Kawan-kawan dari Philadelphia

Oleh: John Updike

Sesaat sebelum pintu terbuka untuknya, ia melirik paha perempuan itu di sela-sela pintu bagian bawah. Ini menandakan Thelma sedang berada di rumah. Ia mengenakan kaus Camp Winniwoho dan celana yang cukup pendek.

“Ya, ampun: Jahnny!” jeritnya. Ia selalu melafalkan namanya, John, seirama dengan “Ann.” Di awal musim panas itu, ia berkunjung ke kota New York, lantas berbicara dengan cara yang ia rasa digunakan orang-orang di sana.

“Apa gerangan yang membuatmu mampir di jam seperti ini?”

“Halo, Thel,” kata John. “Kurasa—aku kira ini waktu yang tidak tepat.” Thelma baru saja mencabuti kedua alisnya lagi. John berharap ia tak melakukan itu. Thelma merentangkan lengan dan menyentuh jemarinya di permukaan leher John. Ini bukan gerakan penuh kasih, lebih menyerupai pramusaji. “Duh, Jahnny. Kamu tahu kalau aku—ibuku dan diriku—selalu senang menjumpaimu. Ibu, tebak siapa yang berkunjung sekarang?”

“Jangan biarkan John Nordholm berdiri di sana,” Ny. Lutz berkata. Ibu Thelma sedang duduk di atas sofa panjang berwarna merah, menonton televisi dan merokok. Sebuah cangkir kopi yang digunakan sebagai asbak terletak di pangkuannya, dan bajunya agak tersingkap sehingga lututnya kelihatan.

“Halo, Ny. Lutz,”  ucap John, menahan diri untuk tak melihat ke lututnya yang lebar dan pucat. “Aku sungguh sebal harus mengganggumu di waktu seganjil ini.”

“Aku sama sekali tidak merasakan adanya keganjilan.” Ia mengisap rokok dalam-dalam lalu mengembuskannya lewat lubang hidung, seperti cara lelaki. “Beberapa bocah berada di sini beberapa saat yang lalu.”

“Aku mungkin saja datang jika mereka memberitahuku.”

Thelma berkata, “Oh, Janny! Berhentilah menyalahkan diri sendiri. Selalu terhubung, kata orang, jika kamu ingin terus mengetahui keadaan.”

John merasakan wajahnya memanas dan tahu ia tersipu, yang membuatnya semakin tersipu. Ny. Lutz mengguncangkan sebungkus Herbert Tareytons yang lecek kepada John. “Rokok?” ucapnya.

“Kurasa tidak, terima kasih.”

“Kamu sudah berhenti? Ini kebiasaan buruk. Aku berharap telah berhenti waktu seusiamu. Aku bahkan tak yakin sudah kecanduan di usiamu sekarang.”

“Tidak, aku harus berada di rumah sesaat lagi, dan ibuku dapat mencium aroma rokok dari napasku. Dia bahkan bisa mengendusnya meski aku mengunyah permen karet.”

“Mengapa buru-buru?” tanya Thelma.

Hidung Ny. Lutz menghirup. “Aku punya sinus. Aku bahkan sekarang tak mampu mencium bau bunga-bunga di taman atau makanan di atas meja. Biarkan anak-anak merokok jika mereka mau, bila itu membuat mereka merasa lebih baik. Aku tak peduli. Thelmaku, dia boleh merokok di rumahnya, di kamarnya sendiri, jika dia mau. Tapi dia kayaknya tidak mampu merasakan nikmatnya rokok. Aku senang dengan itu, kalau boleh jujur.”

John benci menyela, tapi sekarang sudah hampir setengah enam. “Aku punya masalah,” katanya.

“Sebuah masalah—betapa suram,” kata Thelma. “Kupikir ya, Bu, aku ini digemari panggilan sosial.”

“Jangan bicara seperti itu,” kata Ny. Lutz.

“Ini agak rumit,” John memulai.

“Bicara seperti apa, Bu? Seperti apa?”

“Mari kumatikan ini dulu,” ucap Ny. Lutz, memencet tombol sebelah kanan televisi.

“Oh, Ibu, aku kan sedang menonton!” Thelma meringkuk di kursi, menekuk kedua kakinya. Ketika dia merajuk, John pikir, dia terlihat mengagumkan.

“Sebenarnya bukan masalah yang terlalu rumit,” kata John meyakinkannya. “Tapi kami memiliki beberapa tamu untuk makan malam dari Philadelphia.” Ia beralih ke Thelma lalu menambahkan, “pada dasarnya, malam ini aku tidak bisa ke mana-mana.”

“Hidup ini sungguh penuh, penuh dengan beragam kekecewaan,” kata Thelma.

“Masak, sih?”

“Terlalu penuh,” kata Thelma.

Ny. Lutz menepuk-nepuk pahanya. “Kembali ke orang-orang Philadelphia ini.”

John berkata, “Barangkali tidak seharusnya aku mengganggumu.” Ia menanti, tapi Ny. Lutz malah terlihat semakin sabar, maka ia melanjutkan omongannya. “Ibuku ingin menyuguhi mereka anggur, tapi Ayahku belum pulang dari sekolah. Dia mungkin belum kembali sebelum toko minuman tutup. Tutup jam enam, kan? Ibuku sibuk membersihkan rumah, maka aku yang berangkat.”

“Dia membuatmua berjalan sejauh ini? Kasihan sekali, bisakah kamu menyetir?” tanya Ny. Lutz.

“Tentu saja bisa. Tapi usiaku belum enam belas.”

“Kamu terlihat lebih tinggi dari anak lima belas tahun.”

John melirik Thelma untuk mengetahui bagaimana reaksinya soal perkataan ibunya tersebut, namun Thelma pura-pura membaca sebuah novel pinjaman bersampul plastik.

“Aku telah berjalan jauh ke toko minuman,” kata John pada Ny. Lutz, “namun mereka tak mau memberikanku apa pun kecuali ada izin tertulis. Yang melayani orang baru.”

“Kemuramanmu telah terbagi padaku,” kata Thelma, seolah-olah ia baca dari buku.

“Jangan pedulikan, John,” kata Ny. Lutz. “Frank akan segera sampai di rumah. Mengapa tidak menunggunya untuk mengantarmu membeli sebotol anggur tersebut?”

“Itu terdengar menyenangkan. Terima kasih banyak, sungguh.”

Tangan Ny. Lutz serta-merta memencet tombol televisi. Seorang pria tersenyum sedang bermain piano. John tidak mengenalnya; tidak ada satu televisi pun di rumahnya. Mereka menonton dalam kesunyian sampai Tn. Lutz mengentakkan kakinya di teras luar. Botol-botol susu kosong berdenting, seakan-akan sedang dibenturkan. “Dengar, jangan terkejut kalau dia agak mabuk,” kata Ny. Lutz.

Sebenarnya, dia malah tidak tampak mabuk sama sekali. Ia terlihat seperti seorang suami bahagia di film-film. Ia memanggil Thelma sebagai pai lapis kecilnya dan mengecup keningnya; lantas ia memanggil sang istri sebagai pai lapis besarnya dan mencium bibirnya. Lalu ia menjabat tangan John dengan formal dan berkata betapa sangat, sangat senang ia menjumpainya di sini dan bertanya kabar orang tua John. “Apa orang-orang konyol itu masih ada di televisi?” ucapnya pada akhirnya.

“Ayah, mohon beri perhatian pada orang lain,” ujar Thelma sembari mematikan televisi. “Janny mau bicara denganmu.”

“Maka aku bersedia berbicara dengan Johnny,” kata ayah Thelma. Ia sekonyong-konyong merentangkan kedua lengan, sambil membuka-tutup kepalan tangannya. Dia pria yang besar, dengan rambut kelabu tercukur di atas telinganya, yang mana terlihat kecil dan rata di kepalanya. John tak mampu menemukan kata-kata untuk memulai.

Ny. Lutz menjelaskan tugas John. Ketika ia selesai, Tn. Lutz berkata, “Orang-orang dari Philadelphia. Kutebak nama mereka bukan William L. Trexler, ya?”

“Bukan. Aku lupa nama mereka, itu saja. Si lelaki seorang insinyur. Si perempuan kuliah di tempat yang sama dengan ibuku.”

“Oh. Orang-orang kuliahan. Maka kita harus memberi mereka sesuatu yang sangat, sangat enak, kupikir.”

“Ayah,” kata Thelma. “Kumohon. Toko sebentar lagi tutup.”

“Tessie, kamu dengar ucapan John. Orang-orang kuliahan. Orang-orang dengan gelar sarjana. Dan ini menjelang waktu tutup, maka siapa yang tidak bergegas?” Dia meraih pundak John di tangan kesatu dan lengan Thelma di tangan yang lain lantas menggegas mereka menuju pintu. “Kami akan kembali sebentar lagi, Mama,” katanya. “Hati-hati saat menyetir,” ujar Ny. Lutz dari pagar yang kelam.

Tn. Lutz mengendarai Buick biru yang besar. “Aku tidak pernah kuliah,” katanya, “namun aku bisa membeli mobil kapan pun aku mau.” Nadanya tidak angkuh, tapi lembut dan penuh pengandaian.

“Oh, Ayah, jangan mulai lagi,” ucap Thelma, menggoyangkan kepalanya pada John, supaya ia mengerti apa yang harus Thelma rasai setelahnya. Ketika dia bertingkah seperti itu, John pikir, aku sanggup menggigit bibirnya sampai berdarah.

“Pernah menyetir mobil semacam ini, John?” tanya Tn. Lutz.

“Tidak. Satu-satunya hal yang bisa kukendarai adalah Plymouth orangtuaku, dan itu tak terlalu bagus.”

“Mobil tahun berapa?”

“Aku tak tahu persis.” John padahal tahu betul mobil itu model tahun 1940, yang dibeli bekas pasca perang. “Mobil itu punya kopling gigi. Ini otomatis, ya?”

“Pergantian otomatis, transmisi yang cair, lampu-lampu pemandu jalan, macam-macam,” kata Tn. Lutz. “Nah, bukankah lucu, John? Di satu sisi ayahmu, pria terpelajar, dengan Plymouth bututnya, sementara aku, yang tidak pernah membaca lebih dari sepuluh, dua puluh buku sepanjang hidupku … kupikir tidak ada keadilan di situ.”

Ia memukul-mukul setir, menyesuaikan posisi tubuh dengan mobil, meluruskannya tiba-tiba, lalu berkata, “Kamu mau mengendarainya?”

Thelma berkata, “Ayah menanyakan sesuatu padamu.”

“Aku tidak tahu caranya,” kata John.

“Ini sangat mudah dipelajari, sangat mudah. Kamu tinggal gerakkan sedikit—ayolah, hari semakin malam.” John berpindah ke kursi kemudi. Ia memperhatikan ke kaca depan. Ini mobil yang lebih lebar dibanding Plymouth; bagian moncongnya terlihat selebar perahu.

Tn. Lutz memintanya untuk mendorong tuas di balik setir. “Kamu tekan tuas itu sedemikan, nah seperti itu, dan sesuaikan dengan salah satu dari kopling. ‘P’ untuk parkir—saat kamu tidak ke mana-mana. ‘N,’ artinya ‘netral,’ sama seperti mobil yang kau punya, aku jarang menggunakannya, ‘D’ berarti drive, ‘jalan’—taruh saja di situ dan biar mobilnya yang melakukan segalanya untukmu. ‘L’ berarti low, ‘rendah,’ untuk perbukitan yang curam, naik atau turun. Dan ‘R’ berarti—apa?”

Reverse. Mundur,” kata John.

“Sangat, sangat bagus. Tessie, dia bocah yang pintar.  Dia takkan pernah memiliki mobil baru. Dan ketika kau meletakkannya bersama-sama, kau akan mengingatnya sesuai urutan dengan kata-kata ‘Paint No Dimes Light Red.’ Aku merangkainya ketika mengajari gadis tertuaku menyetir.”

Paint No Dimes Light Red,” kata John.

“Sempurna. Sekarang, mari.” Dia menjangkau dan meletakkan kunci di kenop, kunci-kuncinya yang lain bergemerincing.

Sebuah gelembung memuai dalam perut John. “Gigi yang mana ketika kita mau mulai jalan?” tanyanya pada Tn. Lutz.

Tn. Lutz pasti tidak mendengarnya, karena yang dia katakan hanya “Ayo” lagi, lantas ia menabuhi dasbor dengan ujung jari-jarinya. Jari-jarinya yang tebal, bundar, dan berbulu.

Thelma mencondongkan tubuh dari kursi belakang. Pipinya hampir menyentuh telinga John. Ia berbisik, “Taruh di ‘D.’”

John melakukannya, lalu mencari starter. “Bagaimana cara dia menyalakan ini?” tanyanya pada Thelma.

“Aku tak pernah memerhatikannya,” ujarnya. “Ada suatu tombol di mobil yang lama, tapi aku tak melihatnya di mobil ini.”

“Injak pedalnya,” pekik Tn. Lutz, memandang lurus ke depan dan tersenyum, “dan meluncurlah kita. Dan ah, ah, meluncuuurlah kita.”

“Sudah injak saja pedal gasnya,” saran Thelma. John menekannya dengan lembut, demi menjaga kakinya agar tidak gemetar. Mesin pun menderu dan mobil terempas dari jalan. Dalam satu blok, bagaimana pun juga, ia bisa mengemudikannya dengan cukup baik.

“Mobil ini berjalan seperti perahu di perairan yang tenang,” katanya pada dua penumpangnya. Caranya menjabarkan hal ini menyenangkan hatinya.

Tn. Lutz memicingkan mata. “Seperti apa?”

“Seperti perahu.”

“Jangan terlalu ngebut,” kata Thelma.

“Mesinnya tenang sekali,” kata John menjelaskan. “Seperti kucing tidur.”

Tanpa peringatan, sebuah truk menyerobot dari Jalan Pearl. Tn. Lutz, mencoba mengerem, menjejakkan kakinya di celah kosong di depannya. John tidak sanggup menahan tawa. “Aku melihatnya,” katanya, seraya memelankan laju mobil agar truk itu punya cukup ruang untuk menyalip. “Truk-truk itu berpikir mereka yang memiliki jalanan,” ucapnya. Dia membiarkan sebelah tangan lepas dari kemudi. Dengan satu tangan, ia menyalip sebuah bus. “Berapa kecepatannya di atas jalan raya?”

“Pertanyaan bagus, John,” kata Tn. Lutz. “Dan aku tak tahu jawabannya. Sembilan puluh, mungkin.”

“Spidometernya menunjukkan di atas seratus sepuluh.” Jeda kembali—tak seorang pun hendak berkata-kata. John berujar, “Gila. Bayi pun bisa melajukan mobil seperti ini.”

“Contohnya kamu,” kata Thelma. Itu menandakan gadis itu menyadari betapa piawainya John dalam menyetir.

Terdapat banyak mobil di depan toko minuman, sehingga John mesti memarkir Buick besar itu bersisian dengan mobil lain. “Itu sudah cukup, sudah cukup,” kata Tn. Lutz. “Jangan terlalu mepet, woi!” Dia telah berada di luar mobil sebelum John benar-benar menghentikannya. “Kau dan Tessie tunggulah di sini,” ucapnya. “Aku akan masuk membeli minuman.”

“Tn. Lutz. Hey, Tn. Lutz,” panggil John.

“Ayah!” Thelma memekik.

Tn. Lutz kembali. “Sekarang apa, bocah-bocah?” Nada beliau, John sadari, menjadi tinggi. Barangkali dia mulai lapar.

“Ini uang yang mereka beri padaku.” John menarik dua lipat dolar dari kantung kecil celana jinsnya. “Ibuku bilang untuk membeli sesuatu yang tak mahal tapi bagus.”

“Tak mahal tapi bagus?” ulang Tn. Lutz.

“Dia bilang semacang sherry California.”

“Jadi dia bilang apa sebenarnya, beli atau tidak?”

“Kurasa beli.”

“Nah.” Tn. Lutz melenting dari mobil dan kembali berjalan menuju toko seraya tetap berkata. “Kau dan Tessie tunggu di mobil. Jangan ke mana-mana. Aku hanya sebentar.”

John bersandar di kursinya dan dengan punuh kelegaan meletakkan sebelah tangan di setir bagian atas. “Aku menyukai ayahmu.”

“Kamu tidak tahu bagaimana ia memperlakukan ibu,” kata Thelma.

John mengamati garis bersih di bawah pergelangan tangan dan jempolnya. Ia menggerakkan pergelangan tangan dan memperhatikan otot-otot kecil bergerak di lengannya. “Kamu tahu apa yang kubutuhkan?” katanya. “Jam tangan.”

“Oh, Jan,” ucap Thelma. “Berhenti mengagumi tanganmu sendiri. Itu menjijikkan.”

Secercah senyum teruntai di bibirnya, namun ia membiarkan jemarinya yang kuat dan canggung tetap seperti itu. “Aku rela menebus jiwaku demi sebatang rokok sekarang.”

“Ayah menyimpan sebungkus rokok di laci,” kata Thelma. “Aku bisa mengambilnya andai saja kukuku tak terlalu panjang.”

“Buka, yuk,” ucap John. Dan dia membukanya. Mereka menarik sebatang rokok dari sebungkus bekas Old Golds yang mereka temukan lantas mengisapnya silih-berganti. “Ah,” kata John, “isapan pertama itu, yang mencakar-cakar dan menggoresi tenggorokanmu.”

“Waspada dengan Ayah. Ia benci aku merokok.”

“Thelma.”

“Ya?” Dia memandang dalam ke mata John, wajahnya setengah tenggelam dalam bayang-bayang.

“Jangan cabuti alismu.”

“Kupikir ini terlihat bagus.”

“Alis itu sama halnya dengan caramu memanggilku ‘Jan.’” Ada keheningan, namun tidak canggung.

“Singkirkan rokoknya, Jan. Ayah baru saja melintasi jendela.”

Berada di toko minuman telah membuat Tn. Lutz dalam kondisi sadar. “Ini punyamu, John,” katanya, dalam tata krama orang berbisnis. Ia mengangsurkan John botol berwarna merah velvet yang tinggi. “Lebih baik aku saja yang menyetir. Kau menyetir seperti veteran, tapi aku mengetahui jalan pintas.”

“Aku bisa berjalan dari rumahmu, Tn. Lutz,” kata John, tahu bahwa Tn. Lutz takkan membiarkannya berjalan kaki. “Terima kasih banyak atas segala bantuanmu.”

“Aku akan mengantarmu. Orang-orang dari Philadelphia itu biar saja menunggu. Kita takkan membiarkan anak muda ini berjalan jauh, kan, Tessie?” Tak ada yang tahu dengan apa mereka harus membalas kata-kata tersebut, maka mereka tetap terdiam sepanjang jalan, meski ada beberapa hal yang mengusik John.

Ketika mobil berhenti di depan rumahnya, sebuah rumah khas desa namun dekat dengan jalan, ia memberanikan dirinya bertanya, “Begini, Tn. Lutz. Kukira ada kembalian?”

“Apa? Oh. Ya ampun. Aku hampir lupa. Kau bisa membuat ayahmu berpikir aku ini begundal.” Ia merogoh kantungnya dan tanpa menatap memberikan John satu dolar dan beberapa receh.

“Ini sepertinya terlalu banyak,” kata John. Anggurnya pasti murah. Dia merasa mungkin lebih baik ibunya menelepon ayah di sekolah untuk membelinya, seperti yang ia kehendaki di awal.

“Itu kembalianmu,” kata Tn. Lutz.

“Wah, terima kasih banyak.”

“Sampai jumpa, kawanku,” kata Tn. Lutz.

“Sampai jumpa.” John menutup pintu. “Selamat tinggal, Thelma. Jangan lupa dengan apa yang kukatakan padamu.” Ia mengedipkan mata.

Mobil berbalik arah, dan John pun berjalan melangkah. “Jangan lupa dengan apa yang kukatakan padamu,” ulangnya pada diri sendiri, sambil berkedip. Botol itu terasa dingin dan berat di tangannya. Ia melirik pada label; terbaca Chateau Mouton-Rothschild 1937. ♦


John Updike adalah penulis kelahiran Pennsylvania, Amerika Serikat, 18 Maret 1932. Disebut-sebut sebagai salah satu penulis terbaik di generasinya dan kerap dibanding-bandingkan dengan Marcel Proust dan Vladimir Nobokov. Selain menulis novel dan cerpen, ia juga seorang kritikus sastra yang produktif dalam berkarya. Mahakaryanya adalah tetralogi Rabbit yang membuatnya meraih dua penghargaan Pulitzer. Ia sering menulis di majalah New Yorker, institusi yang menempanya sebagai penulis. Updike wafat pada 27 Januari 2009.

Cerpen ini berjudul asli “Friends from Philadelphia”, yang terdapat di kumpulan cerpennya, The Early Stories: 1953-1975 (Alfred A. Knopf, 2003).

Kredit foto: Terry Fleckney.

Bagikan:
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x