Remaja Sebagai Entitas Sosial Objektif dalam Film (bagian I)

Pertama kali dipublikasikan di zine Spätkapitalismus #4 (April 2016)

Mengenai implikasi dahsyat yang dihasilkan film, sejarawan Robert Rosentone menulis, “keberadaan masa silam kita yang ditampilkan oleh kata-kata tak semantap keberadaan masa silam kita yang ditampilkan oleh film.’’[i] Itulah sebab mengapa kala Nazi berkuasa (1933-1945), film menempati posisi penting dalam penyebaran ideologi partai dengan keberadaan Josef Goebbels sebagai menteri propaganda. Lebih dari seribu film diproduksi di pemerintahan fasis yang berkuasa selama 12 tahun itu.

Yang saya maksud dengan entitas sosial objektif adalah suatu keadaan di mana tindak-tanduk remaja dalam film tersebut bersinggungan dengan dan dipengaruhi oleh institusi sosial yang lebih mapan dan senantiasa merepresi mereka, terutama institusi politik. Jadi tidak semata film yang dibintangi oleh remaja, atau berlatarkan kehidupan remaja.

Kenapa film, bukan musik atau sastra? Film bagi saya bukan semata medium penghibur di kala penat melanda. Film, berlainan dengan musik, bisa menjadi pengedukasi dan penawar perspektif baru. Contoh lain, saya bisa merekomendasikan seseorang untuk mendengarkan Northern Uproar karena tahu ia menggemari Oasis. Tapi kepada penggemar Mastodon, belum tentu. Film, tidak seperti seni rupa, tidak membutuhkan interpretasi mendalam (atau dalam istilah Bourdieu, “the pure gaze“). Melalui film orang-orang dapat berkerumun bersama untuk kemudian mengapresiasinya dalam bentuk terkecil, misalnya obrolan ngalor-ngidul mengenai apa yang barusan mereka tonton. Film bagus memiliki potensi untuk membuat kita termenung dalam waktu lama dan merekomendasikan film bagus tidak perlu melihat latar/selera tontonan orang yang kita beri rekomendasi.

Sementara pada ranah sastra, saya masih berputar-putar dalam perdebatan realisme sosialis versus humanisme universal yang malah mereduksi kemampuan saya mengkhidmati sastra. Mencurigai institusi kebudayaan liberal, sementara saya mengagumi Ayu Utami dan Goenawan Mohamad yang menjadi bagian dalam institusi tersebut. Juga fakta yang diceritakan Martin Aleida bahwa seniman-seniman Lekra banyak yang tidak memedulikan dikotomi seni-untuk-seni versus seni-untuk-rakyat.[ii] Paling-paling yang selalu saya katakan kepada seorang pembaca novel pop adalah bahwa novel-novel bergaya bahasa semrawut seperti karya Raditya Dika sebagai najis besar peradaban. Mohon maaf, lho.

Secara personal, khazanah perfilman saya terbentuk secara mantap dan refleksif saat tinggal di Jogja. Di kota itu saya dibikin melek bahwa film-film Quentin Tarantino – lewat intertekstualitas,

kekarutmarutan linimasa, serta pertentangan makna dan simbol yang menjadi ciri khasnya – mengajarkan saya teori posmodernisme lebih mantap ketimbang diktat-diktat perkuliahan. Melalui persentuhan saya dengan tempat penyewaan film bernama Universal dan newsletter film Kinoki, saya mengkhidmati keindahan film-film Abbas Kiarostami, Pedro Almodovar, Wong Kar-wai, hingga Alejandro Jodorowski (favorit saya sepanjang masa, El Topo [1970], memaparkan suatu tema klasik dalam film – hubungan orangtua-anak – dengan cara yang indah, puitis secara visual [visually poetic], sekaligus ganjil).

Film (juga budaya sinema) memaparkan kepada kita berbagai hal, tergantung konteks apa yang kita gunakan dalam menyikapinya. Perancis era New Wave pimpinan Andre Bazin dan François Truffaut awalnya adalah kumpulan anak-anak muda pengkritik film. Tapi kemudian kelompok ini bisa membangun suatu kebudayaan film yang menggetarkan hegemoni Hollywood. Dalam membuat film, mereka menawarkan suatu pendekatan yang disebut teori auteur. Selanjutnya adalah sejarah: mudah sekali menempatkan kata “Perancis” dan “film keren” dalam satu kalimat. Kala ‘membaca’ film, kontekstualitas adalah kunci.

Mengapa ini penting? Kajian film secara serius dapat membantu kita menelisik kondisi sosial suatu bangsa (atau paling tidak penduduk di suatu kota dan/atau zaman). Lihatlah apa yang dilakukan Nia Dinata dalam Berbagi Suami (2006). Drama komedi yang sesungguhnya satir ini menggambarkan bahwa praktik poligami adalah suatu hal yang lazim dilakukan di Indonesia, oleh berbagai lapisan masyarakat dari sopir berpenghasilan cekak, pak haji relijius, hingga wirausahawan keturunan Cina.

Walhasil, selain film sebagai penggambaran akan realitas, Dinata mencoba melakukan refleksi dan kritik sosial lewat seni. Film bagus tak semata menjadi permenungan subjektif individu. Ia kemudian ramai-ramai dikunyah dan diperbincangkan. Film pun bisa menggetarkan status quo – seperti apa yang dilakukan Zhang Yimou lewat  Ju Dou [1990).

Sebelum mengupas satu per satu, ada tujuh film yang hendak saya paparkan dalam tulisan ini. Karena tidak mungkin untuk memuatnya sekaligus, saya memutuskan untuk mencacahnya menjadi dua bagian.

Di bagian pertama ini saya mengajukan film-film yang dalam konteks sosiologis-historis memiliki kedekatan dengan masyarakat Indonesia, yaitu film dari negara Cina, Jepang, dan Brasil. Di edisi depan saya akan mengulas film-film produksi Amerika, Perancis, Jerman dan Inggris.

In the Heat of the Sun (陽光燦爛的日子) / Sutradara: Jiang Wen / Cina / 1994

5-heat-of-the-sun
sumber gambar

Jika kebanyakan film-film dengan latar Cina era Mao Zedong terkesan muram, kesan tersebut tak nampak dalam film ini. Film-film berlatar era ini – sampai sekarang – masih sering diangkat oleh sineas Cina daratan (perlu diingat bahwa industri film Cina daratan memiliki perbedaan tersendiri dengan Taiwan dan Hongkong). Contoh terakhir adalah Coming Home (Zhang Yimou, 2014).

Saat Revolusi Kebudayaan diberlakukan Mao Zedong, kegiatan ajar-mengajar di sekolah terhenti. Mao menitahkan pemuda – dibantu pasukan Red Guard-nya yang loyal dan fanatik – untuk pergi ke desa-desa dan mengambil pelajaran dari para petani. Walhasil kota-kota menjadi sepi. Tak terkecuali Beijing, latar tempat cerita film ini.

Revolusi Kebudayaan adalah kebijakan yang diambil Zedong untuk menekan pengaruh tokoh-tokoh tandingan dalam Partai Komunis. Dengan piawai, Zedong – yang memang sedemikian kharismatis – memanfaatkan anak muda Cina untuk menjadi bagian dari revolusi tiada akhir. Jiwa pemberontak yang sejatinya ada dalam mental pemuda, dilegitimasi dengan pembentukkan Red Guard. Meski tidak digambarkan dalam film ini, Red Guard akhirnya menjadi semakin liar. Mereka membakari sekolah, serta menangkap siapa saja yang mereka anggap kontrarevolusi: kaum kapitalis (meski dalam praktiknya mereka yang dianggap sebagai kaum ini hanyalah orang yang memiliki kekayaan sedikit lebih banyak), guru, intelektual, dokter – golongan yang termasuk dalam bagian kaum dewasa.

Muda, bergerombol, dan direstui oleh Chairman Mao! Amboi, indah nian! Revolusi Kebudayaan, serta kebijakan ekonomi The Great Leap Forward, akhirnya menjadi salah dua penyebab jatuhnya Zedong sehingga digantikan Deng Xiaoping yang lebih pragmatis dan terbuka.

Konon, film ini merupakan semi-otobiografi sang sutradara. Dan layaknya perjalanan menapaki masa silam, a trip down memory lane, manusia biasanya mengenang yang indah-indah. Berkisah tentang bocah badung bernama Monkey yang pemalu namun hiperaktif. Ia hidup di masa Revolusi Kebudayaan sehingga Beijing begitu sepi karena ditinggal orang dewasa untuk berperang dan belajar-ulang (re-educating) di kehidupan desa.

Suasana tersebut digambarkan Wen dengan baik di mana hobi membongkar kunci dan menyelinap ke rumah orang dijalani Monkey dengan aman. Gerak lucu Monkey berjingkat-jingkat dari satu lorong ke lorong lain, menyusuri atap rumah-rumah, menjadi kontras dengan sepinya keadaan. Adegan tersebut menjadi semarak oleh akting jenaka Monkey yang diperankan dengan apik oleh Xia Yu.

Monkey memiliki kawan-kawan dan ia banyak menghabiskan waktu bersama mereka. Terlebih, ia tak memiliki saudara kandung dan ayahnya pergi berperang. Nuansa penceritaan coming-of-age ala Malena (2000) atau Cinema Paradiso (1988). Tentu tak afdhal jika tak ada sosok perempuan idaman. Sosok itu jatuh pada Mi Lan – ‘legenda lokal’ yang berusia lebih tua darinya. Saking melegendanya kecantikan Mi Lan, Liu Yiku, anak terganteng sekaligus panutan di kelompok merekapun belum pula mengenalnya secara langsung.

Dari bakat mengendap-endap masuk ke rumah oranglah Monkey terpesona akan kecantikan Mi Lan. Pesona yang kemudian membuat Monkey secara tak waras menjadi terobsesi dengannya. Tak berpacaranpun tak apa, selama ia bisa selalu dekat dengan gadis idaman. Mengutip lirik lagu Suede, “It’s called obsession, can you handle it?”

Meski berlatar Revolusi Kebudayaan, film ini tak secara gamblang menjelaskan implikasi-implikasi sosial akibat kebijakan tersebut. Cina era Zedong hanyalah lanskap. Ini yang menurut saya menjadi nilai lebih dari ln the Heat of the Sun. Wen justru unggul dari sineas-sineas generasi ke-5 Cina lain karena ia tak bermaksud menjadi hakim atas kejadian di masa lampau.

Seperti halnya tokoh kita, Monkey, yang mengatakan di penghujung film di bahwa ia tak begitu yakin dengan kejadian-kejadian yang ia alami. Hanya menggumpal dalam angan, rekaannya belaka? Atau sebegitu tak pentingnyakah momen bersama rezim Mao (karena setelah dewasa ia – seperti Cina yang tumbuh genit dan gemerlap bersama kapitalisme – turut menjadi manusia sukses yang kebas sejarah)?

Battle Royale (バトル・ロワイアル) / Sutradara: Kinji Fukasaku /Jepang / 2000

battle-royale
sumber gambar

Jika kawan-kawan memperhatikan, kebudayaan populer Jepang sesungguhnya begitu terobsesi terhadap anak-anak dan remaja, bahkan cenderung eksploitatif. Lihat saja AKB 48 (beserta berjibun sister group- nya) dan Baby Metal yang disertai fenomena kawaai culture dan konsumsi masif. Tak aneh jika prostitusi anak adalah salah satu masalah yang menggelayuti pemerintahan Jepang.

Kawaii culture yang kini juga menginvasi Indonesia merupakan fenomena yang tak sekonyong-konyong hadir. Sharon Kinsella (1995) menyatakan, budaya ini bermula dari kawaii writing di era 70-an di mana siswi-siswi Jepang menyisipkan ikon-ikon nonkonvensional dalam tulisan tangan mereka (ikon berbentuk hati, alis, mata, bintang, dsb). Sejak itulah produk-produk yang menyimbolkan unsur kawaii – seperti Hello Kitty – banyak dibeli anak-anak Jepang hingga kemudian menjadi merek global.

Bertalian dengan fenomena tersebut, Jepang yang muncul sebagai negara industri penanding Amerika Serikat masih menyimpan karakteristik-karakteristik lama: sistem nilai masyarakat feodal yang patriarkis. Tak aneh jika banyak wanita Jepang yang memilih untuk tak menikah. Karena pernikahan membuat mereka terkungkung di pekerjaan-pekerjaan domestik (rumahtangga). Budaya kawaii mulanya adalah resistensi kultural.

Ide cerita ini sebenarnya sederhana. Jepang digambarkan berada dalam jaman distopia. Struktur sosial terlalu kacau karena para remaja bersikap sangat antipati terhadap negara. Namun sekacau-kacaunya negara, mereka masih punya pion-pion yang patuh pada perintah: tentara. Akhirnya tercetuslah ide gila: musnahkan saja mereka dengan kewajiban bertarung satu sama lain hingga hanya menyisakan satu siswa yang hidup. Pandangan Darwinian yang diadopsi secara serampangan tadi akhirnya tergambarkan dalam film yang penuh muncratan darah ini.

Satu kelas dari satu sekolah terpilih dibawa ke suatu pulau terpencil. Yang para siswa tahu, mereka sedang berdarmawisata. Namun mereka dibius gas beracun saat berada di dalam bis yang mereka tumpangi. Ketika siuman, mereka menjadi sadar bahwa ada yang tidak beres karena tersadar berada di dalam ruangan yang dipenuhi tentara. Setelah instruktur menjelaskan ‘permainan’ yang harus mereka jalankan, masing-masing siswa diabsen untuk kemudian diberi ransum dan senjata. Senjata yang mereka dapat pun diacak sehingga tak ada siswa yang mendapat senjata yang sama.

Dengan bantuan teknologi, peraturan dibuat seketat mungkin agar peserta tak mencurangi sistem. Contoh: tiap siswa dikalungi kalung elektronik yang bisa meledak jika mereka melanggar aturan.

Segalanya menjadi tak sama setelah mereka diabsen untuk kemudian berpencar di pulau asing nan perawan. Kenangan-kenangan bersirobok dengan rasa takut mati. Pula dendam yang dulu ada di masa sekolah. Kepada si cantik, kepada si pintar, kepada si sombong. Di sinilah kesempatan terbaik untuk membalasnya! Mungkin itu yang ada di benak beberapa siswa.

Hasrat membunuh untuk bertahan hidup tidak sesederhana yang kita bayangkan. Sebabnya, masih ada tiga siswa yang menjaga kewarasan dan mencoba menghancurkan kebijakan amoral ini. Tidak ada kematian yang menonjol dan membekas. Karena saat diri anda disodorkan begitu banyak kematian di depan mata, kematian tak lagi mencekam atau membuat linu. Yang menjadi perhatian saya adalah bagaimana sang sutradara menampilkan berbagai flashback agar penonton mengetahui karakter dan latar emosi masing-masing karakter. Dengan apik, flashback yang ditayangkan adalah peristiwa-peristiwa yang membekas di kejiwaan siswa. Ada siswa yang masa kecilnya hampir diperkosa pacar sang ibu. Ada pula yang baru-baru ini menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayah yang ia banggakan gantung diri. Battle Royale membuat anda mempertanyakan makna pendidikan/sosialisasi nilai pada usia dini.

City of God (Cidade de Deus) / Sutradara: Fernando Meirelles & Katia Lund / Brasil / 2002

4893_5
sumber gambar

Film brilian ini menawarkan banyak hal: penggambaran proses urbanisasi, anomie, perilaku menyimpang, hingga potret keluarga disfungsional. Cidade de Deus adalah nama kota di Brasil yang diperuntukkan sebagai area suburban kelas bawah. Laju pertumbuhan yang semrawut tak hanya membikin jelek pandangan mata, tetapi juga berbagai peristiwa serta pengalaman yang dirasai orang-orangnya.

Awalnya (1960-an] para penduduk di kota ini kebanyakan pendatang. Mereka berharap dapat bernasib sama dengan para pendatang lain di kota-kota yang telah tumbuh seperti Rio de Jeneiro. Apa lacur, mereka justru diimbau untuk menempati kota baru ini. Kompleks perumahan pun dibuat. Tapi toh perumahan saja tak cukup. Perlu denyut ekonomi agar suatu daerah bisa tumbuh dan Cidade de Deus belum menyediakan itu. Walhasil mereka tetap berada di garis kemiskinan. Orang dewasa penganggur dan anak-anak tak bersekolah berkumpul menjadi satu. Yang sakral dan yang profan menjadi samar.

Seperti negara-negara lain di Amerika Selatan, peredaran senjata api dan bisnis narkoba adalah pisau bermata dua. Menjadi pesepakbola kaya seperti Neymar hanyalah impian yang cuma sanggup digapai sedikit orang. Inilah yang dimaksud Emile Durkheim dengan anomie. Institusi-institusi sosial berperan terlalu determinan sehingga bakat atau minat saja tak cukup. Terkadang kita butuh juga dengan keajaiban. Keajaiban yang kelak menghampiri pemeran utama, Rocket.

Para tokoh di film ini tumbuh dan hidup secara dekat dengan dua benda tadi: senjata api dan narkoba (utamanya kokain dan ganja). Ditambah minimnya peran serta pemerintah, kota ini dipenuhi begundal-begundal tengik yang merasa berhak menjalankan kota sesuai isi hati mereka. Di balik keindahan pantai-pantainya, Brasil menyimpan luka. Luka yang dibiarkan menganga karena perspektif internasional terhadapnya tetaplah sama: pantai, eksotisme, samba, dan jogo bonito. Lihat saja Piala Dunia 2014 lalu. Pemerintah memaksakan diri membangun stadion-stadion baru sementara subsidi rakyat dipotong dan fasilitas-fasilitas umum dibiarkan bobrok.

Namun siapa yang bisa menyalahkan perilaku anak-anak muda ini? Toh nantinya akan tergambarkan dalam film bahwa para borjuis rente dan aparat kepolisian pun berada di balik bisnis haram ini. Sebelum puber pun, anak-anak penghuni kota ini telah sanggup membunuh orang lain sambil tertawa. Tertawa, kawan! Bayangkan saja. Maka tak heran jika kemudian kelompok informal ini bisa menjelma menjadi kelompok berpengaruh yang dimungkinkan berbuat seenaknya.

Persaingan antar kelompok terjadi karena kekuasaan masing-masing geng semakin besar. Apalagi  negara sudah lama ‘tidak hadir’ di kehidupan kota. Maka perang antar geng pun tak terhindari. Para remaja yang terlibat sampai tak tahu alasan mereka saling bakutembak. Hanya ada dua pilihan untuk mereka: membunuh, atau dibunuh. Survival ofthe fittest at its finest.

Film ini sungguh menghibur. Akting para pemainnya tak hanya baik, juga tanpa kesan pretensius (baik dari dialog maupun adegan). Di akhir cerita anda akan dibuat kaget karena film ini berdasarkan kejadian nyata.

Referensi:

Berry, Chris dan Mary Farquhar. China on Screen: Cinema and Nation. West Sussex: Columbia University Press, 2006.

Kinsella, Sharon. “Cuties is Japan”. Dalam Brian Moeran dan Lisa Scovs, ed., Women, Media, and Consumption in Japan. Hawaii: Curzon & Hawai University Press, 1995.

Pasaribu, Adrian J. “French New Wave: Potret Sebuah Generasi.” Cinemapoetica.com. 31 Oktober 2010. 24 Februari 2016. <http://cinemapoetica.com/french-new-wave-potret-sebuah-regenerasi>.

Xuelin, Zhou. Young Rebels in Contemporary Chinese Cinema. Hongkong: Hongkong University Press, 2007.

[i] Rosenstone, Robert A. “The Historical Film: Looking at the Past in a Postliterate Age.” Dalam Marcia Landy, ed., The Historical Film: History and Memory in the Media. New Bruswick: Rutgers University Press, 2001.

[ii] Ini saya simpulkan dari pernyataannya, “Kita menulis berdasarkan apa kata hati. Kata hati lebih kuat dari kata-kata terpilih dari mereka yang merenungkan makna dari kata-kata. Kalau dikatakan itu realisme sosialis,juga tidak. Karena di sini kan tidak ada tatanan sistem sosialis. Kalau, misalnya, Anda katakan realisme kerakyatan, mungkin betul,” (…) “kalau dikatakan realisme kerakyatan ya betul, karena kita kebanyakan jugamenulis sastra yang berpihak kepada rakyat, apakah buruh, atau tani. Pokoknya mereka yang membutuhkan pembebasan dari belenggu yang melingkari kaki dan leher mereka.” Izzati, Fatimah F. “Martin Aleida: Takdir Sastra adalah Membela Korban.” Indoprogress.com. 15 Februari 2014. 24 Februari 2016. <http://indoprogress.com/2014/02/martin-aleida-takdir-sastra-adalah-membela-korban>.

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x