10122016

Di Kalimalang, bersama orang-orang malang

Digilas nasib buruk, dihantam karang hidup nan pejal juga tajam

Nasib-nasib ini, kata si pongah

Kudulah membuatmu waskita

 

Ia tak tahu cerita mpok Konong

Menjual batang bambu di Kalimalang

Kini bambu susah didapat

Orang-orang tak lagi butuh bambu

Dan rumahnya digusur, mengalah untuk pembangunan

 

Ia tak tahu kisah bang Ikim

Di sisa umur mengandalkan diri sekenanya

Mencari kroto, mereparasi listrik, menjadi juru parkir

Dan oleh sebab tak sanggup bikin anak

Ditinggal-selingkuh jua oleh istrinya

Aku hanya mematung saat mataku beradu-tatap dengan matanya

Kemarin hari

 

Ia tak tahu kisah bang Kantil

Merangkum rupiah dari keandalannya mengajar ngaji

Di langgar kami. Bukan madrasah! Bukan TPA!

Karena ia tak punya sertifikasi

Ya, kini mengajar ngaji pun butuh selembar sertifikat

Kalam tuhan ditukar uang, dan tuhan semata dihamba

 

Di Kalimalang, bersama orang-orang malang

Tiada kami kenal istilah perjudian terakhir

Karena hidup pada dasarnya adalah bagaimana

Dadu yang kami lempar menunjukkan nasib cerah

Sialnya kami lebih sering kalah

 

Di Kalimalang, bercampur debu dan jeleknya beton-beton

Diiringi lapar perut nan menyiksa

Aku mengenangmu

Dan nasi bebek sambal super pedas yang kau beri di suatu malam itu.

 

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x