Sepak Bola sebagai Ruang Dialog Publik

Tayang pertama kali di Football Tribe Indonesia, 2 Maret 2017

Saat Leicester City mengumumkan berita pemecatan Claudio Ranieri, banyak pihak yang meradang. Beberapa di antaranya adalah pandit kenamaan Gary Lineker dan Jamie Carragher. Lewat akun Twitter masing-masing, mereka mengutarakan kekecewaan terhadap keputusan sang kampiun Liga Primer Inggris 2015/2016 itu.

Nada yang berlawanan tentu ada. Mereka yang menyetujui langkah Leicester menganggap bahwa itu sebagai risiko dari sepak bola modern yang tak lagi mengenal sentimentalitas atau romantisme yang berlebih. Mereka semua (pelatih dan pemain) adalah para profesional yang mendapat gaji tinggi dan harus selalu wajib siap menanggung konsekuensi.

Lalu kita pun terbelah. Beberapa dari kita turut memberikan pendapat lewat cuitan atau status updatedi berbagai kanal media sosial. Kita bisa membalas komentar Carragher, atau menyetujuinya dengan me-retweet. Internet 3.0 adalah ruang yang menyenangkan.

Tapi, tahukan Anda bahwa jurnalisme olahraga (termasuk sepak bola) merupakan anak bawang dari jurnalisme secara umum? Genre ini bahkan dianggap ‘mainan’, seperti yang diutarakan David Rowe dalam “Sports Journalism: Still the ‘toy department’ of the news media?” (2007).

Anda bisa melihat di koran, bagaimana olahraga ditempatkan di bagian belakang. Signifikansi berita-berita olahraga dianggap kurang memadai untuk kemaslahatan bersama (common goods), berbeda dengan berita-berita politik, ekonomi, atau hukum.

Lalu Anda bertanya, mengapa media-media olahraga tetap eksis? Media cetak mungkin sedang di ambang krisis, tapi di internet berjejalan kanal-kanal berita olahraga, seperti Football Tribe Indonesia ini salah satunya.

Memang benar kenyataannya seperti itu, tetapi di kalangan akademisi, fungsi jurnalisme olahraga masih dianggap sebatas hiburan. Olahraga dinilai tidak membawa dampak apa-apa terhadap kehidupan publik. Sebanyak dan seindah apapun Lionel Messi mencetak gol, kemungkinannya untuk mejadi tajuk berita begitu kecil.

Dari titik inilah saya pikir kita perlu mengaitkan sepak bola dengan ekonomi politik. Gol Lionel Messi mungkin tidak berarti banyak bagi sebagian anggota masyarakat, tetapi bila kita menyigi kekuasaan FIFA yang melebihi PBB, misalnya, kita bisa melihat bahwa dampak sosio-ekonomi sepak bola relatif besar.

Dalam suatu video yang mengungkap peran Sindhunata dalam genre penulisan sepak bola, Zen. R.S. mengakui bahwa banyak orang yang tidak suka jika sepak bola dikait-kaitkan dengan hal-hal yang bukan sepak bola. Di sekeliling Anda pasti banyak orang yang tidak peduli ketimpangan sosial di Brasil akibat penyelenggaraan sepak bola. Tetapi jika kita memasukkan sepak bola dalam lingkup budaya, maka ia menjadi ritus yang dipenuhi dengan norma, kode, serta nilai.

Dengan menulis ini bukan berarti saya mengesampingkan jurnalisme umum. Yang ingin saya kemukakan adalah, sepak bola (sebagai olah raga terpopuler) menjadi ruang publik di mana ide-ide bisa diwacanakan.

Anda sering melihat pastinya seorang pemain yang melakukan selebrasi gol dengan memamerkan tulisan di kaos dalamnya? Biasanya bertuliskan pesan untuk orang tersayang (yang telah meninggal atau berulang tahun). Tetapi bagaimana jika tulisan yang tampak adalah “Untuk Hindia Barat” yang dipampangkan Thierry Henry?

Henry, yang melakukannya saat Arsenal menghadapi Manchester United pada 2001, mengakui keberadaan tanah leluhurnya, Guadalope, yang menjadi wilayah jajahan Prancis sampai detik ini. Meski Henry membela Prancis, pengakuan ini penting: kita adalah manusia yang memiliki beragam identitas, dan identitasnya sebagai keturunan negara yang terjajah telah ia akui.

Atau bagaimana dengan selebrasi tangan terkepal Cristiano Lucarelli yang merupakan wujud asosiasi diri terhadap Partai Komunis Italia? Klub yang ia bela, Livorno, terkenal memiliki ultras Brigate Autonome Livornese yang secara politik berhaluan kiri.

Itu baru di segi selebrasi. Di salah satu sisi muram sepak bola, rasisme, kita tahu bagaimana sikap Kevin-Prince Boateng. Saudara Jerome Boateng ini melakukan aksi walk-out di laga persahabatan melawan Pro Patria karena perlakuan berbau rasial yang ia terima dari pendukung mereka.

Tentu itu semua tidak hanya terjadi di atas lapangan. Kita lantas mengunyah peristiwa tersebut, merefleksikannya, dan terkadang ikut memberi sikap personal. Mengapa? Karena rasisme adalah gejala umum. Diskriminasi ini juga terjadi di sektor-sektor lain seperti ketenagakerjaan, budaya, dan sebagainya.

Dalam sudut pandang Jurgen Habermas, modernitas terdistorsi akibat ruang publik yang tidak demokratis. Sederhananya, ruang-ruang kita telah direbut kepentingan ekonomi-politik sehingga terjadilah proses eksklusi. Idealnya, menurut Habermas, demokrasi harus bersifat deliberatif dan inklusif: merangkul semua kalangan.

Seorang warga kulit hitam biasa, kala melakukan aksi protes seorang diri tentu takkan didengar banyak pihak. Maka ketika itu dilakukan seorang atlet seperti Colin Kaepernick, menjadi kehebohan tersendiri. Ketidakadilan terhadap ras minoritas sudah berada di level memprihatinkan, maka perjuangan ini butuh ‘suara’.

Saya masih meyakini fungsi sepak bola, kepada kita para penonton, adalah hiburan. Tetapi bukan sebatas itu. Potensi sosio-ekonomi sepak bola begitu besar. Lihat saja, di tengah kompetisi dan federasi sepak bola nasional yang amburadul, antusiasme masyarakat begitu tinggi. Banyak pertanyaan menarik yang bisa kita ajukan. Contohnya, mengapa masyarakat Sunda mengasosiasikan diri dengan Persib Bandung, sementara hal itu tidak terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, misalnya?

Padahal kita tahu, terdapat banyak klub sepak bola lain di Jawa Barat. Mengapa suporter Persija Jakarta merasa dekat dengan Arema? Ya, itu karena konon, bentuk rivalitas mereka dengan Persebaya, tetapi mengapa lantas bisa terus ‘mengada’?

Manusia adalah wujud yang terbelah oleh identitas. Anda bisa menjadi seorang Kristiani yang taat, sekaligus pecinta JKT 48, plus penggila Liverpool. Tidak ada manusia yang beridentitas tunggal.

Jurnalisme olah raga, khususnya di Amerika, sedang mengalami lonjakan besar. Lewat peran Dave Zirin, publik menjadi tahu bahwa potensi olah raga untuk menyampaikan pesan begitu besar karena ia ditonton jutaan orang. Kini beberapa media melihat potensi ‘yang lain’ dari olah raga ini. Lihat saja situs-situs seperti Grantland.com atau Theundefeated.com.

Saat berbincang bersama chief editor Football Tribe Indonesia, Aby Rachman, ia memberitahu saya bahwa jumlah pembaca perempuan situs ini cukup besar: lebih dari 40%. Ini menandakan bahwa penulisan sepak bola yang bergaya ‘lain’ juga memiliki penggemarnya tersendiri.

Untuk mencapai ke arah itu, saya akui jalan ini masih panjang. Selain rendahnya minat baca, politik bukan hanya hal yang rentan untuk dibicarakan, tetapi juga kerap disalahartikan. Buat apa teriak-teriak ‘keep politics out of football’ jika kita mengetahui banyak oligarki lokal yang ‘membina’ sepak bola? Itu jelas merupakan laku politis.

Belum lagi di sudut pandang atlet itu sendiri. Profesi mereka adalah profesi yang secara ekonomi rentan. Jika terlalu vokal, padahal mereka tahu kita tidak sedang baik-baik saja, akan mengancam karier mereka. Lihat tingkah para pesepak bola yang memihak ke salah satu kubu saat PSSI terpecah. Saya sendiri berharap ada golongan penanding yang menentukan sikap perlawanan terhadap pemihakkan tersebut.

Pemain bola adalah figur publik. Sikap politik adalah hak pribadi mereka. Tetapi olahraga ini begitu potensial untuk menjadi ruang dialog publik sehingga ide-ide segar bisa diwartakan kepada banyak orang.

Baik kolektif suporter maupun pemain bisa menjalin hubungan yang lebih dari sekadar penonton dan yang ditonton. Lagi pula, jika terus mempercayakannya kepada para politisi busuk di Senayan sana, sampai kapan ketidakadilan terus dibiarkan? ♦

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x