Oppenheimer: Parade Ambiguitas Moral yang Mencekam

“Tangan saya ini berlumuran darah, Pak Presiden,” ucap Robert Oppenheimer kepada Harry Truman. Sang lawan bicara, tampak jengkel, mengeluarkan saputangan putih dari kantong baju dan melambai-lambaikannya ke hadapan sang ilmuwan. Presiden AS ke-33 itu lalu mengoceh bahwa penderitaan Oppenheimer tak ada artinya dibanding beban yang ada di pundaknya.

Setelah Oppenheimer pamit, Truman berpesan kepada Sekretaris Negara James Byrnes agar tak pernah membiarkan “si cengeng” datang kembali. Oppenheimer, yang dapat mendengar sindiran itu, meninggalkan ruangan dengan wajah nanar.

Adegan di atas menancap di benak saat menonton Oppenheimer, film ke-12 Christopher Nolan. Setelah dibuat terengah-engah sepanjang film, pertemuan ini menjadi ruang singgah untuk merefleksikan peristiwa-peristiwa yang berkejaran, sekaligus momen untuk merayakan film.

Saputangan itu adalah serangan balik metaforis Truman kepada Oppenheimer yang berlagak suci: Kalau memang tanganmu berlepotan darah, ambil saputangan ini, lalu bersihkan. Bukan kau yang dibenci orang-orang di Hiroshima dan Nagasaki, tapi aku, si pengambil keputusan!

Film biopic mensyaratkan tantangan tersendiri dan ini menjadi medan berkarya baru bagi Nolan. Tapi kita tahu ia pencerita ulung yang memiliki obsesi berlebih terhadap sains. Film-film sebelumnya seperti Inception (2010), Interstellar (2014), hingga Tenet (2020) menyodorkan banyak gagasan serta kemungkinan seputar sains. Film-film itu menantang pemahaman kita mengenai cara semesta bekerja dan mempengaruhi manusia.

Tak hanya mengajak kita menyelami kehidupan Oppenheimer, film ini menuturkan bagaimana dua bom yang dijatuhkan pada Agustus 1945 itu menciptakan tatanan baru. Sebuah dunia yang dihantui horor bernama perang nuklir.

Pendekatan thriller yang membungkus film menemukan vitalitasnya. Jantung penonton dibuat senantiasa berdebar berkat scoring musik gubahan Ludwig Göransson, yang menciptakan ketegangan berlapis. Membantu kita memahami kegelisahan Oppenheimer, serta membangun nuansa teror yang sampai kini mengancam eksistensi kita di bumi.

Jiwa yang Retak

Belakangan ini Hollywood sukses meyakinkan kita bahwa orang-orang jenius pada dasarnya kesepian dan, well, lumayan berengsek. Mark Zuckerberg dalam The Social Network (David Fincher, 2010), Stephen Hawking dalam The Theory of Everything (James Marsh, 2014), juga Steve Jobs dalam Steve Jobs (Danny Boyle, 2015). Mereka adalah raksasa yang, walau berjalan dengan gagah, menyeret jiwa yang retak.

Era pahlawan super seperti Rambo yang memiliki pandangan dunia hitam-putih (American exceptionalism) sudah kelewat usang. Penonton film telah semakin pintar dan mengerti bahwa AS adalah polisi banyak cincong yang terlampau sering merecoki dapur negara lain.

Protagonis dalam film ini berbalut kompleksitas yang memuat banyak kontradiksi. Pahlawan perang? Mungkin begitu di mata warga AS. Tapi lelaki Yahudi kelahiran New York itu tentu saja dipandang laksana shinigami, iblis pencabut nyawa, oleh rakyat Jepang.

Dua bom atom—Little Boy dan Fat Man—itu membuat manusia seantero jagat sadar. Kini tak cuma bencana alam yang dapat merenggut ribuan nyawa dalam waktu singkat.

Pertemuan Oppenheimer (Cillian Murphy) dan Truman (Gary Oldman) membahasakan hal yang sulit dieja publik: Kekuasaan perlu ditata, salah satunya dengan penaklukan. Bagi pemimpin negara seperti Truman, yang mengawali karier di militer dan pernah bertempur di Perang Dunia 1, keputusan membom atom Hiroshima dan Nagasaki tak membuat tidur malamnya terganggu.

Bukan cuma Oppenheimer yang diterpa kegalauan moral. Saat mengetahui Nazi Jerman telah menyerah, para koleganya di Manhattan Project merasa penelitian bom atom tak perlu dilanjutkan. Sepanjang film pun kita menyaksikan ilmuwan-ilmuwan lain—mulai Niels Bohr, Leo Szilard, hingga Albert Einstein—memperingati Oppenheimer.

Toh Oppenheimer bergeming. Sama ketika ia bersikeras bahwa bom atom tetap mesti dijatuhkan meski pada 9-10 Maret 1945 mereka membombardir Tokyo pol-polan, membuat 100.000 manusia meregang nyawa.

Film thriller ini sejak awal membawa kita mengarungi petualangan intelektual dan psikologis Oppenheimer dengan jantung berdebar. Ia cerdas, tapi dipandang remeh di Eropa. Kala itu perkembangan fisika kuantum di AS tertinggal jauh dari negara-negara Benua Biru. Ia kerap dicemooh, membuatnya tak kerasan di tanah rantau.

Mengagumi seni-seni adiluhung seperti sastra dan seni rupa, Oppenheimer ternyata bocah labil yang meracuni dosennya hanya karena merasa diperlakukan tak adil. Latar belakangnya sebagai Yahudi membuat segalanya tambah runyam. Perasaan tersisihkan ini membuat Oppenheimer menemukan suaka dalam komunisme.

Lingkaran kiri membiakkan semangat perlawanan Oppenheimer terhadap fasisme Jerman dan Spanyol. Ia rajin menghadiri diskusi, mendorong pembentukan serikat dosen, serta menyumbang uang untuk perjuangan. Dalam lingkaran ini ia menjalani petualangan cinta dengan Jean Tatlock (Florence Pugh) dan Katherine “Kitty” Puening (Emily Blunt).

Hubungannya dengan Jean putus-nyambung dan sang wanita tampak enggan terikat pernikahan. Di tengah-tengah itu, pahlawan kita memadu kasih dengan Kitty; meniduri dan menghamilinya saat ia masih jadi istri orang lain. Ia juga serong dengan Ruth Tolman (Louise Lombard), istri Richard Tolman (Tom Jenkins). Gilanya, saat mengajar di Universitas Berkeley ia menumpang di kediaman pasangan Tolman di Pasadena.

Porsi perselingkuhannya dengan Ruth tampil sekelebat dan tidak eksplisit, tapi tak kalah sakit. Oppenheimer awalnya bukan bagian dari Manhattan Project. Suatu waktu ia memergoki pertemuan rahasia Richard, Ernest Lawrence (Josh Hartnett), dan Vannevar Bush (Matthew Modine)—anggota Manhattan Project.

Karena bukan bagian dari proyek rahasia tersebut, Oppenheimer mesti angkat kaki. Sebelum cabut ia berkata kepada Richard, “Sampaikan ke istrimu, aku akan mampir ke Pasadena akhir pekan nanti.”

Berengsek sekali, bukan? Seharusnya Kita tak perlu kaget. Bukankah ia hampir membunuh dosennya dengan potassium sianida?

Skandal percintaan gila macam ini tentu menjadi santapan lezat sutradara. Beruntung hal ini tak menjadi melodrama berlebih di tangan Nolan. Segala kontradiksi perilaku dan pikiran Oppenheimer tampil bak kepingan puzzle yang berserak sembarang. Penonton bisa menyusunnya menjadi satu gambaran utuh. Namun layaknya puzzle, gambaran itu tetap terlihat retak.

Reaksi Berantai Fisika dan Hubungan Antarmanusia

Film sering memperlihatkan visualisasi gelombang dalam air. Ia tampil di pembuka film, kala Oppenheimer muda menatap kosong ke air yang menggenang di dekat kakinya. Di Universitas Princeton, Einstein digambarkan suka menghabiskan waktu menatap kolam dan melempar batu ke dalamnya.

Riak-riak air yang membentuk gelombang berkejaran itu menggambarkan reaksi berantai (chain reaction): Prinsip ilmu fisika yang menyokong penemuan reaksi energi nuklir. Para fisikawan melihat partikel-partikel atom bekerja di berbagai unsur, tak hanya uranium. Ketika para ilmuwan berhasil membelah inti atom, yang bisa menghasilkan energi secara berantai, mereka langsung tahu bahwa penemuan tersebut dapat menjadi senjata pemusnah massal pertama.

Dari aksi menjadi reaksi. Nolan, dengan struktur cerita padat nonlinear khasnya, memperlihatkan bahwa sepintar dan selicin apa pun manusia, perilaku mereka senantiasa terikat oleh hukum ini.

Oppenheimer mengalami masa Red Scare, era ketika pemerintah AS bersikap paranoid dan represif terhadap orang-orang kiri. Persekusi tak hanya menimpa politisi, tetapi juga seniman dan ilmuwan seperti Oppenheimer. Lawrence memperingati Oppenheimer untuk tak lagi menghadiri aktivisme kiri jika ingin direkrut sebagai anggota Manhattan Project.

Di titik inilah penonton berhadapan dengan karakter Leslie Groves (Matt Damon), pejabat militer AS yang ditugaskan mengawasi proyek. Meski sering sering digambarkan tak sepintar fisikawan lain, Groves justru memilihnya menjadi pimpinan Project Y (laboratorium rahasia di Los Alamos, bagian dari Manhattan Project).

Mungkin ia melihat jiwa pemimpin dan hasrat birokratis dalam diri Oppenheimer. Namun, justru masa lalu Oppenheimer di politik kirilah yang meyakinkan Groves untuk merekrutnya. Catatan “hitam” itu membuat Oppenheimer lebih mudah dikendalikan.

Di ranah domestik, kita diberi lihat rumah tangga Oppenheimer yang berantakan. Kitty, yang dulu menekuni biologi, masih terdampak kegagalan dua pernikahannya yang dulu. Ia larut bersama alkohol dan menelantarkan putra mereka, Peter, sampai-sampai Oppenheimer menitipkannya ke rekan sejawat.

Sebagai thriller tentu film ini membutuhkan karakter antagonis yang kuat. Sosok itu diemban karakter Lewis Strauss (Robert Downey Jr.), pebisnis-politisi yang kerap bersitegang dengan Oppenheimer, dan menjalankan operasi rahasia untuk mengontrol Oppenheimer.

Tiga tokoh tadi—Groves, Kitty, dan Strauss—bersinar sesuai porsi, mengiringi Murphy yang berakting sangat mengesankan sepanjang film. Keempat tokoh ini adalah contoh unggul studi karakter (“character study”) dalam film, lawan dari karakter berbasis plot (“plot-driven character”). Dan itu tidak bisa berjalan jika film ini memiliki tujuan yang jelas.

Film dibagi menjadi dua sudut pandang, yaitu “fission” dan “fusion”. Yang pertama digelar berwarna sementara yang satu tampil hitam putih. Keduanya hadir silih berganti, menyesuaikan sudut pandang Oppenheimer dan Strauss. Fission adalah realita dari kacamata Oppenheimer; fusion sudut pandang Strauss.

Seperti The Social Network, kejadian-kejadian di masa lalu ditampilkan oleh banyak narator. Agar tak terlihat seperti dongeng sebelum tidur, cerita dituturkan tokoh dalam bentuk interogasi atau wawancara. Cara serupa pernah juga dipakai Oliver Stone dalam JFK (1991).

Dua tokoh utama dalam interogasi kerap terlihat merenung. Bukan untuk sekadar mengingat, tapi juga merefleksikan tindakan-tindakan mereka. Porsi utama memang milik Oppenheimer. Namun Robert Downey Jr. menunjukkan tajinya sebagai aktor kawakan yang tahu jatah.

Strauss, yang memberi jabatan bergengsi (plus fasilitas mewah) untuk Oppenheimer di Princeton, ternyata pendendam ulung. Oppenheimer pernah menjegal niat Strauss mengekspor radioisotop ke negara lain, sekaligus mempermalukannya di depan publik. Ia juga ngotot menolak pengembangan bom hidrogen (termonuklir), berkebalikan dengan hasrat Strauss. Terfatal, Strauss sangat yakin Oppenheimer menghasut Einstein untuk membencinya.

Dua ego ini sama-sama roboh bukan karena saling berhadapan. Dewan yang menyidang Oppenheimer memutuskan untuk mencekalnya; langkah politik Strauss untuk menjadi Menteri Perdagangan pun terjegal karena perbuatan semena-menanya kepada Oppenheimer.

Transformasi karakter Groves dan Kitty terpancar di sepertiga akhir film. Seiring film berjalan kita melihat bintang di seragam Groves terus bertambah: Menandakan bahwa kinerjanya di Manhattan Project diapresiasi pemerintah. Ia berhasil menandingi kekeraskepalaan Oppenheimer dalam menangani proyek.

Kitty, khawatir akan perlakuan pemerintah pada suaminya, yang tentu berimbas pada periuk rumah tangga mereka, tak lagi pasif dan defensif. Dalam suatu adegan ia muntab luar biasa di hadapan Oppenheimer dan para pengacara. Membuat Saya yakin bahwa Piala Oscar untuk Emily Blunt cuma soal waktu.

Usai Bom Dijatuhkan

Uji coba bom Trinity yang diletakkan di tengah film adalah pilihan strategis sekaligus menggetarkan secara naratif.

Keberhasilan Trinity akan menentukan nasib berbagai negara. Milyaran dolar telah dikucurkan pemerintah AS demi mengungguli lawan-lawannya. Dan saat Trinity meledak, cahaya radiasi menyilaukan mata penonton, sekaligus menampakkan dengan jelas ekspresi wajah para ilmuwan dan pejabat pemerintah di layar.

Mereka telah berhasil dan tahu bahwa perang akan mereka menangkan. Sebagian besar girang luar biasa. Yang lain takjub, menganga tak bersuara. Hanya Oppenheimer yang gundah gulana.

Ihwal perang, sastrawan Amerika Ernest Hemingway—yang pernah menjadi sopir ambulans selama Perang Dunia 1—menulis begini:

Saat terlibat perang maka cuma ada satu jalan yang mesti kita tempuh. Ia harus dimenangkan. Kekalahan hanya mendatangkan hal buruk, yang jauh lebih pedih dari apa pun yang terjadi saat perang.

Peledakan Trinity diletakkan di tengah film karena sejarah mencatat bahwa dua bom itu tak benar-benar menghentikan perang—sebagaimana yang ditakutkan Oppenheimer.

Penggunaan frasa ‘perang dingin’ untuk menggambarkan iklim geopolitik pasca Perang Dunia 2 terasa seperti kecap kecut. Apanya yang dingin jika perang proksi berkobar panas di banyak negara; di Iran, Afghanistan, Korea Utara-Selatan, hingga Vietnam?

Enam dekade pasca tragedi Hiroshima-Nagasaki, ribuan pesawat tanpa awak dan drone Amerika serta Rusia membantai warga sipil di tempat-tempat seperti Suriah dan Yaman.

Oppenheimer tidak larut dalam euforia walau orang-orang mengelu-elukannya. Pikirannya justru mengembara ke sudut kelam: Bagaimana jika merekalah—warga AS—yang tewas karena bom atom? Dalam khayal, ia melihat kulit seorang gadis terkelupas sementara kakinya menginjak seonggok tubuh yang gosong.

Pasca mengalami Resesi Besar di dekade 1930an, masyarakat AS muak dengan keputusan negaranya berlaga di Perang Dunia 2. Ribuan anak muda mesti menyabung nyawa ribuan kilometer dari rumah, membuat tanah Amerika melahirkan banyak janda dan yatim. Bom atom membuat masyarakat Amerika terbius ilusi: Perang akan berhenti!

Mereka, seperti anda tahu, salah. Namun bukankah optimisme macam itu pula yang membuat anak-anak muda menculik Sukarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok; memaksa mereka segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia?

Jika hidup di masa itu saya bertaruh kita pun akan memuja Oppenheimer. Bukankah perlakuan Jepang terhadap kita sedemikian bengisnya? Mereka bahkan menjadikan ratusan ribu perempuan dari berbagai bangsa sebagai budak seks (jugun ianfu).

Di situasi macam ini kapasitas moral kita sebagai manusia—yang fana tapi takut mati—berhadapan dengan tebing dilema. Tapi, tenang saja. Bukan tangan kita yang berlepotan darah. Seperti tergambar dalam film, Oppenheimer-lah, si Prometheus Amerika, yang memanggul beban itu. Seorang diri. []

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x