Liga 2: Liga Hari Kerja yang Bukan untuk Kelas Pekerja

Pertama tayang di Football Tribe Indonesia, 3 April 2017

Tak salah kiranya, jika kaum romantik hingga hari ini masih menganggap sepak bola sebagai wahana bagi kelas pekerja untuk melepas penat yang melanda, setelah beban dan rutinitas hidup sehari-hari yang menjemukan. Saat akhir pekan tiba, semua itu sirna karena sepak bola telah terbukti sanggup menjadi pelipur lara.

Di ranah budaya populer bahkan terdapat frasa yang berbunyi “When Saturday Comes”, saat Sabtu tiba. Hari di mana klub kesayangan berlaga, meski hasilnya belum tentu memberi dampak positif. Ajang rekreasional justru menjadi penambah duka, jika tim kesayangan mengalami hasil buruk.

Saat PSSI mengumumkan beberapa keputusan terkait liga yang akan bergulir, banyak regulasi yang mengundang tanya. Kali ini saya ingin membahas soal Liga 2 yang rencananya hanya akan bertanding pada hari Senin sampai Kamis.

Kita dengan mudah akan mendakwa bahwa kebijakan ini dibuat akibat pengaruh kepentingan Viva Group selaku pemegang hak siar Liga 1 dan 2 untuk musim ini. Sayangnya, pihak PSSI tidak memberikan penjelasan terkait peraturan ganjil tersebut. Situsweb pssi.org, yang seharusnya bisa menjadi wadah penyaluran informasi, tidak menyiarkan pemberitaan penting terkait hal ini.

Yang paling dirugikan dari kebijakan ini tentu saja para suporter. Saat kita menonton pertandingan di stadion, yang kita ‘korbankan’ bukan hanya uang, tetapi juga waktu, tenaga serta pikiran. Bayangkan jika Anda seorang pekerja swasta yang bergaji pas-pasan. Bagaimana Anda mengatur waktu untuk mendukung tim kesayangan jika pertandingan dihelat di hari kerja atau weekdays?

Belum lagi jika klub yang Anda puja berlaga di kandang lawan. Rasa-rasanya, jika bukan bertepatan dengan hari libur nasional, akan sulit untuk melakukan perjalanan ke kota tim lawan. Di sini bukan saya menafikan loyalitas suporter. Yang saya pikirkan adalah bagaimana logika media bisa diterima begitu mentah oleh PSSI.

Terkait hal ini, Persebaya lewat barisan pendukungnya, Bonek, telah melangsungkan aksi protes pada Minggu, 2 April 2017.

Koordinator aksi, Andie Peci, menyempatkan diri untuk mengutarakan pendapatnya di aksi yang berlangsung di Car Free Day (CFD) di Jalan Raya Darmo, Surabaya. “Bonek kan juga punya aktivitas. Ada yang bekerja, ada yang pengusaha, juga ada yang masih sekolah. Jadi hanya bisa menonton di setiap Sabtu atau Minggu.

“Kami mendesak PSSI untuk mengkaji keputusan yang baru dikeluarkan. Bonek juga meminta manajemen (Persebaya) berkirim surat kepada PSSI secara resmi, menyampaikan keberatan tentang regulasi hari pertandingan,” katanya kepada Detik (2/4).

Sepak bola adalah oase. Sepak bola menjadi wahana rekreasi. Tetapi jika jadwal hanya dibikin untuk menyenangkan pemegang hak siar televisi, PSSI telah sungguh-sungguh abai terhadap kesejahteraan klub-klub Liga 2.

Mengapa demikian? Karena keberlangsungan Liga 2 juga tak luput disertai berbagai regulasi aneh. Selain itu, tunjangan dari PSSI untuk tim-tim kasta kedua begitu jomplang jika dibandingkan dengan yang diraih tim-tim Liga 1. Perbandingannya, 7,5 miliar untuk masing-masing klub Liga 1, berbanding 500 juta untuk mereka yang berkompetisi di Liga 2.

Tak pelak, selain dari sponsor, klub begitu berharap dari pemasukan tiket di laga yang berlangung di kandang mereka. Mungkin untuk klub-klub seperti Persebaya, PSIS Semarang, PSS Sleman, PSIM, dan klub-klub ‘tradisi’ lain hal itu tak terlalu menjadi perkara berarti. Tetapi bagaimana dengan klub-klub baru? Bagaimana dengan klub-klub yang tidak memiliki basis suporter kuat seperti yang telah saya sebut barusan?

Operator liga, yang bernama PT Liga Indonesia Baru, memiliki tanggungan untuk menjelaskan dan, menurut saya, mengubah jadwal yang memberatkan suporter ini. Semakin lama mereka menunda, maka semakin besar keyakinan kita untuk menilai bahwa kompetisi yang ada akan berlangsung berantakan.

Transparansi lagi-lagi masih menjadi hal yang enggan diakrabi pengurus sepak bola Indonesia. Jika PSSI begitu mudahnya takluk dari kepentingan pemodal (pihak TV), mereka sama saja seperti tukang kayu yang menggergaji dahan pohon yang sedang mereka duduki sendiri. Sialnya, kita turut bertempik sorak atas kejadian memalukan itu, tanpa sadar bahwa kita pun akan tertimpa kayu berikut si ‘tukang kayu’.

Jika istilah frasa ‘sepak bola olahraganya kelas pekerja’ masih didengungkan kolektif-kolektif suporter dengan penuh kebanggaan, maka siapa yang akan datang ke stadion jika pertandingan berlangsung di hari kerja? ♦

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x