17122016

Di depan cermin retak, kusam dan berjelaga,

Pak tua tiada hentinya mematut diri

Apa jenggot dan kumis ini sudah rapi?

Sudahkah kedua cambang tercukur simetris?

Lolongan takdir kejam tak kuasa mengganggunya melaksanakan ritual itu

 

Di depan cermin retak, kusam dan berjelaga,

Pak tua terbayang lagi jalan hidupnya

Betapa pongah masa mudaku kulalui

Betapa lengah membuatku jadi begini

Srettt! Karena kelewat dalam dan keras silet di tangannya

Menekan pipi kanan merapikan cambang

Darah merah melintas hingga dagu

Pak tua mengumpat, “bangsat!”

 

Di depan cermin retak, kusam dan berjelaga

Goresan silet di pipi kanan hanya semenit ia rutuki

“Aku mematut diri demi kau, Bunga!”

Walau bunga mengenalnya sebagai Harjo

Pak tua terpaksa berbohong

Pak tua harus berbohong

Karena Bunga harus tak tahu siapa dia

Karena ke-apa-an Harjo

Bisa berbuah malapetaka bagi Bunga

 

Pak Tua, atau Harjo versi Bunga

Kembali mematut diri

Memerinci tiap gigi, kalau-kalau ada sisa makanan yang nyangkut

Wadaow!

Pak Tua lantas sadar

Pak Tua teringat bahwa ia hanya makan bubur nasi hari ini

Demi kencannya yang kelima dengan bunga

Demi rupiah yang tinggal selembar di celana

Maka pikiran tadi menjadi mustahil

“Mana mungkin ada sisa daging yang nyangkut di geligiku ini!”

Pak tua tersenyum kecil

Di depan cermin retak, kusam dan berjelaga

 

Bunga

Kau bungaku

Oh, bungaku

Pak Tua memekik setengah menjerit

Tak peduli kamar mandi tempatnya mematut diri seperti tak berjarak dengan tetangga sebelah

Yang mana dengus kecil saja bisa membangunkan mereka

 

Bunga

Kau bungaku

Oh, bungaku

Sorot hitam matanya menegas

Tangan terkepal mengeras mencengkeram botol sampo

Dan Pak Tua mulai bernyanyi

Yang kemudian terhenti

Karena ia teringat

Kamar mandi tempatnya mematut diri seperti tak berjarak dengan tetangga sebelah

Yang mana dengus kecil saja bisa membangunkan mereka

 

Bunga

Kau bungaku

Oh, bungaku

Tak peduli kau menyukai puisi-puisi Sapardi

Karena hasratku bukan berahi

Dan di tengah-tengah itu

Pak Tua menyadari tubuhnya kembali berkeringat

“Bangsat!”

 

Di depan cermin retak, kusam dan berjelaga

Pak Tua menyambar handuk bersegera pergi

Membeli sabun yang lebih wangi di Warung Mas Toni

Karena ia ingin mengulang mandi

https://youtu.be/dMeZCPbM6bA

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x