04122016

Betapa nasib dirundung malang

O, tuhan!

Katedral-katedral, masjid-masjid, dan kuil-kuilmu

Begitu megah, begitu indah.

Orang-orang sibuk mengejar waktu

Orang-orang itu

Apa bedanya dengan perancap?

Bercepat-cepat bak camar dikejar ombak

Tanpa pernah tahu nikmat mengaso.

 

Dan hiu, sang filsuf samudra

Tetaplah hiu: bertajuk hidup sebagai tukang mangsa

Ah, hiu

Ia kesepian,

Walau hiu memangsa dalam khusyuk

Tak pernah ‘ku lihat mereka berkeriap

Yakinku kau pun seia, bukan?

Ikan-ikan berenang tenang, keriaan!

 

Lalu

Pada kesekianratus kalinya

Seperti noktah di atas padang

‘Ku kembali terpana

Melihat wajah itu

Wajah yang terlalu

Kukenali serta kuresapi.

 

Aku terbiasa memandang wajah itu lekat-dekat

Hingga waktu tak lagi menjarak

Juga ruang tak jadi perentang

Sampai kemudian kurasai diriku

terserimpung duhai pahitnya

Betapa nasib dirundung malang.

 

O, wahai engkau sang pemilik wajah:

Akulah hiu.

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x