Seraut wajah bersandar di jendela yang berembun. Hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Kereta belum melewati Bekasi. Sejak melaju dari Senen, gadis itu membiarkan dirinya tenggelam dalam alunan lagu-lagu dari iPod. Sekotak susu dingin ukuran 1 liter dan The Well of Loneliness karya Radclyffe Hall tergeletak di pangkuan.
fajarmartha
Dimas tak tahu, selain merasa antusias (ini pertama kalinya kami ke mal berdua!), ajakan ini membuatku mengeja kenangan tentang seseorang dari masa yang jauh; sahabat yang sekalipun tak pernah kusentuh, yang hanya dapat berbicara denganku dari jendela kamarnya di lantai dua.
Bulan maduku tidak baik-baik saja dan sepertinya pernikahanku dengan Reia tidak akan berjalan bahagia. Aku berpikir demikian setelah kemuraman ini tak kunjung berlalu, kupendam dan berkarat di palung jiwaku sendiri. Di hadapan terhampar dua jalan bercabang dengan papan penunjuk arah yang berbunyi, ‘CERAIKAN REIA’. Kemuraman ini bahkan seperti tak menyediakan […]
Musim semi, musim panas, serta musim gugur, aku memasak terus, seolah-olah memasak spageti adalah sebuah laku balas dendam. Seperti seorang gadis kesepian yang cintanya ditolak yang membuang surat-surat cinta lama ke dalam perapian, aku melemparkan bergenggam spageti ke dalam kuali.
“Apa kamu gila?” gadis itu berbisik padaku setelahnya. “Datang ke tempat seperti ini dan menjelek-jelekkan Sharpie? Gagak-gagak Sharpie akan menangkapmu. Kamu takkan bisa pulang ke rumah hidup-hidup.”
“Kau benar. Ayah menginginkan sepasang celana lederhosen untuk hadiah kenang-kenangan. Memang, Ayah cukup jangkung untuk orang-orang di generasinya. Ia mungkin tampak bagus dengan celana itu, yang bisa menjadi sebab mengapa ia menghendakinya. Tapi bisakah kau membayangkan orang Jepang memakai lederhosen? Setiap orang kan berbeda-beda."