre horor. Yang membuat Get Out (Jordan Peele) dan Midsommar (Ari Aster) begitu mengerikan adalah kemampuan mereka melekatkan trauma protagonis dengan trauma sosial para penonton. Yang pertama menggambarkan betapa menakutkannya rasisme struktural di Amerika Serikat. Yang kedua memampangkan dengan bengis bahaya hubungan toksik dan pengabaian kesehatan mental.

Pada akhirnya tragedi menghampiri keluarga Hasan dengan kejam, tanpa tebang pilih, seperti sampar. Nina mengikuti nasib Bunda yang harus menjadi orang tua tunggal. Ryan mengikuti Hasan, menjadi anak lelaki yang tumbuh tanpa figur seorang bapak. []

Affliction | 2021 | Durasi: 90 menit | Sutradara: Teddy Soeriaatmadja | Penulis: Teddy Soeriaatmadja | Sinematografer: Robie Taswin | Produksi: Karuna Pictures | Pemeran: Raihaanun, Tutie Kirana, Ibnu Jamil, Abiyyu Barakbah, Tasya Putri, Dea Panendra | Medium Menonton: Netflix

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x