Kelat-Manis Italia dan Persimpangan Jalan Itu

Ada sebuah kata dalam bahasa Inggris yang sukar saya cari padanannya dalam bahasa Indonesia: “bittersweet”. Ini adalah sebuah suasana atau peristiwa saat seseorang berdiri di suatu titik antara. Titik yang mengajari sang pelaku untuk mensyukuri tragedi dan meresapi—bukan merayakan—kejayaan.

Suasana ini mudah kita temui di karya-karya fiksi. Sebut saja novel-novel Kazuo Ishigiro atau film Her (2013) besutan Spike Jonze. Lakon hit Harry Potter pun, jika anda cermati, menyajikan suasana ini: nuansa ambang; laksana perpisahan dengan yang tercinta di stasiun keretaapi kala langit memerah.

Di Harry Potter jilid kelima, Harry harus kehilangan orang yang ia sayangi, ayah baptis sekaligus karib mendiang ayahnya, Sirius Black. Namun sejurus kemudian kisah pun berkembang saat orang-orang di Kementerian Sihir menyaksikan dengan mata telanjang bahwa sang Pangeran Kegelapan, Lord Voldemort, benar-benar telah kembali. Peringatan Harry dan Profesor Dumbledore selama ini ternyata bukan bualan.

Dan bukankah Piala Eropa 2020 ini telah memperlihatkan pada kita bahwa tragedi hampir selalu mengintai kejayaan? Walau tak betul-betul hadir, ia toh senantiasa menghantui.

Baru di fase grup saja, umat pencinta kulit bundar seluruh dunia dibuat terenyuh oleh kolapsnya Christian Eriksen di tengah laga Denmark versus Finlandia. Tanpa menunggu diagnosis dokter, kita tahu itu adalah serangan jantung.

Berbagai episode mengharukan pasca jatuhnya sang pengatur serangan terjadi di depan mata, membuat kekalahan Denmark tak lagi penting: nyawa Eriksen, yang musim lalu sukses merajai Italia bersama Inter Milan, tengah terengah-engah antara hidup dan mati.

Para penggila bola juga teramat mafhum tragedi Eriksen bisa menjadi kartu merah bagi karier pria berusia 29 tahun itu. Peristiwa serupa pernah menimpa gelandang Bolton Wanderers Fabrice Muamba sembilan tahun silam. Jantung Muamba bisa kembali berdetak, namun ia harus merelakan karier sepakbolanya berhenti di usia teramat belia, 24 tahun.

Walau kembali menelan kekalahan di pertandingan kedua kontra Belgia, tim Dinamit terus meletup hingga membawa mereka ke semifinal. Tragedi Eriksen bukan satu-satunya pemicu keberhasilan ini. Tapi kita tidak bisa menafikan peran vitalnya di tim. Selain bermain penuh di seluruh laga kualifikasi Piala Eropa 2020, ia juga menyumbang 5 gol dan 4 asis. Kiprah Denmark melampaui batas ekspektasi penggemar serta pengamat.

Sama seperti Muamba, Eriksen berhasil selamat dari maut. Ia kini berharap rekan-rekannya mampu melangkah tak hanya lebih jauh, tapi merengkuh trofi yang dulu mereka gapai secara mengejutkan di tahun 1992.

Denmark akan berjumpa Inggris, yang di atas kertas jauh lebih unggul dan diunggulkan. Di sisi yang lain, Italia akan bersemuka dengan Spanyol: tim yang, sama seperti Gli Azzuri, adalah raksasa yang tengah tertidur dan diremehkan di awal turnamen.

***

Tragedi berkawan akrab dengan mereka yang terbuang. Kejayaan terakhir Italia, di Piala Dunia 2006, juga berfondasikan tragedi kelam bernama calciopoli. Berbanding lurus dengan laku lancung elite sepakbolanya, kiprah klub-klub Italia pun terperosok di Liga Champions dan Liga Eropa.

Di Liga Champions, terakhir kali klub Italia mengangkat trofi diwakili oleh Inter Milan-nya Jose Mourinho pada 2010. Di ajang Liga Eropa lebih nahas lagi. Parma menjadi klub Italia terakhir yang mampu memenangi kompetisi di tahun 1999.

Skandal ini membuat publik membenci Italia di Piala Dunia 2006. Aksi teatrikal Fabio Grosso di laga kontra Australia (16 besar) dan provokasi Marco Materazzi pada Zinedine Zidane (partai final) semakin menggumpalkan rasa itu.

Bagi Italia, tragedi tidak berhenti di situ. Lepas satu hari pasca menumbangkan Australia, datang kabar menyesakkan dari tanah air: dengan rosario dalam genggaman, manajer baru Juventus, Gianluca Pessotto ditemukan mengalami luka berat akibat jatuh dari lantai empat markas klub di Turin. Ia diduga melakukan percobaan bunuh diri. Mantan rekan setim Pessotto yang kala itu bertugas di Piala Dunia, Alessandro Del Piero dan Gianluca Zambrotta, terbang ke Italia untuk menjenguknya.

Di atas rumput, Italia harus kehilangan Daniele De Rossi sepanjang empat laga berkat ulah kasarnya terhadap pemain Amerika Serikat Brian McBride. Tak berhenti sampai di situ, mereka pun harus kehilangan bek tumpuan Alessandro Nesta yang mengalami cedera di laga terakhir grup A melawan Ceko.

Namun laksana foniks, anak-anak Marcello Lippi terus berupaya—apa pun caranya—dan sanggup digdaya. Menahan gempuran cemooh dan penampilan tangguh tuan rumah Jerman dan jawara 1998 Prancis, tim itu memungkasi turnamen dengan membawa pulang trofi.

Skuat timnas Italia di Piala Dunia 2006

Di Piala Eropa 2020, tragedi itu datang dalam wujud yang jauh lebih menyeramkan, dan, yang lebih pilu lagi, mematikan. Tragedi datang dalam wujud virus dan Italia menjadi negeri Eropa pertama yang luluh lantak diterjang virus ganas Covid-19.

Perihal ini juru taktik Roberto Mancini berkomentar:

Cuplikan video konvoi tentara yang membawa banyak peti mati dari Bergamo adalah pukulan telak di wajah, suatu gambaran yang amat keras dan memilukan. Tak ada seorang pun yang siap untuk neraka ini. Memikirkan banyaknya orang yang meregang nyawa hanya karena minimnya ranjang dan alat bantu pernapasan.

Ia pun tak luput dari terjangan virus. Namun eks playmaker Sampdoria dan Lazio itu tetap optimistis dapat membawa Italia juara walaupun Piala Eropa 2020 harus ditunda satu tahun.

Mancio, panggilan akrabnya, tak sedang membual. Optimisme itu memiliki dasar karena di tangannya, Italia tak terkalahkan selama 32 pertandingan. Di kualifikasi Piala Eropa 2020, mereka menyabet rekor 100 persen: 10 kemenangan di 10 laga.

Di dua laga pembuka grup A, Italia sukses menghantam Turki dan Swiss dengan skor kembar 3-0. Dua hasil ini tentu bahkan membuat pendukungnya melupakan nama Marco Verratti, sang regista yang sejak belia dinobatkan sebagai pewaris Andrea Pirlo. Di dua laga tersebut, Manuel Locatelli sanggup unjuk gigi dan membuat AC Milan sedikit menyesal telah melepehnya ke Sassuolo.

Saat Verratti akhirnya bisa bermain di laga versus Wales, kita (di)sadar(kan) kembali akan solidnya ia bersama duo Ciro Immobile-Lorenzo Insigne, mengingat mereka pernah diasuh si gila Zdenek Zeman saat membela Pescara. Plus pemain AS Roma Alessandro Florenzi, ketiganya turut membela Italia U-21 di Piala Eropa U-21 2013 yang dihelat di Israel.

Dibandingkan skuat Piala Eropa 2012, tim ini tidak memiliki superstar. Meski pertahanan mereka dikawal duo Juventus-cum-veteran Piala Eropa 2012 (Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci), skuat tidak didominasi pemain-pemain dari Juventus, AC Milan, maupun Inter Milan. Di Piala Eropa 2012: tujuh pemain Juventus diboyong Cesare Prandelli, pelatih Italia saat itu.

Di bawah asuhan Mancini, Italia adalah tim yang memiliki kedalaman dan kematangan. Sang allenatore bak jelmaan Giuseppe Garibaldi dan Giuseppe Mazzini di abad ke-19 lalu.

Menduplikasi seniornya di 2006, skuat yang dikapteni Chiellini ini juga memiliki oriundi seperti Mauro Camoranesi dalam diri Jorginho, Emerson, dan Rafael Tolói. Nama pertama bahkan menjadi sosok krusial. Bersama Gianluigi Donnaruma dan Bonucci, Jorginho menjadi pemain yang selalu dimainkan Mancini di kejuaraan ini.

Oriundi adalah mereka yang memiliki darah Italia dan lahir di negara lain namun berhak membela timnas. Sepanjang sejarah, para oriundi menorehkan catatan manis dalam kiprah Italia di berbagai kejuaraan sepakbola.

***

Yang menjadikan turnamen sepakbola antarnegara menarik adalah sulitnya menetapkan indikator untuk calon jawara dan performa tim. Suatu tim biasanya tampil kalem di fase grup, sebelum akhirnya menunjukkan performa mengagetkan di fase gugur.

Kemenangan Portugal pada Piala Eropa 2016 adalah contoh segar. Kala itu, untuk lolos dari fase grup saja mereka kesulitan, berbanding terbalik dengan Jerman (berstatus sebagai jawara Piala Dunia 2014) atau Prancis, sang tuan rumah.

Penaksiran serupa juga dialami Italia. Wajar belaka: selain Wales, lawan-lawan mereka di grup bisa dibilang enteng. Seluruh laga grup A juga dihelat di tanah mereka sendiri. Pandangan miring semakin menebal tatkala demi melewati adangan Austria saja mereka harus melalui perpanjangan waktu.

Hal itu akhirnya berhasil dibungkam pasca mengempaskan tim yang digadang-gadang memiliki skuat digdaya, sekelompok generasi emas yang pantas berjaya di Eropa maupun dunia maupun galaksi yang lain: Belgia.

Duet bek gaek Chiellini-Bonucci nyatanya terlalu tangguh bagi para penyerang ganas Belgia yang dikomandoi Romelu Lukaku dan Kevin De Bruyne. Italia mengalahkan mereka dengan skor 2-1.

Kemenangan itu menjadikan Italia sebagai satu-satunya tim yang memiliki rekor 100% di antara semifinalis lain: 5 kemenangan di 5 laga (mencetak 11 gol dan hanya kebobolan dua kali). Italia era Mancini adalah tim yang kerap bermesraan dengan rekor positif.

Roberto Mancini.

Sekali lagi perlu saya ingatkan, rekor demi rekor positif dan penampilan impresif sepanjang turnamen bukanlah garansi. Mancini tahu betul akan hal itu. Kiprahnya sebagai pelatih dimulai dengan menciptakan gaya bermain pragmatis yang cenderung defensif. Saya paham dan mengenang dengan getir bagaimana ia mensyukuri skor 0-0 Manchester City melawan Arsenal di paruh kedua musim 2010-11.

Bagaimana bisa klub yang di bursa transfer menghabiskan dana lebih dari 100 juta paun hanya mengincar hasil imbang dari tim semedioker Arsenal? Tak ayal, pendukung meriam London pun menghujani Manchester biru dengan cemooh.

“Saya lebih memilih dihujani boo di akhir laga dan pulang ke rumah membawa satu poin ketimbang harus kebobolan tiga gol. Para pendukung tuan rumah menilai kami membosankan? Bagi saya itu tak penting. Saat anda bermain di sini (Emirates Stadium) menghadapi Arsenal, mereka sangat mungkin bermain lebih baik ketimbang anda sehingga anda harus bertahan. Inilah sepakbola,” elaknya sebagaimana saya kutip dari the Guardian (6/1/2011).

Boleh saja pendukung meriam London sibuk mengejek, namun di akhir musim, Mancini-lah yang tertawa karena berhasil membawa timnya finis lebih baik ketimbang Arsenal. Di musim berikutnya, ia bahkan berjasa membawa the Citizen meraih trofi Liga Primer Inggris untuk kali pertama dalam sejarah.

Kembali membahas tragedi. Ia menghampiri Italia dengan sigap. Euforia mengalahkan Belgia dipayungi gegana pekat lewat cedera yang menerpa bek kiri mereka, Leonardo Spinazzola—yang turut mencuri perhatian di kejuaraan ini. Pemain AS Roma tersebut menderita cedera tendon Achilles, cedera serius yang akan membuatnya menepi lama dari lapangan hijau.

Kehilangan rekan sepenanggungan seperti ini membuat mereka berbagi perasaan itu: bittersweet. Merujuk kamus Merriam-Webster, kata tersebut berarti: “pleasure accompanied by suffering or regret.”

Keadaan bittersweet mengingatkan saya pada lagu riang nan energik milik Green Day, “Basket Case”. Lagu itu sejatinya adalah curatan hati Billie Joe Armstrong perihal kecemasan dan paranoia yang ia alami. Saat menggubah lagu tersebut ia baru berusia 22 tahun dan mungkin sedang berdansa pogo di tengah ancaman deteriorasi mental.

Di semifinal, Italia telah ditunggu Spanyol, tim yang sembilan tahun lalu mengempaskan Andrea Pirlo dkk secara tragis di partai pamungkas. Di Kiev, 1 Juli 2012, Italia dilumat empat gol tanpa balas. Tangisan Pirlo serta Mario
Balotelli—dua pemain yang tampil apik sepanjang turnamen—tampak begitu memilukan.

Kini, masing-masing masih memiliki dua pemain veteran yang turut serta di Piala Eropa 2012 itu. Sergio Busquets dan Jordi Alba di Spanyol, Chiellini dan Bonuccci di Italia. Keempatnya hampir telah meraih segalanya di level klub. Hanya ada dua pemain yang belum meraih kejayaan apa pun di level timnas dan anda semua tahu siapa yang saya maksud.

Bila Italia tak mendapatkan hasil yang mereka harapkan, bagi saya pembuktian Mancini perlu digenapi dengan kepercayaan lebih jauh. Persimpangan jalan dalam kehidupan manusia tidak seharusnya membingungkan karena dalam hidup takkan pernah senantiasa lurus. Ia pantas menakhodai Gli Azzuri untuk menyongsong Piala Dunia 2022. Pelatih flamboyan itu telah, mengutip tajuk harian olahraga Corriere dela Sport pada 4 Juli 2021:

MISTER ITALIA: Prima divideva, da CT ha fatto innamorare di se il paese.

(“Mister Italia: Awalnya membuat kita terbelah, sebagai pelatih ia telah membuat bangsa ini jatuh cinta padanya.”)

Ia pantas untuk itu—apa pun torehan Italia di panggung olahraga berlatar tragedi pandemi Covid-19 ini. ♦

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x