Di Kalimalang, bersama orang-orang malang Digilas nasib buruk, dihantam karang hidup nan pejal juga tajam Nasib-nasib ini, kata si pongah Kudulah membuatmu waskita Ia tak tahu cerita mpok Konong Menjual batang bambu di Kalimalang Kini bambu susah didapat Orang-orang tak lagi butuh bambu Dan rumahnya digusur, mengalah untuk pembangunan […]
fiksi
Menghimpun gaji, merapal rencana Tergubal, didera dan terpampat Himpitan hidup sesehari Long weekend, sahara itu Jalanan mengular macet Mati di jalan, jalan kehidupan kalian Jalan yang lurus, jalan menyimpang, jalan yang rompal Di Cikampek, kau mengadu Memintas takdir, umur yang tak hanya susut Kusut pula! Kusut sesemua! Berjalan […]
Ada yang mangkrak Pembangunan Lalu orang-orang di Jakarta senewen Mengapa mangkrak? Kami telah mengemis merangkak kepada investor Siapa LSM, siapa ilmuwan, siapa kritikus? Mereka harus diberangus Ada yang menangis Menangis rintih perih sekali Mereka petani dan nelayan Di mana lagi kami nyawah, mengail ikan Sesemua kalian habiskan kalian timpa semen […]
Kawanku mati bulan ini setahun lalu Kawanku itu, kau tahu, punya glosari yang ia suka “Multitafsir.” Seringnya kata itu ia ucap kala membincangkan musik Amboi, gemar betul ia membicarakan musik Entah ia sungguh-sungguh atau tidak Namun kutahu pasti ia tak senang berlagak. Kawanku yang mati bulan ini setahun lalu […]
Betapa nasib dirundung malang O, tuhan! Katedral-katedral, masjid-masjid, dan kuil-kuilmu Begitu megah, begitu indah. Orang-orang sibuk mengejar waktu Orang-orang itu Apa bedanya dengan perancap? Bercepat-cepat bak camar dikejar ombak Tanpa pernah tahu nikmat mengaso. Dan hiu, sang filsuf samudra Tetaplah hiu: bertajuk hidup sebagai tukang mangsa Ah, hiu Ia […]
Lelaku dan keakuanku, Kuakui Merobek-robek hatimu. Atau mungkin jua Menyisakan nestapa merobek sukma Ya, hatimu itu Nan tulus pula suci. Pada sang Kala aku menantangnya senantiasa Hidupku, mungkin, di persimpangan jalan Kuakui aku berutang padamu Kupahami kebekuanmu. Dan engkau masih seperti dulu, Turun dalam rupa cahaya.