Hikmah dari Kebencian Amerika terhadap Sepak Bola

Tayang pertama kali di Football Tribe Indonesia, 6 Maret 2017

Liga sepak bola negeri Paman Sam, atau Major League Soccer (MLS) telah resmi memasuki musim baru pada 3 Maret 2017 lalu. Melihat antusiasme berbagai pihak, penyelenggara mengizinkan bertambahnya dua franchise baru, yakni Atlanta United FC dan Minnesota United.

Jika dihitung sejak 1994, atau saat Piala Dunia diselenggarakan di Amerika Serikat, animo tinggi warganya terhadap sepak bola bisa dibilang sangat terlambat. Pagelaran akbar Piala Dunia ternyata belum cukup untuk menyaingi olahraga populer Amerika terutama bisbol, American Football, bola basket, dan hoki.

Sepak bola, yang disebarkan orang-orang Inggris ke berbagai sudut bumi, sering menghadapi cibiran. Apa lagi jika kita menimbang riwayat pembangkangan orang-orang pertama di bumi Amerika yang notabenenya para pemberontak Protestan. Hal-hal yang berbau Kontinental (baca: Eropa) sering dinilai dengan alis terangkat dan sinisme yang tinggi.

Di Jerman pun awalnya sedemikian. Sepak bola tidak serta merta populer. Dalam tulisan di tahun 1889, seorang guru bernama Karl Planck menyebutnya sebagai “Penyakit Inggris” dan olahraga yang ‘not just nasty but absurd, ugly and perverted.

Selidik punya selidik, kebencian ini didasari oleh sentimen identitas. Sesuatu yang menjijikkan dan dilakukan oleh orang-orang berpendidikan tinggi. Inilah yang mendasari American pride, eksepsionalisme khas Amerika. Terserah jika seluruh penduduk dunia menyaksikan Piala Dunia, olahraga terbaik tetap American Football. Titik.

Kebencian ini, tentu Anda sudah bisa menebak, dikemukakan orang-orang konservatif, si leher merah dari Partai Republik.

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa sampai serepot ini memperkarakan olahraga? Sedikit atau banyak jumlah penontonnya, asal diurus dengan rapi suatu olahraga bisa terus eksis. Seperti kriket atau polo. Tetapi wacana (discourse) tidak berjalan dengan logika seperti itu. Sepak bola adalah olahraga populer yang telah menjadi simbol kultural. Semakin populer sesuatu, ia akan menarik banyak pihak untuk memperebutkannya, dan dalam hal ini: menegasikannya.

Inilah mengapa di kesempatan sebelumnya saya menulis bahwa arena olahraga adalah ruang publik. Ruang bukan lagi diartikan secara sempit, berdasarkan makna harfiahnya semata. Perbincangan kita di media sosial juga disebut ruang publik, atau ‘public space’.

Dengan sudut pandang ini, berbagai isu populer bisa memasuki kesadaran warga sehingga di titik itu, ide, agenda, bahkan propaganda disebarluaskan. Kebencian terhadap sepak bola semakin mencuat di penghujung kepemimpinan Barack Obama yang bertepatan dengan Piala Dunia 2014 di Brasil.

Sebabnya jelas: sepak bola mewakili simbol-simbol yang dibenci Partai Republik. Meski tidak mengutarakannya secara gamblang, narasi yang mereka umbar diwarnai bias kulit putih (white America). Kita ambil contoh dari tulisan pandit politik Ann Coulter yang berjudul American’s Favorite National Pastime: Hating Soccer yang ia muat di situsweb pribadinya.

Tanpa banyak basa-basi, di tulisannya tersebut ia langsung menuliskan sembilan poin mengapa warga Amerika sejati harus membenci sepak bola. Ya, tidak usah kaget. Kedegilan macam ini juga menjangkiti Amerika. Coulter menutup tulisannya dengan,

If more “Americans” are watching soccer today, it’s only because of the demographic switch effected by Teddy Kennedy’s 1965 immigration law .

Menurut Coulter, sepak bola populer karena para penontonnya adalah imigran atau keturunan imigran (generasi kedua). Coulter membandingkan jumlah penonton dengan perhitungan yang sungguh keliru. Ia membandingkan pertandingan Piala Dunia antara Amerika Serikat melawan Portugal yang ditonton 18,2 juta pemirsa dengan Super Bowl yang ditonton 111,5 juta orang.

Ia tidak cermat untuk menelaah bahwa tayangan sepak bola terpecah ke berbagai liga dan model kejuaraan (klub dan timnas). Perbandingan macam ini tidak bisa menjadi sandaran argumentasi, hanya terkesan ingin tetap faktual.

Menempati urutan berapa pun dalam perhitungan jumlah penonton, yang paling mengkhawatirkan tentu narasi ‘kita’ versus ‘mereka’. Ini terejawantahkan menjadi ‘kulit putih’ kontra ‘kulit berwarna’.

Nada yang sama juga dikemukakan Dan Shaughnessy di Boston Globe lewat tulisan yang berjudul Ignoring the World Cup. Amerika ya Amerika. Kami punya sistem ukur sendiri. Terserah bila seluruh dunia menggunakan sentimeter, yang kami kenal tetap inci. Kaki, bukan meter. Setelah Piala Dunia usai, toh kegilaan ini akan berakhir dan sepak bola kembali ditinggalkan warga Amerika.

Saya juga heran, jika tidak menyukai olahraga, mengapa sampai mesti membencinya? Oke, saya beri pengandaian: Saya tidak suka polo meski saya belum pernah menyaksikan olahraga itu secara utuh. Saya tidak suka polo karena olahraga tersebut terkesan aristokratik dan tidak mudah diakses warga biasa. Dengan sistem pikir seperti ini, maka ketidaksukaan saya adalah sesuatu yang tidak berdasar.

Dari dua tulisan di atas, kita bisa melihat bagaimana kesadaran masyarakat diseret sedemikian rupa. Sesuatu tidak pernah berjalan secara apa adanya (taken-for-granted). Sepak bola memiliki potensi untuk menggugah kesadaran banyak orang, namun di sisi lain ia juga rentan untuk meninabobokan kesadaran.

Di balik segala sengkarut kepentingan yang ada, sepak bola tetaplah suatu permainan yang berlandaskan merit. Seorang pemain, sebut ia Budi, menjadi starter karena kemampuan yang ia miliki pas dengan kelemahan musuh yang akan mereka eksploitasi (misal, postur tubuh yang tinggi). Sementara di pertandingan lain, Budi menjadi cadangan karena larinya lambat dan tidak piawai menggiring bola.

Meritokrasi adalah paham yang kerap ditonjolkan saat membicarakan demokrasi: bahwa seseorang mendapat jabatan karena sesuai dengan kemampuannya. Tapi kita tahu, itu omong kosong belaka. Jual beli jabatan menjadi hal yang lazim karena pembiaran.

Berkaca dari Amerika, kita seharusnya mengambil hikmahnya. Sepak bola selalu menempati posisi istimewa di negeri ini. Sepak bola tidak punya pesaing signifikan dalam hal kepopulerannya, tidak seperti di Amerika yang warganya memiliki banyak pilihan tontonan olahraga.

Kawan saya, Rizal Syam, menulis bahwa sepak bola menjadi sarana penjaga perdamaian di Halmahera Selatan. Warga kampung Kristen mengundang tim dari kampung Islam untuk bertanding saat Natal. Begitu pun sebaliknya, kampung Islam mengundang tim kampung Kristen untuk beradu sepak kala Lebaran.

Itu baru satu contoh di salah satu aspek. Belum lagi jika kita mempertimbangkan aspek-aspek yang lain seperti ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Di benak sebagian besar dari Anda, tentu berkeyakinan bahwa elite sudah terlalu culas menggembosi sepak bola nasional. Bonus demografi tak akan bisa mengantar sepak bola Indonesia ke posisi terhormat selama pembenahan sekadar kata yang terucap di bibir semata.

Berbeda dengan MLS di Amerika, liga yang kita punya masih jauh dari kata profesional. Pengunduran jadwal Liga 1 telah dikemukakan Aun Rahman akan menghadirkan sejumlah masalah. Bosan kiranya jika semua orang menulis ‘kapan sepak bola Indonesia bisa maju?’, karena sejatinya masalah memang ada di kepengurusan. Sponsor, talenta, berkah ekonomi, prestasi klub maupun timnas, akan mengikuti karena besarnya kecintaan masyarakat terhadap olahraga ini.

Peran yang tak kalah penting sebenarnya juga ada di pihak kolektif suporter. Suporter harus mampu mengorganisir diri tak hanya di dalam stadion, tetapi bagaimana memberi pemahaman yang baik kepada para anggotanya. Suporter tidak hanya wajib menghafal mars klub, tetapi harus mengetahui pula bagaimana pemain-pemain idolanya digaji. Kelompok suporter menjadi suatu kolektif yang berdaya secara ekonomi, budaya (mindset), dan politik.

Dan puncaknya, jika terus abai pada pentingnya pemberdayaan diri, jangan salah jika kita terus menerus dijadikan sapi perah oleh elite sepak bola nasional.

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x