Ikhtiar Imas Darsih dalam Hela Napas Miss Tjitjih

Imas Darsih (60) masih merekam dengan jernih bagaimana Jenny Rachman menimba ilmu kepada Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih, institusi kesenian tempatnya bernaung. Jenny melakukannya untuk mempelajari tingkah laku seorang bintang teater. Selain mengajukan banyak pertanyaan, aktor kawakan itu tekun menonton pertunjukan kelompoknya hingga tiga hari berturut-turut.

Maka tercetuslah adegan ikonik itu: gerak Ining—tokoh yang diperankan Jenny—menutup bagian bawah wajahnya di film Doea Tanda Mata (Teguh Karya, 1984). Di film berlatar tahun 1930-an ini, nasib mempertemukan Ining dengan Gunadi (diperankan Alex Komang), pejuang klandestin yang jatuh hati kepadanya. Mereka lantas bahu-membahu merencanakan pembunuhan pejabat polisi Belanda.

Imas, yang meminta saya untuk memanggilnya ‘emak’, menyebut bahwa gerakan menutup wajah itu memang khas Miss Tjitjih saat berada di luar panggung. Primadona teater zaman kolonial itu diharap untuk menjaga eksklusivitas. Jangankan penggemar, mendiang ayah Imas, yang merupakan anggota kelompok pun tak bisa sembarangan menatap wajah Miss Tjitjih.

“Miss Tjitjih mah ke mana-mana wajahnya ditutup, tidak boleh dilihat orang,” kata Imas.

“Secantik itu memang, mak?” tanya saya.

“Habib (Abu Bakar Bafaqih) menjadikannya istri kedua bukan semata-mata karena cantik. Miss Tjitjih mah serba bisa. Akting, menari, menyinden. Terutama menyinden, tuh, yang susah. Yah, kalau kata bapak emak nih, wajahnya itu mirip Lydia Kandou.”

Eponim kelompok sandiwara ini memang berasal dari nama sang primadona. Miss Tjitjih, gadis muda asal Sumedang, memikat Abu Bakar Bafaqih, pemimpin Opera Valencia. Terpesona oleh bakatnya, Abu Bakar tak hanya mengubah nama kelompok. Ia juga memutuskan untuk pindah beroperasi di Jakarta dan teguh mementaskan lakon berbahasa Sunda, bahasa ibu sang puspa hati. Awalnya Opera Valencia memainkan cerita berbahasa Melayu. Ini semua terjadi di tahun 1928.

Lalu mengalirlah cerita itu dari Imas: tentang imaji fisik Miss Tjitjih yang tak tentu rimbanya. Anak Abu Bakar dari istri pertama, Harun Bafaqih, sempat membuat lukisan Miss Tjitjih. Nahas, lukisan itu turut jadi abu saat Gedung Kesenian Miss Tjitjih terbakar pada 1997 silam.

Adik Imas, Elly Herawaty, turut menimpali. Seorang pegawai Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pernah bilang, foto Miss Tjitjih tersimpan di arsip pemerintah kolonial di Belanda. Fakta ini turut menegaskan peliknya perjuangan mereka dalam merawat ingatan. Ikhtiar agar tidak dilupakan.

Imas kemudian menyebut nama besar lain yang pernah berguru kepada mereka: Ine Febriyanti. Pemeran Nyai Ontosoroh di film Bumi Manusia (Hanung Bramantyo, 2019) itu melakukannya guna menempa diri sebelum memerankan tokoh Miss Kejora dalam lakon Opera Primadona.

Imas dan Elly dengan seru menceritakan ketakjuban Ine saat mengetahui proses berkesenian kelompok mereka. Berbeda dengan teater modern, aktor-aktor Miss Tjitjih dituntut untuk bisa merias diri sendiri. Mereka juga tak dibekali dialog dari naskah yang ketat dan hanya butuh satu kali latihan sebelum naik panggung.

Dengan eksistensi yang merentang hampir seabad, kritik terhadap mereka adalah hal jamak. Namun Imas sangat geram dengan celoteh yang mengatakan pertunjukan Miss Tjitjih kerap menjiplak film. Salah satunya adalah kisah Si Manis Jembatan Ancol yang filmnya baru dibuat pada 1973.

Padahal, sutradara dan produser film itu, Turino Djunaidi, datang meminta izin ke Kelompok Miss Tjitjih untuk mengalihwahanakan kisah tersebut. Turino membedakan versi film dengan teater. Dalam versi asli, pemeran Mariah menjadi hantu Si Manis karena dibunuh siluman Ancol. Sementara dalam film tokoh itu mati dibunuh begal. Laman informasi film di situs Filmindonesia.or.id mengonfirmasi hal ini.

Imas kerap kesulitan memilih kata. Mungkin karena ia lebih terbiasa menggunakan bahasa Sunda. Beruntung kami juga didampingi Elly, yang luwes menerangkan maksud perkataan Imas. Keduanya laksana mur dan baut, mitra yang saling melengkapi. Imas sejatinya telah memberikan tongkat estafet kepada sang adik untuk menjadi sutradara sejak 2020 lalu.

Imas Darsih (kanan) dan adiknya, Elly Suteba.

Hidup dan menghidupi kesenian tradisi

Mengenakan rok garis-garis sebetis, blus lengan panjang kuning, serta kerudung cokelat yang lebih sering disampirkan di pundak, Imas dengan bersemangat meladeni pertanyaan-pertanyaan saya. Sesekali ia menyesap rokok, menghadirkan kontras atas tubuhnya yang kurus. Kacamata berlensa tebal yang bertengger di hidung tak kuasa menyembunyikan nyala di mata Imas, nyala yang menyembulkan cinta pada kelompok sandiwara ini.

Imas Darsih lahir tahun 1962 di Bandung. Dari sembilan bersaudara pasangan Mat Ali dan Atikah, hanya dia yang tak lahir di lingkungan Miss Tjitjih. Dia tak menamatkan pendidikan dasar dan tak pernah mengenyam pendidikan teater di luar lingkungan Miss Tjitjih. Tak heran, keraguan dan cemooh kerap menghampirinya.

Suatu waktu kelompok ini disidang oleh calon pemberi hibah. Salah satu asesor secara blak-blakan mengkritik Imas Darsih yang di matanya tak memiliki kredibilitas dan kredensial sebagai sutradara. Asesor tersebut menilai Imas tidak layak mendapat kucuran dana tiap bulan. Walau dana akhirnya turun, kejadian ini amat membekas di hati Imas.

Inilah sebab mengapa ia kerap mewanti-wanti wartawan agar menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Apalagi jika Elly tidak berada di sisinya. Imas  masih sulit mengungkapkan pendapat jika tidak menggunakan bahasa Sunda.

Ancaman lebih besar, yang kerap datang mengetuk pintu kehidupan Imas, hadir dalam bentuk pertanyaan: apakah umur Kelompok Miss Tjitjih bisa panjang? Ia berkali-kali mengutarakan hasrat untuk menyaksikan ulang tahun ke-100 kelompok ini—yang akan tiba enam tahun mendatang.

Hujan deras jatuh ke kota, sedikit menginterupsi perbincangan kami. Suaranya memecah perbincangan karena atap asrama terbuat dari asbes. Mulut depan dan belakang asrama yang menganga tanpa sekat pun menambah riuh suasana.

Imas dilibatkan sang ayah di Kelompok Miss Tjitjih sejak di usia enam tahun. Ia dinilai punya bakat melawak dan lambat laun terampil menampilkan kesenian reog gembol. Di kesenian ini penampil utama harus bisa melawak, menari, sekaligus memainkan alat musik dogdog. Penampil utama terdiri dari empat orang dan diiringi kelompok pemusik.

Selain cerita horor, kelompok Miss Tjitjih andal menampilkan cerita komedi. Beberapa anggotanya dituntut untuk bisa melawak. Ngareog menjadi unsur kesenian yang kerap dimunculkan di sela cerita.

Imas, walau tidak runut, masih fasih menceritakan perjalanan kelompok Miss Tjijtih dari masa ke masa. Kepadanya saya memastikan sejumlah informasi yang beredar di internet. Salah satunya yang menyebut ia merupakan keturunan Abu Bakar Bafaqih.

Imas dan delapan saudaranya tak memiliki hubungan darah dengan sang patron. Darah wangsa Bafaqih mengalir ke Syarifah Rohmah, cucu Abu Bakar dari istri pertama, yang kini menjabat sebagai pemimpin kelompok. Ayah Rohmah, Harun Bafaqih, semasa hidup juga aktif di Miss Tjitjih sebagai aktor. Sementara itu ketua yayasan dipimpin oleh Tubagus Hasanuddin, politisi PDI-P yang menggemari kesenian Sunda.

Imas bertemu dengan tambatan hati, Bambang Supraptono, di pertunjukan Miss Tjitjih. Ia sebagai penampil, Bambang sebagai penonton. Menikah pada 1981, Imas telah merelakan kepergian suaminya ke haribaan Sang Khalik pada 2020 lalu. Sejoli ini dikaruniai 2 anak dan 4 cucu.

Bambang, yang berasal dari Surabaya, awalnya ingin memboyong Imas ke kota kelahirannya. Namun entah mengapa Imas takluk dengan permintaan orang tua, untuk tak segera pindah ke ibukota Jawa Timur itu.  Sebelumnya Bambang bekerja melukis poster film untuk Ratno Timoer, yang berasal dari kota yang sama. Ratno adalah aktor yang di kemudian hari mempunyai perusahaan film.

Seiring bergulirnya waktu, sang suami justru kerasan di Jakarta dan turut menjadi bagian dari kelompok. Bakat melukis Bambang menemukan wadahnya. Ia bertugas sebagai penghias dekorasi dan set panggung Miss Tjitjih.

Mata Imas kerap menguarkan aroma nelangsa saat menceritakan musibah yang dialami kelompok Miss Tjitjih. Selain lukisan sang sripanggung, kebakaran itu menghanguskan banyak aset Miss Tjitjih seperti naskah, kostum, alat musik, sound system, serta video rekaman penampilan mereka di berbagai tempat.

Benda terakhir menjadi yang paling ia sesalkan karena kenangan dan jejak kelompok di banyak peristiwa pun menguap tak berbekas. Berbeda dengan benda-benda lain, yang cepat atau lambat dapat terganti. Seperti Teater Koma, yang menyumbang koleksi kostum untuk Kelompok Miss Tjitjih.

Gedung Kesenian Miss Tjitjih dalam proses renovasi.

Kelompok Miss Tjitjih itu anomali. Mereka memainkan lakon berbahasa Sunda di kota yang tak seluruh penduduknya menuturkan bahasa tersebut. Fakta ini lambat laun menjadi pedang bermata dua. Miss Tjitjih, klaim Imas, adalah satu-satunya kelompok sandiwara berbahasa Sunda di Indonesia. Keunikan ini membuat mereka dan Paguyuban Wayang Orang Bharata mendapat keistimewaan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Pemprov menyediakan fasilitas gedung pertunjukan dan asrama tempat tinggal anggota yang terletak di Jl. Kabel Pendek, Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat. Di gedung yang saat ini sedang direnovasi itulah mereka menampilkan ratusan lakon selama 18 tahun terakhir.

Mereka juga mendapat dana operasional tahunan—meski beberapa kali dilaporkan seret. Imbas dari privilese ini, Kelompok Miss Tjitjih harus memainkan lakon berbahasa Sunda. Bahkan judul lakon pun harus menggunakan bahasa tersebut.

Aspek artistik maupun produksi mungkin bukan kendala berarti. Yang menjadi perhatian Imas adalah respons masyarakat, calon audiens mereka. Di zaman di mana mereka harus bersaing dengan kecanggihan teknologi dan budaya asing, penggunaan bahasa Sunda ia anggap cukup membatasi. Padahal mereka juga terampil memainkan lakon berbahasa Indonesia.

Privilese ini juga membuat Kelompok Miss Tjitjih tak bisa memainkan lakon bertema politik. Mempertontonkan adegan yang terlalu vulgar juga dilarang. Seandainya lebih otonom, Imas berhasrat mencipta sebuah naskah sandiwara untuk menyikapi skandal kepolisian yang dilakukan Ferdy Sambo.

Syarat Pemprov DKI memang tak ketat. Asal bermain di luar sarana yang mereka sediakan—semisal untuk memenuhi permintaan korporasi—Kelompok Miss Tjitjih tidak dibebani hal-hal di atas. Cuma memang jumlahnya tak sebanyak dan serutin pertunjukan di Gedung Kesenian Miss Tjitjih.

Imas menyadari bahwa zaman telah berubah. Jika dulu mereka bergantung pada magnet sang primadona, kini ia dan kolega harus berpikir keras demi menghidupi kesenian ini. Imas harus menemukan, atau barangkali membuat magnetnya sendiri.

Dalam proses pembuatan naskah, Imas dengan mudah memungut inspirasi dari kejadian yang ia lihat sehari-hari. Caranya mengeksplorasi ide mempunyai karakteristik yang sama saat tampil di panggung: merespons dengan cepat, mengandalkan ketajaman intuisi dan improvisasi.

Tatkala terjadi banyak kecelakaan maut di Tol Cipularang, Imas meresponsnya dengan menggubah cerita Setan Cipularang. Suatu waktu di Taman Ismail Marzuki, ia memperhatikan tingkah pemulung yang mengumpulkan kardus bekas ke dalam gerobak. Segera saja kerangka cerita berputar di kepalanya. Seingatnya ia telah mencipta lebih dari 50 naskah sandiwara.

Teranyar, keandalan Imas mengarang cerita akan teruji di acara Lebaran Teater yang akan dihelat pada 1 – 12 Desember 2022 di Taman Ismail Marzuki. DKJ, sebagai penyelenggara, memberi panggung bagi Kelompok Miss Tjitjih dan lima kelompok tradisi lain (Wayang Orang Bharata dan empat kelompok Lenong) untuk mementaskan cerita.

Dari keenam kelompok itu, hanya Miss Tjitjih yang dikepalai atau disutradarai perempuan. Saat musyawarah, pihak DKJ menantang para sutradara untuk mengajukan cerita yang bisa mengakomodasi seluruh tradisi (Betawi, Jawa, dan Sunda). Tatkala yang lain bergeming, Imas dengan sigap mengajukan ide cerita, yang lalu diterima penyelenggara dan lima kelompok lain. Lakon itu berjudul Mencari Bunga Wijaya Kusuma.

Terinspirasi dari teater, sosiolog Amerika Serikat Erving Goffman mencetus konsep dramaturgi guna menelaah interaksi antarindividu. Setiap interaksi adalah panggung teater, di mana individu mengalami proses ulang-alik antara back stage (‘belakang layar’) dengan front stage (‘depan layar‘). Di antara kedua proses tersebut, individu menggunakan frame agar “peran” yang ia tampilkan sesuai dengan “skenario”.

Proses transisi antara balik layar dengan depan layar sesekali mengalami kebocoran. Walhasil, manusia sering merasa rancu dalam menjalani hidup. Kita mesti pintar “membelah diri”. Agaknya itu tak terjadi pada Imas Darsih, yang tiap hela napasnya adalah kehidupan Kelompok Miss Tjitjih itu sendiri.

Kolektivisme perempuan

Dalam “Dongeng dari Teater Perempuan (Menangkap Peluang dan Berpikir Strategis)” (2005), Prof. Yudiaryani mengibaratkan perempuan pelaku seni teater sebagai orang yang menyelam ke sumur tak berdasar. Guru besar teater itu menjelaskan, di dalam sumur terdapat banyak lorong yang akan membuat para perempuan tersesat atau mati kehabisan napas.

Mungkin perumpamaan di atas ia tujukan kepada perempuan yang bergiat di teater modern. Sebab bagi Imas, melakoni teater Sunda bersama Miss Tjitjih berarti menjalani hidup. Masa tumbuh-kembang hingga beranak pinak ia lalui di lingkungan ini.

Ayahnya mewariskan tongkat penyutradaraan kepada kakak Imas, Maman “Esek” Sutarman. Saat ia berpulang 2011 lalu, Kelompok Miss Tjitjih harus segera menemukan pengganti karena jadwal pentas yang padat. Imas, yang saat musyawarah tidak mengajukan diri, justru dipilih sebagai sutradara baru oleh para anggota.

Bagi Imas, rasa mumet karena urusan keluarga musnah sekejap saat ia berpentas bersama Miss Tjitjih. Saya lihat matanya kerap memandang ke lorong bagian timur. Di sisi itu terlihat lebih dari lima bocah sedang meleseh di atas tikar. Merekalah para penerus Miss Tjitjih kelak.

Sejak memutuskan untuk melimpahi posisi sutradara kepada Elly, Imas belum sepenuhnya melepas sang adik. Ia masih sering mendampinginya saat menyutradarai pertunjukan. Terlebih, dunia dilanda pandemi sehingga menghambat proses pengkaderan.

Keduanya kerap berdebat di asrama jika ada yang kurang pas saat latihan atau pertunjukan. Adiknya adalah orang pertama yang ia mintai saran. Walau dilahirkan dari rahim yang sama, gaya penyutradaraan keduanya bertolak belakang.

Elly lebih tegas dan tak segan menindak anggota yang tak disiplin. Semisal ada anggota yang absen latihan sebanyak tiga kali, Elly mengultimatum yang bersangkutan dengan ancaman tak mendapat peran. Sementara Imas lebih halus dan mengutamakan persuasi. Ia sering mengalah, memahami bahwa anak-anak yang ia pimpin besar di zaman yang sama sekali lain dengan zamannya.

Asrama tempat tinggal Kelompok Miss Tjitjih.

Imas juga mengkhawatirkan ancaman yang datang dari dalam. Mereka mengalami krisis anggota, utamanya aktor pria dewasa dan musikus. Sementara cucu-cucunya, generasi keempat kelompok, mudah terpikat bujuk rayu ponsel dan budaya hallyu Korea Selatan. Ia mengeluhkan betapa lengketnya mereka dengan ponsel, yang bahkan tetap ditengok saat latihan.

Para anggota keluarga kelompok ini tidak diikat kontrak. Mereka boleh keluar jika menemukan rezeki di ranah lain, atau bila dibawa pasangannya pasca menikah. Namun, mereka yang tinggal di asrama wajib berkontribusi untuk Miss Tjitjih. Karena cenderung tak berpatok pada spesialisasi dan diferensiasi kerja, setiap penghuni dapat mendukung keberlangsungan teater sebisanya.

Para tetua memperhatikan setiap anak. Yang tak berbakat akting atau bermusik diarahkan untuk menekuni pekerjaan lain seperti merias panggung atau membuat properti. Semua itu mereka lakukan dengan prinsip learning by doing. Mereka melihat lalu menyerap apa yang orang tua mereka lakukan, lalu memodifikasinya dengan pengetahuan yang didapat dari mana saja.

Imas menitikberatkan satu hal sebagai syarat moncernya seorang seniman: orang itu harus punya cinta dulu. Jika sudah punya itu, sisanya akan lapang dan mudah saja.

Keunikan inilah yang menjadi daya tarik Miss Tjitjih. Kelompok ini menjadi laboratorium bagi banyak aktor. Nama-nama seperti Yuki Kato, Fitri Tropica, dan Citra Kirana pernah menjajal panggung Miss Tjitjih. Bahkan pesonanya memikat Dadang Badoet, seniman teater modern yang beberapa kali memenangi penghargaan bersama kelompok Stage Corner Community. Ia kini turut tinggal di asrama Miss Tjitjih dan, selain menjadi aktor, juga mengemban posisi asisten sutradara.

Kemunculan Dadang awalnya tak mulus. Caranya menyutradarai pertunjukan dianggap tak cocok dengan gaya Miss Tjitjih. Ia terlampau keras dan saklek berpatokan pada tugas dan tanggung jawab personil—khas sistem pembagian kerja dunia modern. Sementara Kelompok Miss Tjitjih adalah paguyuban seniman tradisi yang mengandalkan budaya gotong royong.

Dalam paper di atas, Prof. Yudiarni juga mengutip pandangan sosiolog feminis Maria Mies tentang perbedaan karakter kerja laki-laki dengan perempuan. Bila laki-laki bekerja dengan prinsip hierarki, perempuan cenderung melakukan sesuatu secara kolektif.

Inilah yang terjadi di Kelompok Miss Tjitjih. Imas, Elly dan Rohmah saling menambal kekurangan, yang terakumulasi menjadi kekuatan penyangga kelompok. Rohmah pun sering tampil menjadi aktor di pertunjukan Miss Tjitjih.

Mengingat adalah berjuang

Merujuk pada laporan Kompas “Merawat Kesenian Tradisional yang Nyaris Punah” (12/1/2019), seni pertunjukan teater menempati urutan ketiga—setelah seni tari dan sastra—sebagai kesenian dengan kategori hampir punah terbesar di Indonesia. Laporan itu menyebut sisingaan asal Subang, Jawa Barat, sebagai salah satu seni yang masuk kategori hampir punah di kategori teater.

Untuk diwariskan ke generasi penerus, dokumentasi adalah pupuk yang dapat membuat kesenian ini lestari. Bagaimana bisa memikat jika sarana untuk menikmati dan meresapinya tak ada? Bertungkus lumus di ranah ini sejak kecil, proses pendokumentasian menjadi hal yang acap Imas dan koleganya abaikan.

Mengingat adalah menjaga. Mengingat, seperti yang dikemukakan Milan Kundera dalam Kitab Lupa dan Gelak Tawa, adalah upaya melawan kekuasaan. Dalam konteks Kelompok Miss Tjitjih, kekuasaan yang mereka lawan adalah hegemoni budaya asing dan gerak roda zaman.

Meredanya pandemi dan revitalisasi kompleks Miss Tjitjih diharap dapat meneruskan nyala kelompok sandiwara ini. Dalam kepala Imas dan Elly sudah terpacak sejumlah rencana. Tahun depan mereka merencanakan kompetisi teater dari naskah-naskah Miss Tjitjih. Pemenangnya akan diajak berkolaborasi untuk tampil di Sumedang, kampung kelahiran Miss Tjitjih. Itu cuma satu dari sekian banyak cita-cita.

Matahari belum sepenuhnya rebah tapi langit Jakarta sore itu kelabu, bukan jingga. Antara gedung pertunjukan dengan asrama kelompok dipisahkan lapangan. Sebelum pandemi, area itu dimanfaatkan sebagai pendopo dan pujasera. Saat ini dipenuhi puing dan rangka bangunan, malih bagai jerangkong.

Di kepala saya terngiang harapan Imas kepada generasi penerus. Ia tahu zaman telah seutuhnya lain. Ia tak berharap Kelompok Miss Tjitjih kembali berjaya seperti dulu. Imas Darsih selalu bangga saat bertemu generasi muda yang meminati kesenian tradisi, sekecil apa pun minat itu. Ia sungguh berharap kecintaannya terhadap Miss Tjitjih bisa terwarisi.

“Cintailah Miss Tjitjih. Sok, harumkan lagi Miss Tjitjih.” ♦


Catatan: Tulisan ini meraih juara  kelima dalam Lomba Foto dan Karya Tulis Inspirasi Perempuan Indonesia 2022 yang diselenggarakan Kompas dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x