In Search of Her Head: Le Femme Fatale*

Apa yang ada dibenak anda kala mendengar nama Frau dan Tika and The Dissidents? Bagi saya dan mungkin 300-an pengunjung di JNM malam itu adalah dua nama musisi eklektik yang mempunyai beberapa kesamaan. Yang pertama jelas, dua nama tadi kental dengan aroma feminim. Frau (dari bahasa Jerman yang berarti nyonya) dan Tika (nama yang aneh untuk disandang seorang pejantan). Persamaan paling mencolok dari mereka adalah produk musik cerdas nan menggelitik yang mereka hasilkan. Batas-batas gender, usia, kelas sosial, pendidikan, ekonomi dan lainnya seakan bias jika ditakar dari casing para apresian yang hadir malam itu. Hetero-homoseks, pria-wanita, tua-muda, rombongan remaja tanggung maupun ranum yang datang bersama gerombolan maupun orangtuanya, pasangan kasmaran, para juru tulis pewarta berita, teman-teman komunitas musik-seni, tumpah blek jadi satu.

Baik Frau maupun Tika & The Dissidents rupanya sebegitu dinantikan oleh publik Jogja. Beberapa minggu sebelumnya, Frau memang sempat menggelar rally promo ke tiga café di Jogja. Acara berformat sederhana, kapasitas café yang terbatas, waktu main yang sebentar ternyata menjadi alasan kenapa penampilan Frau di acara ini dinanti-nanti. Pun Tika & The Dissidents yang menjadi penampil utama malam itu. Show pertama mereka di kota ini terjadi pada tahun 2008 silam. Bertempat di Lembaga Indonesia Prancis (LIP) di bilangan Sagan yang luasnya tidak sampai seperempatnya JNM. Sempat pula Tika menjadi vokalis tamu di sebuah acara yang diadakan di Teater Garasi beberapa bulan sebelumnya. Dua show tadi memang belum menuntaskan rasa penasaran penonton yang hadir malam itu. Wajar, karena album teranyar Tika & The Dissidents termasuk dalam jajaran album terbaik Indonesia 2009 versi majalah Rolling Stone Indonesia.

Kongsi Jahat Syndicate, kolektif penyelenggara acara yang bertajuk “In Search of Her Head” ini nampaknya mempersiapkan dengan matang baik dari segi format, konsep hingga hal kecil (namun krusial) seperti terbatasnya persediaan tiket. Tiga ratus lembar tiket ludes terjual tepat tiga hari sebelum hari H. Sebuah pertunjukan musik tidak ditakar dari kuantitas pengunjung. Sehingga banyak sekali yang ketiban apes kehabisan tiket. Celoteh enteng pihak KJS seperti nampak pada Facebook page mereka sehari setelah acara: “Aduh mas, kalo dbnyakin tiketnya, kita jg msti liat kapasitas venue. Segitu aj udh full bgt. Klo pk venue yg lbh gede, ntr suasana jd kurang intim.. Bingung to? Hehe”

Acara yang sejatinya dijadwalkan dimulai pukul 8 malam ternyata terpaksa molor hingga dua puluh menit dikarenakan syarat yang diajukan pihak venue agar acara baru dimulai setelah pameran yang diadakan di gedung sebelah berakhir. Hal ini rupanya sempat membuat penonton gemas menanti. Baru pada pukul setengah sembilan hadirlah sosok Frau, berjalan santai menyongsong panggung. Ratusan mata tertuju padanya dan Oskar, si keyboard kesayangan. Frau menjanjikan akan membawakan seluruh lagu yang terdapat di album perdananya, Starlit Carousel. Rupa-rupanya selain janji, Frau juga menghadirkan kejutan. Semua artis kolaborator pada Starlit Carousel ditampik naik ke panggung. Mulai dari Nadia Hatta, Wok The Rock dari Yes No Wave yang sukses menghadirkan suasana mencekam sebagai sang kucing pada “Rat and Cat” dan tentu saja, vokalis Melancholic Bitch Ugoran Prasad pada “Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa”. Salah satu lagu di malam itu yang paling banyak diiringi koor penonton. Selain “Mesin Penenun Hujan” tentu.

Penonton terhilat apresiatif. Mereka seperti dikomando kapan harus hening, kapan harus bersama-sama melantunkan bait demi bait milik Frau, kapan harus bersorak-sorai, kapan waktu yang tepat untuk bertepuk tangan. Ada hipnotis di balik bersahajanya wujud fisik Frau malam itu.

Tibalah saatnya bagi sang penampil utama unjuk gigi. Tika & The Dissidents seperti menyiasati durasi pertunjukan dengan memperdengarkan rekaman audio “Gugur Sepatu” sembari semua personil mempersiapkan alat tempur masing-masing. Permainan tata lampu panggung yang apik menjadi semacam stimulan asyik tak hanya bagi penonton, tapi juga Tika & The Dissidents.

Selagi sempat dan sebelum lupa, saya akan menerjemahkan secara literal kondisi dan tata letak venue acara ini. Pendopo Ajiyasa dikondisikan sedemikian rupa dengan penempatan penonton di dua tribun dan beberpa meter karpet yang digelar untuk mereka yang memilih menikmati pertunjukan dengan bersila (lesehan). Space seluas 64 meter disajikan khusus bagi pengisi acara dengan alas dan backdrop berwarna hitam. Backdrop dengan sederhana dihiasi beberapa buah layang-layang yang jika tata lampu tidak ditangani oleh seorang pro akan nampak biasa saja.

Tika & The Dissidents tampil dengan format komplit. Dua gitaris, seorang drummer, seorang keyboardist, dua orang penyanyi latar, seorang peniup saksofon dan tentu saja, Tika. Seperti biasa malam itu dia lebih senang memakai mic jenis condenser. Maafkan jika terdengar bombastis, mic jenis ini selain enak dilihat ternyata juga klop dengan musik yang disusung Tika & The Dissidents.

Berturut-turut melantunlah “Tantang Tirani”, nomor yang sarat akan petuah (Jadilah kau lelaki nan lantang/Jangan takut tantang tirani), kekejaman akibat tirani dalam “Polpot”, nomor balada di “Red Red Cabaret”, hingga sebuah cover-version lagu lawas orde lama milik Lilis Suryani: “Gendjer Gendjer”. Dibuka dengan lirih sang penyanyi latar yang mistis, Tika menyambut dengan TOA di tangan: “Gendjer-gendjer nong kedo’an pating keleler/Gendjer-gendjer nong kedo’an pating keleler.. Ema’e Thole teko-teko mbubuti gendjer/ Ema’e Thole teko-teko mbubuti gendjer..”

Makin mistis! Pada “Old Dirty Bastard” yang menceritakan curahan hati akan cinta yang tertambat pada lelaki yang jauh lebih tua, Tika mengundang vokalis berkarakter vokal kuat Ibukota Anda, untuk berkolaborasi. Anda yang juga berada di satu label dengan Tika & The Dissidents (Demajors) ini tidak menyia-nyiakan kesempatan mempertontonkan suara khas-nya itu. Entah saking baiknya atau memang ingin memuaskan penonton, atau memang ingin memanfaatkan jeda untuk beristirahat, Tika memberi kesempatan bagi Anda untuk menyanyikan secara akustik nomor “Cukup Dalam Hati”.

Lagu tentang hari buruh bernuansa mars, “Mayday” dinobatkan sebagai penutup penampilan Tika & The Dissidents malam itu. Tak lupa Tika mengundang duo bersaudara ikon Kongsi Jahat, Oji dan Gufi sebagai penyanyi latar.

Kembali saya menemukan persamaan dua nama yang tampil malam itu, Tika & The Dissidents punya “Clausmophobia”, Frau punya “I am A Sir”. Dua lagu yang secara eksplisit mewartakan cita-cita paling fundamental dari paham feminisme: kesetaraan gender. Ibu pertiwi patut berbangga hati melahirkan dua perempuan berbakat bernama Kartika Jahja (Tika) dan Lailani Hermiasih (Frau).

* pertama kali dipublikasikan 17 Mei 2010 di sini

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x