Twins Music: Bukan Lapak Musik Biasa

Ketika jaringan antar lini yang sudah dibangun bertahun-tahun mampu menghadirkan sebuah pesta perayaan ulangtahun. Ketika para sahabat mau berkumpul kembali demi merayakan umur keempat puluh sang empunya lapak. Ketika band sekelas White Shoes & The Couples Company ‘rela’ tampil hanya menyanyikan dua buah lagu. Ketika Pestolaer kembali ‘nembak’ setelah tiga tahun tidak tampil. Ketika para pelaku ‘movement’ tersebut kembali berkumpul demi sebuah tujuan paling fundamental dari bermusik: bersenang-senang.

Berawal dari status Bangkutaman di facebook yg mengabarkan jadwal show mereka. Tanpa sengaja saya melihat di salah satu status mereka bahwa pada tanggal 7 Februari mereka akan main bersama Rumahsakit, Pestolaer, The Brandals, The Upstairs, Goodnight Electric, Fable, Sore, Flowers, Superglad, hingga supergrup Mantra di acara yang bertajuk “Friends To Friends: 40th Anniversary of Twins Music”.

Kontan aliran darah saya berdesir deras. “Rumahsakit sama Pestolaer mau main lagi? Yang benar saja?!!”, batin saya saat itu.

Selidik punya selidik, setelah saya mencermati lebih detail status tersebut, barulah saya sadar kalau Twins yg dimaksud adalah lapak kaset/CD bekas di Blok M yang setahun terakhir menjadi tempat favorit saya kala berlibur di rumah.

Twins, merujuk pada namanya yang berarti kembar (dikelola oleh si kembar Anda dan Andi) ini bukan sekedar lapak musik biasa. Jika kalian adalah seorang maniak rekaman tingkat beginner dan berkantong cekak seperti saya, maka siap-siaplah memaki-maki kenapa tidak terlahir sebagai anak pejabat eselon tiga. Ketika pertama kali berkunjung mungkin kesan pertama yang tampak adalah betapa keras dan introvert-nya si penjaga lapak. Namun hal itu akan berubah 180 derajat seiring intens-nya alur pembicaraan yganda bina bersama si kembar.

Twins sendiri berlokasi di Blok M mal. Sebagai panduan agar tidak tersesat, di kawasan Blok M terdapat empat mal/pusat perbelanjaan: Blok M Mall, yang terletak di satu lokasi dengan terminal bis blok M. 2) Blok M Plaza, yang terletak di depan terminal. 3) Plaza Manggarai. Teranyar, 4) Blok M Square.

Jika anda sudah berada di terminal Blok M, segera masuki blok M Mal dan tanya kepada seseorang dimana letak Twins Music. Karena sulit bagi saya untuk menjabarkan lokasi Twins Music melalui tulisan.

Sebagai obrolan pembuka, pada kunjungan pertama itu saya menanyakan apakah Twins mempunyai kaset Rumahsakit. Pilihan tepat sekaligus tidak tepat. Tepat karena saat itu di raut wajah si abangmenandakan gairah, yang berarti titik cerah bagi saya. Tidak tepat karena selepas pertanyaan itu terlontar dari bibir saya dia bertanya, “Anak IKJ yeh? Punya gw Rumahsakit album kedua. Tapi jangan bilang siapa-siapa yah kalo kasetnya masih gw jualin. Soalnya temen sendiri”. Padahal saya bukanlah mahasiswa institut yg berdiri atas inisiatif Ali Sadikin itu.

Obrolan berlanjut. “Gw bukan anak IKJ bang, gw penasaran aja nyari tu kaset ga pernah ketemu. Rumah sih di Jakarta, tapi gw kuliah di Jogja”, lanjut saya. “Oh ya? Bangkutaman ama Seeksixsick gimana kabarnya, tuh?”, tanyanya lagi.

Good point. Saya berharap cairnya interaksi dengan si abang akan membuat saya kelimpahan kortingan sekaligus terbukanya jalur silaturahmi baru.

Melihat koleksi Twins Music, jika anda teliti lebih jauh, sungguh mencengangkan. Hampir segala jenis musik yang ada di atas muka bumi tersedia disini. Suka Britpop? Hmm.. kaset Change Giver milik Shed Seven saja dipajang di tempat paling mudah dilihat (yang berarti kaset tersebut bukanlah kaset yg terlalu ‘berharga’ bagi Twins). Anda ‘baru’ mulai mencintai Velvet Underground dan ingin mendengarkan karya-karya solo Lou Reed sang vokalis? Tersedia disini.Di sini anda bahkan bisa mendapatkan album klasik milik Rhoma Irama & Elvi Sukaesih versi asli! Anda adalah fans kesekian Oasis yang menangisi bubarnya band tersebut dan ingin mengoleksi kaset-kaset mereka? Tersedia disini. Anda adalah maniak band-band dekade 60-an? Bahkan band supergroup Travelling Wilburys yang sangat langka tersedia di pasaran ‘nangkring’ disini. Anda adalah seorang shoegazer dan ingin mencari artefak band shoegaze? Tersedia disini. Tapi sayangnya album Loveless milik Lush yang pernah beredar di Indonesia itu sudah saya ‘panjer’. Lucky me. Saya bahkan mendapatkan album lawas milik kelompok pop cult asal bandung ETA di Twins Music. Juga ratusan koleksi lain yang meliputi Hardcore/Punk, Metal, Hip-hop/Rap, 60’s Indonesia sampai Progressive.

Saya adalah seorang backpacker dan di tiap kunjungan saya di berbagai kota saya selalu menyempatkan mampir ke lapak-lapak musik di daerah tersebut. Jika anda sedang berada di kota Malang, kunjungi deretan lapak di sekitaran Stadion Gajayana. Meski koleksi disana tidak selengkap DU68 di Bandung, tapi jika anda sedang beruntung jangan heran jika mendapati boxset milik AC/DC.DiJakarta Timur ada sebuah lapak setipe yang berlokasi tidak jauh dari Jatinegara Plaza, juga di lapak-lapak musik di Pasar Tampur, Jakarta Selatan. Di Jogja, anda bisa menemukan lapak jenis ini di depan Pasar Bringharjo dan Klithikan. Namun rasa-rasanya koleksi di tempat-tempat tersebut masih kalah dengan koleksi Twins Music.

Nah, jika anda tidak teliti, banyak sekali kaset-kaset/CD bajakan di lapak-lapak pinggiran tersebut. Kadang kondisi pita-nya atau permukaan cakram tidak terawat apik sehingga membuat kualitas rekaman sedikit menurun. Bahkan tidak jarang kondisi barang tidak sampai 50 persen baik dari segi kualitas rekaman maupun penampilan fisik.

Disini anda tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal tersebut. Berlawanan dengan lapak-lapak tadi, Anda/Andi sangat menguasai barang ‘dagangan’-nya. Jadi jangan heran jika mereka akan merekomendasikan kaset/CD apa yang sekiranya cocok dengan selera anda. Jika anda bukan pembeli yang serius, dalam artian anda sebenarnya hanyalah ingin melihat-lihat, jangan harap bisa melihat koleksi Twins Music yang masih tersimpan rapi di kardus. Saya pribadi baru ditawari kaset The Best of The Smiths seri 1 dan 2 versi asli (keluaran label WEA) pada kunjungan kedua saya. Padahal pada kunjungan perdana saya mengenakan kaos The Smiths dan menanyakan apakah terdapat koleksi The Smiths di lapak ini. Masih segar dalam ingatan ketika saya cuma bisa memaki “Anjing, lu baang!” kala diberi lihat kaset itu. Bandrol Rp. 180.000,-/seri saya rasa sangat wajar karena di situs online shopping seperti Amazon dan Ebay bisa dua kali lipatnya.

Walhasil saya harus cukup puas menimang-nimang dan mengelus-ngelus ‘harta’ tersebut dan mengalihkan perhatian pada kaset The Monkees yang akhirnya hanya bisa saya cicil.

Setelah anda memilih kaset/CD yang ingin dibeli, akan dilakukan proses pembersihan pita dengan cairan dan alat khusus sehingga anda tak perlu khawatir akan cacat-nya barang yang anda beli.

Selain kontribusi-nya sebagai distributor rilisan band-band ‘bawah tanah’ lokal. Reputasi Twins yang lain adalah sebagai pembuat acara. Anda yang sangat menggemari Pestolaer dan Seeksixsick ini mengaku bahwa di tiap event yang dia selenggarakan tidak pernah melibatkan pihak sponsor. Sehingga ia bisa bebas memilih band-band apa saja yang akan tampil. Lupakan segala macam keruwetan konsep dan estetika yang akhir-akhir ini anda jumpai di berbagai acara musik. Tiap acara yang mereka selenggarakan murni untuk memberi kesempatan bagi band-band ‘arus bawah’ bermodal cekak untuk tampil, dalam tanda kutip band itu bagus dan mereka sukai. Mirip dengan gerilya kelompok Kongsi Jahat Syndicate di Yogyakarta. Sangat Klandestin!

Industri musik dunia sedang berjalan tertatih-tatih menghadapi pembajakan dan gurita jagat maya, namun di skala lokal Twins Music masih mampu bertahan sebagai tempat nyaman bagi musisi, penikmat, penggiat scene, hingga abang-abang pecandu dangdut untuk bersandar.

Sebelum Pestolaer tampil sore itu, saya merengsek maju ke depan panggung demi mendapat view yang bagus karena penampilan Pestolaer hendak saya dokumentasikan, juga agar saya bisa menegur Anda yang tengah mencermati jalannya acara.

“Woy, Bang! Selamet ye acaranya. Met Ulangtahun juga buat lu”, teriak saya sembari mengulurkan tangan. “Weeeeey.. Gimana? Keren kan acaranya? Mantep yeh, mantep yeh?”, katanya sambil menyambut uluran tangan saya.

Saat itu tidak terlihat raut muka arogan milik seseorang yang berhasil menggalang band-band besar untuk tampil di acara tanpa sponsor. Jelas terlihat di raut wajah itu rona ceria penuh gairah layaknya seorang bocah tujuh tahun yang sedang menraktir teman-temannya makan es krim di depan sekolah.

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

4 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Fandi Abdullah

astagfirullah, iri bgt gw bro baca tulisan lu ini.gw tinggal di kota Medan soalnya, dan cerita soal Twins ini jg baru tw gw bro, inspiratif bgt. Klandestin! uhuy.eniwei, salam kenal yah, gw penggemar musik generasi internet 2.0, tdk mengoleksi rilisan fisik sama sekali. :p

Fajar Martha

Sama-sama. Salam kenal juga :)Makasih nih udah dibaca

KEM

kesini gegara baca komen di ngobryls. kamu keren.

4
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x