05122016

Kawanku mati bulan ini setahun lalu

Kawanku itu, kau tahu, punya glosari yang ia suka

“Multitafsir.”

Seringnya kata itu ia ucap kala membincangkan musik

Amboi, gemar betul ia membicarakan musik

Entah ia sungguh-sungguh atau tidak

Namun kutahu pasti ia tak senang berlagak.

 

Kawanku yang mati bulan ini setahun lalu

Mengajarkanku hal-hal dan ihwal-ihwal, salah satunya

Kawanku itu hobi mendamprat

Mendamprat orang, maksudku

Kupikir itu baik

Tinimbang kita-kita orang yang gemar

Berbisik di belakang,

Mendamprat untuk kemudian melempar maksud

kepada lawan bicaranya.

Mungkin ketus, bisa menyinggung

Tak sedikit yang dibikinnya berang.

 

Kawanku yang mati pada bulan ini setahun lalu itu

Tak semenit pun kujumpai jasadnya

Atau menaburinya kembang-kembang saat diturunkan ke liang lahat

Atau sekadar menyekar di atas pusaranya

Kadang kupikir aku ini sahabat macam apa!

Tapi, oi, ia adalah manusia pembenci melakolia

Menggambar ia suka, manasuka

Gambar-gambarnya itu mutlak saja: hitam-putih, jerangkong, siluet.

 

Kawanku yang mati pada bulan ini setahun yang lalu dan gemar mengucap “multitafsir” itu,

Setelah kupikir-pikir seperti mengamini Pram:

‘Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.’

Namun, ah, ia tak pernah membaca Pram

Tapi kuperingati kau: ia pembaca yang lahap!

Tak membaca Pram tak serta merta mencoreng keagungannya

Setidaknya menurutku, ia itu jenis kawan yang sungguh-sungguh agung.

 

Jadi begini maksudku:

Aku tak mau engkau menjadi seperti

Kawanku yang mati bulan ini setahun lalu.

 

Karena sebenarnya penyesalan dan rindu ini terlalu memasung.

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x