Remaja Sebagai Entitas Sosial Objektif dalam Film (bagian II)

pertama kali terbit di zine sosbudpol Spätkapitalismus #5 (Oktober 2016)

Di tulisan pertama saya mengemukakan tiga film yang saya anggap bagus dalam memotret kondisi objektif remaja (kondisi material; sosio-ekonomi-politik) yang memengaruhi tindakan mereka di film-film tersebut. Tiga film tersebut adalah film-film yang diproduksi negara-negara yang saya anggap memiliki kemiripan konteks secara sosial dengan Indonesia. Kali ini, akan saya ulas empat film dari negara-negara yang dianggap sebagai negara maju (developed country). Meski demikian, tidak serta merta film-film di bawah tidak bisa menjadi cerminan bagi dunia anak muda Indonesia.

This is England / Sutradara: Shane Meadows / Inggris / 2007

this_is_england
sumber gambar

Meski menurut saya bukan film terbaik Shane Meadows, momentum kehadiran film ini di Indonesia terasa pas. Sebelum This is England, banyak remaja Indonesia pengadopsi lad culture[i] Britannia mengambil inspirasi dari film-film hooligan macam Green Street Hooligans (2005) atau Football Factory (2004). Persoalannya begini, banyak dari mereka yang gagap tanpa merasa perlu meresapi tiga film tersebut secara mendalam. This is England menjawab hal itu: bahwa di balik gempita revolusi musiknya (punk), remaja Inggris pada 80-an sedang muak-muaknya dengan pemerintahan si nyonya besi Margaret Thatcher. Sekadar pembanding, menggeliatnya subkultur hardcore di Amerika juga merupakan respon anak muda terhadap rezim neoliberal Ronald Reagan.

Menjemukannya rutinitas dan beratnya himpitan hidup, menjadi irisan-irisan penting mengapa kebudayaan populer Inggris – sejak era mod, avant garde, punk, indie – bisa  mengakar dan berpengaruh hingga ke berbagai penjuru dunia. Namun jika lad culture di Inggris dipakai anak-anak muda untuk menemukan jatidiri yang mendapat ‘ancaman’ dari tenaga-tenaga kerja murah migran (salah satunya), remaja Indonesia meminjamnya sebagai usaha untuk sekadar unjuk kegagahan. Jangan juga kita lupakan fakta bahwa orang Inggris sudah memiliki kesadaran kelas sejak dini.[ii] Ketika menjadi seorang mod di era ’50 dan ‘60-an, pilihan mereka dalam memakai busana buatan butik-butik Italia adalah suatu lompatan mobilitas vertikal yang ‘subversif’.

Tokoh utama film ini, Shaun, adalah anak berusia 12 tahun yang baru saja ditinggal mati ayahnya yang menjadi prajurit di perang Malvinas. Sebagai anak tunggal dan memiliki ibu yang bekerja, praktis Shaun kehilangan figur idola. Apalagi Shaun juga digambarkan memiliki keterbatasan dalam bersosialisasi sehingga menjadi pribadi penyendiri. Semua berubah ketika ia bertemu dengan kelompok remaja skinhead yang dikomandani Woody.

Gayung bersambut, Woody pun menaruh hati pada sosok Shaun. Ia menjadikannya bagian dari geng skinhead yang beranggotakan Lol (pacar Woody),  Milky, Harvey, Gadget, dan lainnya. Shaun pun mendapat sosok panutan baru. Ia mencontoh cara Woody dan kawan-kawan berpakaian. Shaun juga belajar merokok, memangkas habis rambut layaknya skinhead, juga merengek kepada ibunya untuk dibelikan sepatu Dr. Marten’s, hingga kemudian memacari salah satu anggota geng, Smell; gadis goth yang kinky.

Dinamika kelompok ini akhirnya berubah saat sosok Combo kembali merapat setelah sebelumnya meringkuk di penjara. Tidak boleh ada matahari kembar. Dan layaknya sosok Sarwo Edhie yang ‘dibuat redup’ Soeharto, Combo pun merasa perlu untuk menyingkirkan Woody. Di matanya, Woody tidak ‘progresif’. Menjadi skinhead bagi Combo adalah memiliki kesadaran kulit putih-kelas pekerja Inggris akan bahaya yang ditimbulkan dari keberadaan warga migran. Padahal dalam kelompok ini pun ada salah satu yang merupakan anak keturunan migran, Milky. Terpesona oleh kharisma Combo, Shaun pun memilih berada di barisannya dan membiarkan Woody keluar dari grup. Kehadiran Combo membuat geng ini berubah haluan. Yang tadinya hanyalah grup untuk bersenang-senang (sebagian besar anggota geng bekerja sebagai buruh pabrik), Combo memanfaatkannya untuk menarik simpati petinggi partai ultrafasis, National Front.

Dalam sejarahnya, National Front memang banyak meraih simpati anak-anak skinhead, seperti yang coba digambarkan Meadows dalam film ini. Hal yang kemudian secara historis menyebabkan munculnya kelompok penanding, SHARP (Skinhead Against Racial Prejudice). Kenaifan anak muda dimanfaatkan orang dewasa untuk meraih tujuan yang sejatinya tidak berhubungan dengan nasib anak-anak muda tersebut. Fenomena yang sampai saat ini masih berkembang dengan keberadaan ormas ultrafasis semisal EDL (English Defense League).

Film mencapai klimaks justru oleh konflik internal, alih-alih dibenturkan dengan National Front yang sudah dekat, atau dengan para pendatang yang mereka panggil ‘Paki bastard‘. Konflik batin pun akhirnya merayap merasuk ke diri Shaun, di suatu adegan reflektif di mana ia melipir ke pantai favoritnya untuk merenung dengan iringan “Please, Please, Please, Let Me Get What I Want”, lagu The Smiths yang dinyanyikan band folk Clayhill.

 This is England memiliki kedalaman pesan yang menyentuh ke berbagai level terkait anak muda. Aspirasi hidup anak muda yang belum matang menjadi hal seksi saat kita melihat banyak sekali sayap-sayap kepemudaan dalam partai atau ormas di Indonesia. Semangat komunalisme, kecenderungan untuk tampil heroik terhadap isu yang sebenarnya tidak mereka pahami betul, dimanfaatkan dengan baik oleh orang dewasa. Lewat This is England pula Meadows mengukuhkan dirinya sebagai sutradara berbakat yang memiliki ciri khas pemilihan tema – yakni film-film berlatarkan kehidupan remaja dari keluarga kelas pekerja; sebagaimana Ken Loach, seniornya, yang identik dengan sinema realisme sosialis.

 La Haine (Hate) / Sutradara: Matthieu Kassovitz / Perancis / 1995

hub-saud-vinz-cave
sumber gambar

Masalah pelik rasisme adalah konsekuensi dari kolonialisasi, keterlibatan perang, dan imigrasi negara-negara Eropa Barat. Ada relasi ekonomi politik rumit yang harus disingkap. Dalam menelisik tragedi pembantaian para jurnalis Charlie Hebdo, misalnya, menyatakan sentimen agama sebagai pangkal masalah adalah simplifikasi yang kelewat kering. 20 tahun telah berlalu sejak kemunculan film ini, dan Perancis kembali membara. Berbagai aksi teror terjadi. Pula aksi demonstrasi yang dilakukan para pekerja semakin marak dan terorganisir dalam menentang perubahan undang-undang perburuhan.

Belasan tahun sebelumnya, La Haine berhasil memotret masyarakat miskin kota (urban poor) di Perancis yang terdiri dari beragam etnis. Diilhami oleh peristiwa terbunuhnya seorang teman saat berada dalam tahanan polisi, film diawali oleh cuplikan asli berita bentrokan antara aparat kepolisian dengan masyarakat setempat yang kebanyakan melibatkan remaja. Jika anda tidak familiar dengan Perancis dan multietnisitas, lihat saja jajaran pemain di kesebelasan timnas sepakbola mereka pada Piala Eropa 2016 lalu.

Di balik kejayaan sinema art house-nya, baru dalam film inilah katalog perfilman mereka berlokasi di proyek permukiman (housing project) yang dalam bahasa Perancis disebut la banlieue.[iii] Alur film menarasikan pergulatan tiga orang karib pasca bentrokan di malam sebelumnya. Tiga karib tersebut adalah Vinz, seorang Yahudi; Said, si Arab yang banyak bicara; dan Hubert, pribadi tenang yang berprofesi sebagai petinju amatir. Plotnya sederhana. Vinz – diperankan oleh Vincent Cassel yang kelak wara-wiri di Hollywood – mendapat sebuah pistol yang dia niatkan untuk membalas dendam kepada polisi karena teman mereka masih dalam tawanan. Karena butuh nyali berlebih untuk melakukan aksi gila ini, dia merasa perlu mendapat sokongan moral dari sahabat-sahabatnya.

Ada momen intertekstualitas saat Vinz berkontemplasi bersama ‘mainan’ barunya. Yaitu dengan memeragakan apa yang dilakukan Travis Bickle/Robert di Niro di Taxi Driver (1976): memandang cermin sambil menodongkan pistol seraya berkata ‘are you talking to me?’ berulang kali. Seolah-olah menegaskan bahwa dibalik kepercayaan diri sang aktor di depan cermin, tokoh mereka berdua sesungguhnya dihinggapi keraguan yang hebat.

Lupakan Perancis dengan potret haru biru penuh bunga seperti yang tergambarkan dalam Midnight in Paris (Woody Allen, 2011) atau Before Sunset (Richard Linklater, 2004). Melalui La Haine – Kassovitz dengan cerdik memilih versi hitam putih ketimbang berwarna – Anda akan dibuat terperangah oleh teknik pengambilan kamera mencekam, penjelmaan suram area public housing, dan kenyataan bahwa di negeri yang konon romantis itu, sepertinya revolusi takkan pernah usai.

Elephant / Sutradara: Gus Van Sant / Amerika / 2003

elephant-2003%e2%80%a8
sumber gambar

Kekerasan senjata api adalah salah satu masalah besar di Amerika, seperti yang pernah sedikit saya singgung di edisi pertama zine ini. Kapitalisme membuat apa yang jelas-jelas berbahaya, yakni kepemilikan senjata api, sebagai sesuatu yang bisa menjadi tambang emas bagi segelintir orang lewat lobi-lobi politik di parlemen.

Kekerasan menggunakan senjata api baru benar-benar menghentak setelah terjadinya kasus penembakan di SMA Columbine. Pasalnya, pelaku adalah sepasang siswa ingusan yang dalam pantauan CCTV seolah-olah sedang bermain game saat menembaki seisi sekolah. Di film yang dianugrahi Palme d’Or di festival film Cannes 2003 ini, Van Sant memang menjadikan tragedi Columbine sebagai inspirasi.

Film ini menggunakan alur sirkular, tidak linier, serta kerja kamera yang menyorot banyak tokoh yang dalam film saling berinteraksi satu sama lain. Jika tidak tekun menyimak, tentu anda akan bingung karena yang ingin Van Sant tawarkan sebenarnya bukan kausalitas dari tindakan para aktor. Tidak ada protagonis maupun antagonis. Dialog yang terjadi antar aktor pun tidak menjelaskan suatu plot. Mirip dengan apa yang dilakukan Emilio Estevez dalam Bobby (2006) dan Alejandro Inarritu dalam Babel (2006). Semua tampak kasual dan natural. Menggunakan tone cerah dan angle kamera yang lebar, Van Sant seperti ingin mengutarakan bahwa kekerasan di Amerika Serikat bisa terjadi di hari yang tampak normal, dengan impilikasi tak terbayangkan bagi mereka yang menjadi korban.

Van Sant adalah sutradara yang kerap membuat film dengan tema-tema nonkonvensional. Sebut saja Milk (2008), yang menceritakan kisah seorang aktivis LGBT. Atau Drugstore Cowboy (1989) yang bercerita tentang generasi yang hilang: para pecandu narkoba. Lewat film-film arahannya, dia mencoba menonjolkan apa yang sebenarnya lazim terjadi di masyarakat Amerika namun enggan ditonjolkan sineas Hollywood lainnya. Di pengujung film, saya tersadar bahwa dalam kasus penembakan massal ini, Amerika tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Mengapa? Sebabnya bukan budaya kekerasan yang laku dikonsumsi kaum remaja. Sederhana saja: hentikan penjualan senjata kepada masyarakat sipil.

Die Welle (The Wave) / Sutradara: Dennis Gansel / Jerman / 2008

wave-die-welle-6
sumber gambar

 Jika bagi para pendidik sekolah dianggap sebagai laboratorium kehidupan untuk para remaja, yang sebagian besar remaja rasakan justru sebaliknya. Sekolah adalah tempat di mana eksperimen-eksperimen pemberontakan dilakukan. Ingat, Bourdieu menyatakan bahwa sekolah adalah arena di mana ketimpangan sosial terus bereproduksi. Siswa yang berasal dari kelas menengah ke atas biasanya tidak kesulitan dalam mempelajari pelajaran di sekolah karena sejak usia dini, keluarga telah berperan besar dalam membentuk kesadaran anak sehingga anak merasa familiar dengan segala hal yang ada di sekolah (peraturan, gaya bahasa para pendidik, pelajaran yang diajarkan). Bagi anak-anak kelas pekerja yang orangtuanya bahkan tak berlangganan koran atau membaca buku, hari-hari di sekolah adalah medan tempur. Every day is a battlefield.

Potensi memberontak yang ada dalam diri remaja sebenarnya tidak memandang kelas. Dalam Dead Poets Society (1989), misalnya, para siswa yang bersekolah di sekolah elite pun dengan sepenuh hati melakukan tindakan-tindakan yang menurut bagian akademik sebagai ‘subversif’. Padahal yang mereka lakukan adalah bagaimana mempelajari sastra dengan cara yang tak biasa, tentunya lewat pengaruh dari guru yang sungguh inspiratif, John Keating (yang diperankan dengan sangat menggugah oleh mendiang Robbin Williams).

Dalam Die Welle, sosok inspiratif tersebut adalah seorang guru pria yang menurut saya memiliki versi sepuluh kali lebih nyeleneh dari Keating. Rainer Wenger adalah sosok guru yang sehari-hari lebih senang memakai t-shirt band punk ketimbang kemeja berdasi, dan suatu hari kecewa karena diperintahkan atasan untuk mengajar anak-anak pelajaran tentang otokrasi (fasisme). Padahal dia merasa lebih pantas mengajar pelajaran tentang anarkisme. Usah protes sempat ia lakukan. Pun guru yang mengajar materi anarkisme, sosok tipikal guru tua yang menyebalkan, telah ia konfrontir. Namun keputusan tidak bisa diganggu gugat.

Ketimbang mengajar mereka dengan metode biasa, Herr Wenger memutuskan untuk memraktikkan langsung bagaimana sebuah rezim fasis itu berjalan. Ia mandaku diri sebagai fuhrer. Juga menciptakan nama (“Die Welle”), logo, dan salam ‘organisasi’, serta menerapkan disiplin ketat bagi seluruh anggota. Ternyata metode pengajaran ini merasuki sanubari banyak siswanya. Mereka menganggap serius titah sang guru. Mereka bertindak semakin jauh saat akhirnya mampu merekrut anggota di luar kelas. Tensi film meninggi saat Herr Wenger sadar bahwa ia tak boleh meneruskan kegilaan ini. Rasa frustasinya dalam karir tidak boleh menjustifikasi keonaran ini sebagai keberhasilan dalam mengajar (para siswa tidak hanya paham, tapi memraktikkan otokrasi sebenar-benarnya). Namun ternyata semua telah terlambat. Herr Wenger beserta seluruh anggota Die Welle akan mendapati hidup mereka tak lagi sama.

Sang sineas, Dennis Gansel, mencoba memaparkan pada penonton bagaimana doktrin fasisme dengan mudah merasuki mental seseorang. Ironisnya, jika yang Herr Wenger lakukan adalah inovasi dari proses ajar-mengajar sehingga pelajaran lebih mudah dipahami para murid (meski hasilnya sangat jauh dari apa yang dia harapkan); yang para diktator – seperti Adolf Hitler, Josef Stalin atau Soeharto – lakukan adalah proses indoktrinasi, propaganda, dan tipu daya penuh niat sehingga rakyat terbuai dan patuh seperti robot.

 –

[i] Salah satu penelitian tentang lad culture dilakukan oleh Paul Willis di mana dia melakukan penelitian etnografi yang membandingkan dua peer group; kelas pekerja dan kelas menengah. Dia mengaitkannya dengan budaya kelas yang berbeda dari masing-masing keluarga (pola asuh, pekerjaan orangtua) ternyata mempengaruhi  sikap dan persepsi tentang sekolah, ideologi, dan cita-cita para anak yang diteliti. Paul Willis, Learning to Labor: How Working Class Kids Get Working Class Jobs (New York: Columbia University Press, 1977).

[ii] Macleod (1987) menyebut kesadaran kelas warga Inggris jauh lebih baik ketimbang Amerika: “Moreover, the British working class, with its long history, organized trade unions, and progressive political party, has developed an identity, pride, and class consciousness that are lacking in the United States”. Lihat Macleod, Ain’t No Makin’ It: Aspirations and Attainment in a Low-Income Neighborhood [edisi ketiga], (Colorado: Westview Press, 2009), hal. 123-24.

[iii] Hussey, Andrew. “La Haine 20 Years On: What has Changed?” Theguardian.com. 3 Mei 2015. 22 November 2016. < https://www.theguardian.com/film/2015/may/03/la-haine-film-sequel-20-years-on-france>.

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x